Beradu Layangan

“YANG cepet ngegulung benangnya, mbak! Itu lawan ngajak main tarikan! Kalah cepet sedikit, layangan kita nyampe ke tangan dia nanti!” teriak Gilang sambil terus menggerakkan tangannya menarik benang yang tersambung ke layangannya yang masih di udara.

“Sudah kebut ini ngegulungnya, dek! Makanya adek sambil jalan nariknya, jadi nggak ngegumpel di satu tempat aja!” ujar Dinda yang sibuk menggerakkan gulungan benang ditangannya.

“Oke, mbak! Nyantai aja ya?! Ini lawan kita cuma mainin aja ternyata! Sekarang adek ulur lagi aja!”

“Tapi anginnya kenceng lo, dek! Nanti layangan kita naik tinggi, jauh dengan posisi layangan lawan! Kalo layangan kita putus, banyak bener benang yang hilang!” sela Dinda.

“Tenang, mbak! Benang kita kan gelasannya cukup kasar, dalam situasi angin yang kenceng gini, malah kuat gesekannya di benang lawan! Potensi menang kita lebih besar!” sahut Gilang dengan optimis.

Dan benar saja, hanya dalam beberapa menit kemudian, layangan lawan pun putus. Melayang terlepas dari rajutan benang ditangan pemainnya.

“Horeee…! Adek memang jagoan!” teriak Dinda kegirangan.

“Alhamdulilah ya mbak! Sore ini kita main beradu layangan menang tiga kali!” ucap Gilang.

“Iya ya dek! Sip pokoknya kita sore ini! Tapi itu di sebelah kiri ada dua layangan lagi, dek! Kita ajak beradu aja sekalian!”

“Nggak usah, mbak! Cukuplah kita main sore ini! Menang tiga kali dalam satu kali naikin layangan itu sudah maksimal, mbak! Jangan ikuti emosi!” kata Gilang.

“Lho, ya mumpung lagi bagus auranya, lanjutkan, dek! Sekalian kita kalahkan dua layangan yang masih beredar itu!” sahut Dinda.

“Jangan, mbak! Sulit kita untuk menang lagi! Percaya sama adek! Sekarang lebih baik kita turunin layangan kita ya?!” ujar Gilang sambil menarik turun layangannya.

Setelah menyelesaikan tugasnya menggulung benang, sambil membuka sarung tangannya, Dinda bertanya: “Dek, kenapa nggak mau nerusin beradu layangannya tadi?”

“Jadi gini lo, mbak! Kita kan sudah tiga kali mengadu layangan kita! Tiga kali juga benang lawan-lawan kita tadi mengiris benang kita! Sudah barang tentu, ada di sebagian benang kita yang menjadi rentan untuk putus! Kalo kita nggak bisa nahan diri, malah kekalahan yang kita dapatkan di peraduan layangan selanjutnya!” jelas Gilang.

“O gitu to, dek! Padahal kan angin lagi bagus, main tarik ulur adek juga kayaknya lagi enak bener! Gerakan adek memainkan layangan kita berputar-putar di layangan lawan juga begitu indah! Jadi mbak pikir, ya kenapa nggak dilanjutkan aja!” tutur Dinda.

“Iya, yang mbak bilang memang nggak salah! Segala suasana sore ini memang mendukung buat memainkan dan beradu layangan dengan enak! Tapi jangan lupa, dalam situasi semacam inilah kita mesti bisa mengendalikan diri, mbak! Kita harus tetep bisa berpikir jernih! Kita harus bisa menakar kekuatan benang kita!”

“Jadi harus banyak pertimbangan juga ya walau hanya sekadar mengadu layangan itu, dek?!”

“Ya iyalah, mbak! Termasuk mau pake benang dengan gelasan yang tipis atau yang agak gradak atau kasar! Itu diliat dari kuat nggaknya angin, mbak! Karena sore ini anginnya kenceng, jadi kita pake benang gelasan kasar! Dengan begitu gesekannya lebih cepat! Pun saat mengulurnya harus cepat, ditambah perputaran layangan di udara juga harus cepat! Hal kayak gitu juga harus diperhitungkan, mbak!”

“Nggak nyangka ya, ternyata beradu layangan juga banyak taktiknya!” ujar Dinda.

“Kita kan harus bersiasat dalam hal apapun, mbak! ada seninya yang harus kita pahami! Dan terkait dengan urusan siasat, strategi atau gaya main, itu beda orang ya beda pola, mbak! Jadi nggak harus sama! Yang penting kan tujuan dan hasil akhirnya tetep ke satu titik: menang! Membuat layangan lawan putus dari benangnya dan melayang-layang terbawa angin entah sampai dimana! Itu fatsunnya, mbak!”

“Gimana kalo pas ketemu lawan nggak tahunya gayanya sama, dek? Kan runyam jadinya!”

“Ya nggak jugalah, mbak! Bagi orang yang sudah teruji dalam mengadu layangan, tetep bisa ditemukan trik yang dapat mengalahkan pola sang lawan! Disinilah yang namanya ketenangan, kesepahaman, dan keyakinan jadi pertaruhan! Jadi, kalo dalam sebuah permainan mbak temukan ada yang berbeda gaya, jangan buru-buru menyimpulkan orang itu nggak sepemahaman lagi! Karena yang penting tujuan tercapai, bukan soal gaya mainnya!” jelas Gilang sambil mengajak Dinda menaruh layangan dan benangnya di garasi rumah. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *