1 views

Demi Mama…!

AKTIVITAS rutin Gilang di hari Sabtu biasanya ekstra padat; mulai dari latihan futsal, les gitar sampai les di GO. Tapi beda dengan kali ini. Dia di rumah saja.

“Ngapain di rumah aja, dek! Kan kalo Sabtu justru banyak sekali kegiatan adek, bahkan sampai abis maghrib!” kata Dinda.

“Hari ini adek mau di rumah aja, mbak!” sahut Gilang.

“Nggak biasanya, dek! Hayooo, ada apa?!” goda Dinda.

“Demi Mama, mbak!”

“Demi Mama kayak mana, dek?!”

“Ya demi Mama, mbak! Titik!”

“Maksudnya itu kenapa emang Mama?!” tanya Dinda.

“Mama bilang sejak bangun tidur tadi kalo adek hari ini nggak usah kemana-mana, di rumah aja! Ya sudah! Karena kata Mama begitu, ya adek ikuti aja, mbak!” jelas Gilang.

“Lho, kenapa kok Mama sampe bilang gitu, dek? Kan Mama tau kalo hari ini adek rutin banyak aktivitas?!”

“Ya nggak tau kenapanya, mbak! Pokoknya Mama bilang begitu, ya sudah! Adek nurut aja!”

“Ya kasih tau Mama dong kalo adek kan banyak kegiatan rutin, yang memang sudah dijalani selama ini?! Siapa tau Mama lupa, dek!” ujar Dinda.

“Mbak, kalo Mama sudah bilang, ikut aja! Nggak perlu kita pertanyakan alasannya, apalagi diperdebatkan! Itu prinsipnya, mbak!” tegas Gilang.

“Tapi kan tetep bisa didiskusikan dek?! Nggak harus saklek gitu? Sekarang kan zamannya anak juga punya hak menyampaikan pendapat?!” kata Dinda.

“Iya, itu bener, mbak! Tapi bagi adek, begitu Mama sudah bilang, ya hrus diikuti! Mau Mama kasih alasannya atau tidak, nggak masalah!”

“Duh adek segitunya deh! Wajar aja sebenernya tanya alasannya juga, dek?!”

“Ya wajar memang, mbak! Tapi bagi adek, kalo Mama sudah bilang ya wajib diikuti! Ini kunci sukses itu, mbak! Nggak bisa kita memperdebatkan kemauan Mama! Sebagai anak wajib kita ikuti apapun kata Mama! Tentu sepanjang tidak mengajak menyekutukan Tuhan!”

“Tapi kan adek jadi ketinggalan hari ini! Nggak latihan futsal, nggak les gitar, nggak les GO!?”

“Jangan dinilai dari sisi itu, mbak! Ada nilai ke-Ilahian di apa yang dibilangin Mama itu, mbak! Kita kan nggak tau kalo adek cuekin omongan Mama nggak taunya pas latihan futsal, kaki adek terkilir! Nggak tau kalo pas latihan gitar nggak taunya gitar adek patah! Yakini aja kalo ikuti kata Mama itulah yang terbaik! Karena ada nilai tersendiri dibaliknya!” urai Gilang panjang lebar.

“Jadi harus utamain Mama ya dek?!”

“Iya mbak! Ada sebuah kisah! Seorang pegawai swasta nggak masuk kerja karena sedang demam! Dia ditelepon bosnya untuk tetep ngantor! Tapi mamanya tidak membolehkan!”

“Terus gimana, dek?!”

“Pegawai itu tetep nggak ngantor, mbak! Karena perintah Mamanya begitu! Si bos marah besar, diancamnya sang pegawai mau dipecat! Dia bersikukuh ikuti omongan Mamanya! Nggak ngantor! Apa yang terjadi kemudian? Si bos dateng ke rumah pegawai itu dan menaikkan jabatannya!” kata Gilang.

“Oh ya, sampe segitunya ya dek?!”

“Ya itulah, mbak! Dibalik kata Mama itu ada kekuatan tersembunyi yang tak bisa kita prediksi! Ada suara Tuhan yang ditiupkan lewat omongan Mama! Akan hadir keseimbangan kehidupan ke-bumi-an dan ke-langit-an! Ada kekuatan keikhlasan, ketulusan, dan kasih sayang yang tak bisa digambarkan disana!” ucap Gilang dengan serius.

“Jadi kalo misalnya seorang Mama nggak ngasih anaknya maju pilkada, sebaiknya ya jangan maju ya, dek!”

“Iya, jangan maju! Karena hanya Mama yang bisa membaca tanda-tanda zaman dan bisa ‘berdialog` dengan Tuhan bagi kepentingan anaknya!” kata Gilang lagi. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *