Kapten Baru

SAMBIL siul-siul, Gilang masuk rumah dengan wajah ceria sepulang latihan futsal.

“Wah, ceria bener, dek?! Ada cerita apa nih?!” kata Dinda menyambut Gilang seraya mengambil tas olahraganya.

“Tim adek sekarang punya kapten baru, mbak! Jago mainnya! Sulit lawan ngelewati dia! Caranya ngoper-ngoper bola juga oke banget! Bawaannya juga slow!” urai Gilang masih dengan wajah ceria.

“Syukur kalo begitu, dek? Yang anak baru itu ya?”

“Iya mbak! Anak yang baru enam bulan pindah ke sekolah kita itu! Hebatnya, cuma dalam waktu tiga bulan gabung sudah dipercaya pelatih jadi kapten!”

“Emang bagus mainnya ya dek?!” tanya Dinda.

“Iya, bagus mbak! Jago banget malahan! Kalo nge-takling lawan itu bersih bener, nggak pernah kena semprit wasit! Main operannya juga bagus! Dengan dia jadi kapten baru, ada sugesti tersendiri buat tim!” jawab Gilang.

“Ya berarti di sekolah sebelumnya dia juga sudah jadi pemain bagus, dek! Sudah sering ikut pertandingan-pertandingan! Jadi berpengalaman! Tapi mentalnya gimana, dek?!”

“Maksudnya mentalnya gimana itu kayak mana, mbak?!” sela Gilang.

“Ya kalo soal mainkan oke-lah ya! Tapi sebagai kapten kan nggak cukup hebat mainnya aja, dek! Perlu juga dilihat kepemimpinannya, kemampuannya menjaga soliditas tim, karakternya yang baik dan juga loyalitasnya!” ucap Dinda.

“Ya kayaknya sih oke-oke aja juga, mbak! Yang adek tau, memang sejak masuk tim, dia kerjaannya banyak main di rumah pelatih, mbak! Bahkan bisa dibilang lebih banyak nongkrong di rumah pelatih ketimbang di rumahnya sendiri!”

“O gitu ya? Yang adek tau ngapain aja dia di rumah pelatih itu?!”

“Yang adek tau, ya nongkrong aja sih, mbak! Kalo pelatih lagi ada kesibukan, ya dia duduk di teras belakang! Pas pelatih agak senggang, dia ngajak ngobrol!”

“Berarti dia pinter, dek! Dia pake pola kuantitas untuk bisa masuk ke pelatih! Perlahan tapi pasti dia pahami apa aja kesukaan pelatih, gimana gayanya! Ya wajar kalo kemudian dipercaya jadi kapten, dek! Karena sudah terbangun chemistry antar mereka!” kata Dinda.

“Emang harus ngedeket-ngedeket pelatih gitu tah mbak kalo mau jadi kapten?” sela Gilang.

“Membangun komunikasi timbal balik yang harmonis memang perlu, dek! Sepanjang nggak jadikan kita masuk kategori sebagai penjilat, ya nggak masalah! Cuma yang jadi pikiran mbak adalah latar belakang dia pindah sekolah, dek?!” kata Dinda.

“Kenapa dengan alasan dia pindah sekolah, mbak? Yang adek tau, sejak dulu ada keluarganya yang sudah sekolah di tempat kita! Dia juga sering main ke sekolah kita kok, ikut dengan saudaranya itu! Jadi memang dia sudah kenal baik dengan lingkungan sekolah ini!” sahut Gilang.

“O gitu to, dek! Mbak sih nggak negative thinking ya, dek! Tim sekolah adek kan lagi moncer nih! lagi hebat-hebatnya! Wajar kalo banyak orang pengen bisa masuk ke tim! Nah, disini motivasi itu bicara, dek! Apakah motivasinya sekadar masuk buat numpang beken atau memang sungguh-sungguh dari hatinya!” ujar Dinda.

“Nah, kalo soal motivasi, niat dan sebangsanya itu nggak tau adek, mbak! Yang adek tau kapten baru ini emang jago mainnya! Diluar urusan itu, adek nggak perhatiin!”

“Ya untuk adek tau aja! Memahami orang itu perlu! Bahwa kita harus selalu positif thinking dengan orang, bener itu! Tapi mewaspadai hadirnya orang baru, apalagi dalam kurun waktu relatif singkat sudah dipercaya sebagai kapten tim, kan juga nggak salah! Karena apapun strategi tim bisa diketahui orang luar, ya karena nyanyian orang dalam, dek! Disinilah waktu jadi ukuran dalam menilai orang! Jadi adek ya cermat-cermat aja! Tanpa harus berprasangka negatif!” kata Dinda lagi. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *