Cerita Ironi Kebun Binatang

DINDA berwajah muram selepas latihan balet untuk persiapan mentas.

“Kenapa bermuram durja begitu, mbak?!” sapa Gilang.

“Nggak apa-apa, dek! Kesel aja! Waktu latihan tadi, temen-temen banyak main aja, jadi ampe kena marah sama pelatih!” ucap Dinda.

“Kan bukan mbak yang kena marah, kenapa mbak yang kesel?!”

“Ya memang bukan mbak yang dimarah, dek! Tapi kan akhirnya latihan nggak dilanjut! Padahal waktu pentas kan tinggal 2 hari lagi! Kalo masih kacau-kacauan gerakannya, ya nggak pede-lah waktu pentas nanti!”

“Nyantai aja, mbak! Kan masih ada waktu! Temen-temen mbak pasti juga berubah setelah ditegur pelatih tadi!”

“Tapi waktunya kan makin mepet, dek! Nyeragamin gerakan balet itu nggak mudah lo, dek! Perlu latihan intens, kesungguhan dan konsentrasi! Mbak jadinya pesimis bisa pentas dengan maksimal kalo gini suasana latihannya!” kata Dinda.

“Emang sudah jadi kebiasaan mayoritas kita baru serius kalo sudah terpaksa, mbak! Gaya menunggu kepaksa itu sudah jadi pembawaan banyak kalangan! Menyadarkan pentingnya memanfaatkan waktu dan momen hanya dimiliki oleh orang tertentu saja!”

“Nunggu terpaksa gimana, dek?!”

“Ya kayak temen-temen mbak itu! Karena tau waktu pentas masih lama, jadi latihannya nggak serius! Coba kalo tinggal sehari, kan sudah kepaksa harus serius tu, baru mereka bener-bener latihannya!” ujar Gilang.

“Bener juga ya, dek! Kok seneng bener ya orang baru bergerak setelah suasananya memaksa harus berbuat! Padahal kan kalo latihannya serius sejak awal, menjelang pentas sudah lebih enjoy!”

“Jadi ada cerita, mbak! Om Akuan Abung yang cerita ke adek! Ada temennya bisnis kebun binatang! Dipasangnya tarif masuk Rp 20.000 per-orang! Sampai sebulan, nggak ada pengunjung yang datang!”

“Terus dek…!?”

“Diturunkan biaya tarif karcis masuk jadi Rp 10.000 per-pengunjung, nggak ada juga yang datang! Karena kesal, akhirnya dibuat papan pengumuman, isinya: Masuk Gratis! Baru puluhan orang berdatangan untuk melihat kebun binatang itu!” urai Gilang.

“Terus gimana, dek..?!” Dinda penasaran.

“Nah, waktu puluhan pengunjung sudah di dalam, dibukanya pintu kandang hewan-hewan buas, mbak! Kayak harimau, singa, ular dan serigala! Terus dia kunci pintu masuk kebun binatang, sambil taruh tulisan besar-besar di pintunya; Keluar Bayar Rp 500.000…!”

“Nah, jadi pengunjungnya di kunci dari luar ya, dek! Terus gimana mereka?!”

“Ya ramelah suasana, mbak! Semua berebutan untuk segera keluar sambil nyodorin uang Rp 500.000 sama pemilik kebun binatang yang nunggu di depan pintu keluar, mbak!” kata Gilang.

“Ah, gila itu si pemilik kebun binatang mah, dek! Harusnya kan nggak gitulah! Kan bahaya kalo hewan buasnya sampe nyerang pengunjung!” ketus Dinda.

“Gini lo, mbak! Cerita itu mengajarkan pada kita bahwa memang sudah kebiasaan mayoritas kita kalo dalam situasi terpaksa atau terancam, baru bergerak! Nggak peduli berapa yang harus dibayar atau dilakukan, pasti dijabanin! Perilaku kayak gini itulah yang sekarang jadi tontonan orang!” kata Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *