Beda Kelas

DENGAN wajah penuh suka cita Dinda pulang ke rumah setelah mengikuti tes pra olimpiade.

“Giama tesnya, mbak? Lulus ya..!” sapa Gilang.

“Alhamdulilah, lulus, dek! Nggak sia-sia mbak belajar beberapa hari ini! Doa mbak juga diijabah Tuhan! Terimakasih supportnya ya dek!” sahut Dinda dengan sumringah sambil memeluk Gilang.

“Alhamdulilah! Hebat mbak! Dari 66 orang yang ikut tes, mbak bisa lulus! Cuma diambil 3 besar aja ya, mbak?!”

“Iya dek! Tiga besar aja! Tapi mbak sebenernya nggak puas lo, dek?!”

“Lho, sudah masuk 3 besar kok malah nggak puas to, mbak? Memangnya kenapa?!” tanya Gilang.

“Beda kelas, dek! Mayoritas yang ikut tes tadi kualitas sekolahnya rata-rata memang dibawah sekolah mbak! Jadi ya nggak buat mbak bangga! Malahan mbak khawatir, apa iya mbak sudah bisa bener kedepannya pas dites lagi untuk ngewakili provinsi!” jelas Dinda.

“O gitu to, mbak! Nggak usah dipikirin itu mah, mbak! Yang penting kan mbak lulus 3 besar dan ngewakili kabupaten buat diadu lagi di tingkat provinsi! Sekarang mah sudah lazim kok orang kelas kabupaten terus dikasih jabatan di tingkat provinsi, mbak! Jadi nggak usah heran kalo ternyata bagi sebagian orang yang mengamati tanpa pretensi apapun, kualitas provinsi justru menurun!” ujar Gilang.

“Kalo itu kan di dunia birokrasi, dek! Dunia pendidikan kan beda! Tetep diprioritaskan kualitas kemampuan personalnya!”

“Sebenernya ya sama aja kok, mbak! Cuma beda-beda dikit aja! Kalo di dunia birokrasi, kualitas personal nggak penting! Yang utama itu ya punya hubungan kekerabatan dengan petinggi atau punya kedekatan dengan kerabat dan teman dekat sang petinggi aja! Sepanjang ada jalinan itu, mau di kabupaten terpakai atau tidak, begitu hengkang ke provinsi pasti dikasih jabatan!” urai Gilang.

“Jadi gimana nasib orang kabupaten yang berkemampuan kalo pindah ke provinsi, dek?!” tanya Dinda.

“Selama nggak punya kekerabatan atau keberanian buat masuk ke jaringan kaum yang punya kedekatan khusus dengan petinggi, ya nggak bakal dipakai selamanya, mbak! Ini fakta lo, mbak! Dan bukan rahasia lagi!” kata Gilang.

“Jadi buat mbak pesimis aja, dek?!”

“Jangan pesimis, mbak harus tetep optimis dong! Kalo mbak sadar prestasi masuk 3 besar sekarang ini karena mayoritas lawannya beda kelas, percaya aja kalo mbak juga akan tetep bisa survive saat dites di tingkat provinsi! Karena motivasi untuk terus mengasah kualitas diri itu sudah hilang, yang ada cuma pragmatisme mendapatkan jabatan!”

“Terus kaitannya dengan urusan tes pra olimpiade apa, dek?!”

“Lha kalo pejabatnya di tingkat provinsi aja rata-rata kelas kabupaten, kebayang kan kualitas yang digelorakan? Jadi ya pede ajalah, mbak! Karena sekarang ini mayoritas orang bukan lagi gengsi itu ada pada prestasi tapi prestise semata! Dan itulah yang membuat praktik beda kelas menjadi hal yang nggak lagi perlu menjadi pertimbangan! Tinggal mbak tetep pede dengan kemampuan sendiri dan minta kepala sekolah membangun jaringan ke pejabat yang ada, pasti mbak lolos juga nantinya!” beber Gilang.

“Mbak nggak mau main gituan, dek! Lebih baik mbak nggak lolos ketimbang minta kepala sekolah lobi sana-sini!” tegas Dinda.

“Ya kalo mbak sudah punya sikap begitu, jangan bermimpi bisa ngewakili provinsi ke olimpiade! Sebab dampak dari beda kelas itu sudah luar biasa mengguritanya!” kata Gilang seraya menepuk-nepuk bahu Dinda untuk lebih cermat dalam melihat kenyataan. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *