2 views

Salah Terus

SESAMPAI di rumah, wajah Dinda murung. Tanpa mengganti pakaian sekolah, dia langsung rubuhkan badannya ke tempat tidur. Gilang pun mendekat.

“Lagi bete ya, mbak?” sapa Gilang.

“Iya, dek! Bete, kesel!” sahut Dinda ogah-ogahan.

“Memangnya kenapa, mbak?!”

“Mbak disalah-salahin terus hari ini di sekolah! Mulai dari pelajaran pertama sampai terakhir, ada aja yang buat guru nyalahin mbak! Ditambah temen-temen juga gitu!” ucap Dinda.

“Memangnya ada apa kok disalahin terus, mbak? Lagian kok bisa kompak begitu ya?”

“Ya setau mbak sih nggak ada apa-apa, dek! Guru matematika nyalahin mbak karena lama ngerjain tugas, lebih beberapa menit dari yang dia tentuin! Guru civic nyalahin karena mbak nggak bisa detail ceritain perjuangan Pangeran Diponegoro! Ditambah yang lain-lain! Sudah begitu, temen-temen di kelas juga nyalahin mbak karena belum buat agenda belajar bersama minggu ini di rumah siapa! Jadi hari ini semua pada nyalahin, kesel akhirnya!” urai Dinda.

“O gitu to, mbak! Ya memang ada kalanya hari kita kayaknya penuh dengan ketidaknyamanan, mbak! ada waktunya sebaik apapun yang kita perbuat tetep aja kurang di mata orang! Nggak usah terlalu dirisaukan ya, mbak!” kata Gilang, menenangkan.

“Gimana nggak dipikirin, dek! Gimana nggak buat risau kalo semuanya terus-terusan nyalahin mbak!” ketus Dinda.

“Mbak, memang sudah biasa perilaku yang hanya melihat, mencatat dan membicarakan kelemahan atau kekurangan orang ketimbang melihat kelebihan atau keunggulannya itu! Tegar ajalah, mbak! Dibalik semua kelemahan yang disampaikan itu mbak harus yakin kalo mbak punya banyak keunggulan! Jadi dibawa nyantai dan enjoy aja, mbak!”

“Enak adek ngomong! Mbak yang ngalaminnya yang bete!” sela Dinda.

“Kalo kita disalah-salahin terus itu justru harusnya senang lo, mbak!”

“Kok malah seneng? Semua orang juga kalo disalah-salahin terus pasti kesel dan bete-lah, dek!” ujar Dinda.

“Maksudnya gini lo, mbak? Senang dalam arti hal itu bisa jadi kesempatan buat kita mawas diri! Buat kita tau mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dipertahankan! Apapun itu, kalo disikapi dengan tenang, dengan keseimbangan nalar dan perasaan, akan tetap nikmat dan ketemu hal-hal positifnya!” kata Gilang.

“Ya tapi kan nggak semudah itu, dek! Ngomongnya gampang, jalaninnya berat!”

“Yang harus dipahami dan diyakini adalah tak ada sesuatu pun, baik itu yang keliatannya negatif atau positif, yang sia-sia buat diri kita, mbak! Justru disinilah kita mesti mampu memetik hikmahnya! Memang tidak mudah untuk memahaminya, mbak! Tapi kalo kita menyadari bahwa disalah-salahin terus, dikritik terus, itu hakekatnya adalah untuk perbaikan, pasti kita temukan pelajaran kehidupan positif untuk kedepannya! Yang sering terjadi itu, disalahkan marah, dikritik ngambek, diingatkan sipek! Kalo karakter semacam ini ada di jiwa kita, akan menyulitkan kita untuk tetep survive! Seyogyanya berbahagialah mbak karena terus disalahkan, sebab hal itu akan membawa pada situasi mbak terus berkembang dan maju!” kata Gilang, panjang lebar. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *