22 views

Tipis Kuping

“MBAK, mbak ini cerita apa sama Mama! Jangan ngomong kalo nggak tau kebenarannya, mbak! Fitnah itu namanya!” kata Gilang melalui telepon, tadi malam.

“Memangnya mbak cerita apa, dek? Jangan langsung marah gitu dong?!” sahut Dinda.

“Adek yang tanya ke mbak! Mbak itu ngomong apa sama Mama, sampai-sampai adek ditegur Mama barusan ini!”

“Emangnya Mama bilang apa?!” tanya Dinda.

“Mama bilang kalo mbak laporan, selama ini adek banyak main kalo di sekolahan! Sering ditegur guru karena nggak ngerjain PR! Iyakan mbak bilang begitu?!” ketus Gilang.

“O itu to, dek! Iya, mbak emang bilang gitu sama Mama!”

“Mbak bisa ngomong gitu itu dasarnya apa? Jangan ngebuat-buat yang nggak bener dong, mbak!”

“Temen mbak yang cerita, dek! Dia bilang kalo sejak mbak nggak satu sekolahan lagi, adek jadi males, mulai nakal dan nggak disiplin! Jarang ngerjain PR, banyak main waktu guru ngajar!” urai Dinda.

“Terus mbak percaya gitu aja? Terus mbak bilangin itu ke Mama kan? Jadi orang itu jangan tipis kuping, mbak?!” ucap Gilang.

“Ya mbak percayalah, yang cerita kan temen deket mbak, dek! Kok mbak dibilang kuping tipis sih? Kuping mbak kan tebel, dek?!”

“Kuping tipis itu istilah, mbak! Artinya, denger celoteh orang, tanpa ngecek kebenarannya atau tanpa punya data dan fakta, langsung aja disebarin atau bersikap! Orang yang kuping tipis kayak mbak gini bahaya kalo jadi pimpinan!” kata Gilang.

“Ini bukan soal kuping tipis atau tebal, dek! Tapi soal kebaikan untuk adek sendiri!”

“Ya mbak kan bisa tanya dulu ke adek benar tidaknya! Jangan langsung lapor ke Mama gitu dong! Adek kan kena tegur! Padahal info yang mbak sampein itu nggak bener! Lain kali di-croscheck dululah! Jangan asal lapor aja!”

“Wajar ajakan mbak bilang ke Mama, dek?!” ujar Dinda.

“Ya memang wajar, mbak! Yang nggak wajar itu materi yang mbak bilangin itu! Diluaran sana, sudah banyak diisi oleh beragam info yang kesahihannya masih belum jelas, diterus-teruskan aja sama sang petinggi! Nah, ketemu petinggi yang kuping tipis, kan bisa bahaya! Bisa aja dia ambil kebijakan yang salah! Bisa aja dia bersikap tidak ramah pada orang yang sebenernya nggak berbuat salah!” beber Gilang.

“Ya maaf sih, dek! Mbak nggak bermaksud jelek kok sama adek!”

“Enak aja mbak bilang minta maaf! Adek kesel-kesel bener sama perilaku mbak kali ini! Kayak mbak nggak tau gimana adek aja!” kata Gilang.

“Adek, memberi maaf itu bukan merendahkan derajat! Memberi maaf juga bukan perlambang kelemahan! Justru dengan memberi maaf akan memuliakan diri kita! Jadi, maafin mbak ya dek! Sifat kuping tipis ini akan mbak buang jauh-jauh! Agar kehidupan kita menjadi lebih baik kedepannya!” tutur Dinda dengan kalem, mencoba menurunkan “tensi tinggi” Gilang.

“Iya, tapi mbak juga perlu tau! Kita nggak akan jadi benar dengan menyalahkan orang lain! Nggak juga jadi hebat dengan menghina orang lain! Dan nggak juga jadi pintar dengan membodohkan orang lain! Jadi, selalu bersikap baiklah dalam memandang dan menilai orang!” kata Gilang sambil menutup telepon. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *