5 views

Ngurusi Taman

DINDA minta Gilang telepon ke rumah untuk diantarkan kaosnya ke sekolah.

“Memangnya kaos olahraga mbak kenapa? Kan tadi sudah bawa?” tanya Gilang.

“Kaos mbak kan sudah kotor gini, dek! Mana basah sama keringet! Nanti badan mbak malah bisa jadi gatel semua!” ucap Dinda.

“Kok bisa ya, mbak…?!”

“Ah sudah, nggak usah banyak tanya! Adek telepon ke rumah, minta dianter kaos mbak yang lain! Nanti aja ceritanya!”

Setelah telepon ke rumah, sekitar 30 menit kemudian kaos pesanan Dinda sudah datang dan Gilang berikan ke Dinda: “Ini kaosnya, mbak!”

“Makasih ya dek! Mbak ganti kaos dulu ya!” kata Dinda sambil menjawil dagu Gilang dan berlari ke kamar mandi.

Gilang menunggu Dinda berganti kaos di depan kamar mandi. Begitu Dinda keluar, Gilang nyeletuk: “Katanya mau cerita, sekarang aja ceritanya, mbak!”

“Ya udah, pegang dong kaos kotor mbak ini dulu ya?!” sela Dinda sambil berikan kaos kotornya ke Gilang.

“Bukannya cerita dulu malah ngasih kaos kotor!” ketus Gilang.

Sambil nyengir, Dinda berucap: “Kaos mbak ampe kotor kayak gitu karena tadi disuruh ngurusin taman!”

“Ngurusin taman? Kan jam pelajaran olahraga, kok malah ngerawat taman sih, mbak?”

“Ya disuruh guru begitu, adek?! Mau ngebantah? Nggak mungkinkan?!”

“Ya aneh aja sih, mbak! Urusan¬† ngurusin taman sama pelajaran olahraga kan nggak ada kaitannya!” ucap Gilang, terheran.

“Ya memang nggak ada olahraga jenis ngerawat taman, dek! Cuma kata guru, pada intinya kan sama aja, sama-sama keluar keringet!” jelas Dinda.

“Dan mbak sama temen-temen nurut aja? Aneh dan lucu emang dunia ini ya?!”

“Ya nggaklah, dek! Apa aneh dan lucunya? Karena kata pak guru, sebenernya yang berprofesi sebagai pengurus taman itu buanyak! Itu profesi yang tercatat berdasarkan surat keputusan alias SK! Tapi yang benar-benar menjalankan tugas sesuai SK-nya, bisa dibilang nggak ada! Makanya, biar kami paham gimana susahnya ngurusin taman, sejak sekarang diajak melakukannya! Biar nanti kalo sudah waktunya kerja dan dapet SK sebagai pengurus taman berani menolak!” kata Dinda.

“Emang yang dimaksud sebenernya pengurus taman itu dimana sih, mbak? Adek nggak nyambung lo!” tanya Gilang.

“Cerita pak guru tadi, bisa dibilang hampir 90% tenaga honor alias PTHL yang ada di lingkungan pemerintahan, baik kabupaten, kota maupun provinsi, berdasarkan SK-nya bertugas sebagai pengurus taman! Selebihnya sebagai sopir, penjaga malam atau petugas kebersihan! Tapi dalam kenyataannya, bisa dipastikan nggak ada yang menjalankan tugas sesuai dengan SK pengangkatannya!”

“Kok bisa ya, mbak? Harusnya ya ada sanksi dong kalo nggak jalani tugas sesuai SK-nya?!”

“Kenyataannya begitu, adek! Bahkan kalo ke kantor, itu tenaga honor tampilannya lebih keren dan mentereng ketimbang ASN! Rata-rata pake kendaraan roda empat lagi! Dan hal kayak gini, nurut guru tadi ya, memang sudah lazim!”

“Itu kelaziman yang nggak lazim, mbak! Mestinya ya ada kejelasan dong! Kalo tugasnya pengurus taman, ya ngurusin taman! Kalo SK-nya jadi penjaga malam, ya mestinya jam kerjanya ya waktu malam, kan gitu mbak!” tutur Gilang.

“Kalo bicara yang sebenernya ya seharusnya begitu, dek! Tapi kenyataannya kan nggak begitu! Para tenaga honor itu kesehariannya ya duduk anteng di kantoran! Yang bisa komputer ya bantu-bantu kerjaan ngetik surat! Yang nggak bisa apa-apa, ya yang penting absen aja! Itulah enaknya jadi tenaga honor itu, dek! Nggak kerja sesuai SK juga nggak dipersoalkan! Bahkan yang nandatangan SK pun nggak pernah merasa tersinggung kalo ternyata yang dikasihnya kesempatan kerja itu nggak jalankan tugas sesuai yang diberikannya!”

“Aneh dan lucu ternyata ya dunia ini, mbak! Di satu sisi ada penegakan disiplin sesuai tupoksi, di sisi lain yang nyata-nyata kerja nggak sesuai SK dibiar-biarin aja!”

“Ya itulah kenyatannya, dek! Makanya pak guru tadi ngajak kami ngerawat taman sekolah ini! Maksudnya agar kami jangan sampai ngikut trend dapet kerjaan sebagai tukang taman atau kebun, tapi enak-enakan duduk di ruangan ber-ac aja! Kalo ngarepin perubahan dari sekarang, kata pak guru, kayaknya cuma mimpi! Jadi harus dilahirkan generasi baru yang tidak bermental sekelas perawat taman yang tak ngerti pekerjaan sesungguhnya!” beber Dinda. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *