1 views

Menggandeng Mantan

GILANG terus-terusan menengok ke arah Dinda yang duduk di deretan sebelah kiri tribun PKOR Way Halim saat menonton pertandingan sepakbola, sore tadi.

Tampak wajahnya tidak suka melihat Dinda asyik ngobrol dengan beberapa penonton lain disampingnya. Apalagi saat pertandingan selesai, Dinda menggandeng salah satunya waktu menuruni tribun penonton. Sampai akhirnya Dinda dan temannya berpisah sambil melambaikan tangannya.

“Siapa sih mbak yang tadi itu! Kok kayaknya akrab bener! Adek nggak suka liatnya!” ujar Gilang sambil menuju mobil di parkiran.

“O, yang duduk sama mbak tadi ya, dek? Itu dulu kakak kelas, dek! Setelah lulus, lanjut sekolah di luar negeri dan kebetulan lagi pulang! Nggak nyangka juga bisa ketemu disini!” jelas Dinda.

“Adek nggak suka aja! Kayaknya mbak akrab bener! Sampai gandeng-gandengan segala!” lanjut Gilang.

“Kakak itu tadi senior mbak, dek! Sebelum mbak jadi ketua OSIS, dia duluan! Jadi mbak gantiin dia! Ya wajar dong kalo mbak menghormati, menghargai dia! Nggak bakal mbak jadi ketua OSIS kalo dia nggak menjabat duluan!”

“Ya nggak gitu juga kali, mbak! Siapa aja sebelum mbak kan bukan masalah! Kebetulan aja kakak tadi yang jadi!” sela Gilang.

“Ya justru itu, dek! Kita ini kan pada hakekatnya adalah penerus siapapun yang sebelumnya! Nah, kita harus sadar itu! Jadi sewajarnya kita menghormati bahkan menggandeng para mantan! Para pendahulu kita! Jangan malah kita musuhi para pendahulu itu! Selain nggak elok, juga kita tidak akan mendapat pengalaman dari apa yang dilakukan pendahulu!” urai Dinda.

“Jadi menghormati, bersilaturahmi bahkan menggandeng mantan itu perlu ya, mbak?!”

‘”O iya, dek! Kita mesti tau tata krama, unggah-ungguh, etika pertemanan! Jangan karena sekarang kita pegang jabatan, menjadikan kita sombong, bisanya membusungkan dada aja, ngerasa nggak ada yang hebat kalo nggak kita! Teteplah hargai dan hormati para senior, para mantan! Jangan sekali-kali menyepelekan mereka!”

“Penghargaan yang paling penting buat para mantan itu apa, mbak?!”

“Bertegur sapa, menempatkan mereka sebagai sosok yang banyak berbuat, itu saja cukup kok, dek! Lebih baik lagi kalo pas momen penting, diberikan penghargaan! Itu akan membuat para mantan bahagia dan akhirnya mendoakan kita agar terus diberi kekuatan meneruskan perjuangan dan pengabdian mereka!”

“Jadi semua mantan layak digandeng ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya nggak semua jugalah, dek! Kalo mantan pacar ya jangan dong! Kecuali dinikahi dan berstatus istri! Kalo mantan pejabat sebelum kita, ya harus digandeng demi kebaikan kita juga kedepannya!” kata Dinda sambil naik ke mobil; pulang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *