1 views

Hiburan Itu = Lampung Sakti

MINGGU (2/4). Sejak pukul 11-an, puluhan anak muda berkostum nuansa Sriwijaya FC secara berombongan menuju PKOR Way Halim, Bandarlampung. Tujuannya jelas: Stadion PKOR Way Halim untuk menonton pertandingan persahabatan antara Lampung Sakti vs Sriwijaya FC.

Mereka berdatangan dari berbagai wilayah di Provinsi Sumatera Selatan, mayoritas menumpang kereta api. Kebanyakan mereka menumpang angkot jurusan Tanjungkarang-Way Halim untuk sampai ke PKOR. Banyak yang membeli makanan nasi bungkus dan dinikmati bersama-sama. Suasana “seia sekata” begitu tampak dari raut wajah fans Sriwijaya FC yang rata-rata berusia belasan tahun itu. Suatu fanatisme yang terbangun, tentu saja, bukan dengan sendirinya.

Dan yang nyata, kedatangan sekitar 300-an suporter Sriwijaya FC yang penuh hiruk pikuk dan aksi “bakar-bakaran” saat pertandingan memasuki babak kedua, adalah tontonan tersendiri. Pelecut semangat 11 pemain yang tengah berlaga di lapangan.

Dan yang sungguh diluar dugaan adalah hadirnya ribuan warga Lampung ke Stadion PKOR Way Halim untuk menonton pertandingan persahabatan tersebut. Sekitar 3000 lebih pecandu bola di Lampung dengan penuh antusias berjubel ingin menyaksikan kepiawaian pemain-pemain Lampung Sakti, klub anyar yang bakal berlaga di Liga II. Ada catatan penting melihat perhelatan persahabatan kemarin: Lampung Sakti dalam waktu yang relatif pendek, hanya sekitar 3 bulan, sudah mampu menarik simpati pecandu bola di Lampung. Tentu ini adalah “modal awal” yang sangat bagus bagi perkembangan klub bola yang konon kabarnya “dihidupi” oleh sebuah perusahaan besar di Lampung Tengah itu. Terpancang sudah di hati masyarakat Lampung bahwa mereka kini punya hiburan sekaligus kebanggaan di dunia sepakbola dengan adanya Lampung Sakti.

Melihat antusiasme masyarakat menonton pertandingan persahabatan Lampung Sakti vs Sriwijaya FC, saya optimis, kedepannya warga Lampung akan semakin total memberikan dukungan bagi Lampung Sakti. Karena selain mampu menjadi “hiburan rakyat”, kehadirannya juga membangun kembali “ghirah” persepakbolaan di Lampung. Prospek “kehidupan” Lampung Sakti pun bisa digambarkan akan terjamin, dengan hadirnya fans fanatik kedepannya. Tentu saja, diperlukan kepiawaian pengelola “intertainment” bola dalam konteks ini.

Terlepas dari apapun hasil akhir pertandingan persahabatan Lampung Sakti vs Sriwijaya FC, saya sebagai salah satu warga Lampung penikmat sepakbola yang relatif rutin mengikuti perkembangan Lampung Sakti, merasa perlu “mengoreksi” beberapa perilaku aparat security dari pihak perusahaan yang terkesan “tidak nguwongke” penonton dengan cara penertiban yang relatif kasar.

Saat puluhan penonton diperbolehkan berdiri di tepi lapangan, begitu ada teguran dari MC, security perusahaan yang bertugas langsung bergerak mengusir penonton dan disuruh berjubelan didepan pintu. Pun menjelang waktu istirahat, jalan ke tempat pemain “disterilkan”, padahal saat itu puluhan penonton tengah asyik menikmati pertandingan.

Yang perlu “dikoreksi” bukan sterilisasi yang dilakukan aparat security perusahaan yang “menghidupi” Lampung Sakti. Namun cara dan bahasanya. Seorang petugas yang ditengarai sebagai “komandan” security perusahaan, dengan suara keras berteriak ke penonton: “Saya perintahkan semua penonton depan pintu ini masuk ke bagian tribun. Ini perintah!” Karena sang “komandan” berteriak demikian, anak buahnya, security muda tak kalah garang: “Pergi semua dari sini, nanti pemain lewat sini!” Tentu saja cara dan ucapan semacam itu tidak selayaknya dilakukan. Kenapa?

Karena penonton itu bukan “pegawai” perusahaan tempat security bertugas. Penonton adalah warga yang dengan sukarela menyisihkan waktunya untuk menonton Lampung Sakti. Jangan lupa, para penonton inilah yang nantinya akan ikut juga “menghidupi” Lampung Sakti. Tentu, pihak perusahaan yang menghidupi Lampung Sakti tetap berpikir bisnis. Nyatanya, di bagian dalam ruang stadion, dibuka stand menjual beragam buah-buahan produksi perusahaan. Secara sederhana saja, dunia sepakbola juga ajang bisnis. Itu sebabnya, pola pendekatan security yang terkesan arogan, hendaknya segera diperbaiki. Ini demi kepentingan “bisnis” Lampung Sakti itu sendiri. Bersikap tegas dan bertindak kasar itu memang tipis bedanya, tapi penonton bisa membedakan.

Uniknya lagi, di saat “penonton biasa” diusiri dari tepi lapangan, penonton “yang dikenali” dibiarkan oleh security dari perusahaan. Itu sebabnya, walau berkali-kali MC meminta agar penonton di tepi lapangan ditertibkan, dibiarkan saja oleh security. Karena memang saling mengenal.

Memang ada aparat keamanan dari Polresta Bandarlampung. Namun terkesan mereka di “Ring II” saja. Padahal bagi masyarakat, utamanya yang hanya tahu kalo adanya Lampung Sakti membuat mereka bangga, keberadaan aparat Polri lebih dihargai dan dimengerti perintahnya ketimbang aparat security perusahaan. Hal ini memang tampaknya sepele. Namun, ketika nantinya penonton sudah harus membayar karcis, bila masih ada praktik-praktik “sok kuasa” semacam ini, bukan mustahil akan memantik persoalan, selain dampak panjangnya akan menjadikan warga Lampung tidak antusias menonton Lampung Sakti.

Rasanya pengelola “entertainment” Lampung Sakti perlu melihat berapa ratus kendaraan roda 4 dan ribuan sepeda motor terparkir memenuhi semua sudut PKOR, Minggu (2/4) siang sampai sore. Ini potensi besar, bukan hanya sebagai penyemangat bagi pemain, tetapi juga untuk mendapatkan perolehan dari penjualan karcis kedepannya saat laga Lampung Sakti di Liga II. Dalam konteks ini, tentu saja manajemen Lampung Sakti perlu membangun kerja sama yang apik dengan semua pihak. Termasuk tentunya, memperbaiki gaya aparat security yang kelihatan sekali kurang menghargai penonton, yang memiliki latar belakang beragam. Catatan ini saya beberkan sebagai masukan demi kejayaan Lampung Sakti sebab kehadirannya telah mampu menjadi hiburan rakyat sekaligus kebanggaan masyarakat Lampung. Yakin saja, bila manajemen pengelolaan terus diperbaiki dengan menghadirkan suasana menyenangkan bagi penonton, Lampung Sakti akan benar-benar “masuk” ke hati warga Lampung, dan akan lahir dengan sendiri support yang tak terkira kedepannya. Selamat berbenah. Sukses Lampung Sakti. (ยค)

 

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *