1 views

Kelewat Pede

SEHARIAN kemarin Gilang terlibat diskusi dengan teman satu timnya, setelah mereka kalah melawan tim yang tidak diunggulkan dalam kejuaraan sepakbola.

Sampai petang, diskusi itu tak menghasilkan apa-apa. Kecuali saling menyalahkan antar sesama dan mengancam keutuhan tim kedepannya.

Sesampai di rumah, selepas makan malam, sambil membuka buku pelajaran, Gilang menceritakan semuanya pada Dinda.

“Tim adek itu kelewat pede! Itu aja sih kunci kekalahannya!” tanggap Dinda.

“Kok gitu, mbak?!”

“Ya iyalah, dek! Kan tim adek ngerasa paling solid! Paling tangguh! Punya pemain juga bagus-bagus! Jadi akhirnya kelewat pede dan menganggap lawan lemah!” jelas Dinda.

“Bukan kelewat pede kali, mbak! Tapi percaya diri!” sela Gilang.

“Kalo yang mbak nilai sih bukan lagi percaya diri lo, dek! Kalo percaya diri itu tetep ada waspadanya! Tetep ada rendah dirinya! Lha nyatanya, sudah kalah pun, pas diskusi buat nyari kelemahan guna perbaikan kedepannya kan nggak ketemu juga! Jadi sebaiknya, adek ganti deh timnya! Ambil pemain-pemain baru yang belum ke-pede-an!”

“Lho, kok malah suruh ganti pemain to, mbak? Itu kan bukan solusi?!” ujar Gilang.

“Ya itu solusinya, dek! Adek perlu tau ya, seorang psikolog amerika namanya Susan Cain pernah bilang begini; orang yang pede cenderung bicara vokal dan ungkapkan pendapat dengan lebih baik, namun banyak dari idenya tidak selalu benar! Nah, adek diskusi sama temen-temen satu tim seharian kan cuma berdebat nggak karuan aja, nggak ada solusi atau kesadaran bagaimana menyelamatkan tim kedepannya kan? Ya itu karena anggota tim adek sudah pada ke-pede-an semua! Mungkin karena selama ini selalu menang, jadi nganggep enteng tim lawan yang kelihatannya lemah!” urai Dinda.

“Iya juga sih, mbak! Semua pada ngebenerin dirinya sendiri aja! Nggak ada yang mau mengakui kalo kelengahannya menjadikan tim kami kalah gini! Selain ganti anggota tim, ada nggak solusinya ya mbak?!” kata Gilang.

“Tentu ada solusi lain, dek! Yaitu dengan menurunkan tingkat ke-pede-an anggota tim bola adek! Tentu pelatih tau gimana caranya untuk itu! Tentu pelatih juga tau kalo Sun Tju pernah bilang; kenalilah musuhmu, juga kekuatanmu sendiri, dengan begitu akan kau menangkan bahkan 100 peperangan sekalipun! Jadi, kembalikan perbaikan mental tim adek ke pelatih aja ya! Mbak yakin kok, namanya pelatih pasti sudah paham akan apa yang harus diperbuatnya!” tutur Dinda.

“Iya kalo pelatihnya ngerti, mbak? Wong kami ribut diskusi aja dia cuma diem aja kok!?”

“Mbak yakin sang pelatih pasti ngerti kok, dek! Nggak bakal dia jadi pelatih kalo nggak paham dunia bola dengan segala dinamika dan kesiapan fisik mental pemainnya! Kalopun dia diem aja saat adek dengan temen-temen terlibat diskusi, ya itu salah satu cara dia untuk mencari pola terapi yang pas agar kedepannya tim adek nggak lagi kelewat pede! Dan hal terpenting dalam hidup adalah mencintai apa yang kita lakukan, karena hanya dengan cara itulah kita bisa menjadi hebat tanpa harus memandang rendah orang lain!” ucap Dinda lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *