5 views

Kerja Tim

DENGAN wajah sumringah, Gilang meninggalkan Stadion Sumpah Pemuda, Way Halim, selepas menonton pertandingan persahabatan antara Lampung Sakti vs Sriwijaya FC.

“Wah, kalo adek berwajah ceria gini pasti tim yang didukungnya menang! Selamat ya dek?!” kata Dinda.

“Hasil akhirnya draw, mbak! Seri, 1 – 1! Tapi adek puas nontonnya!” sahut Gilang.

“Lho, draw kok seneng to, dek! Yang lazim itu kalo menang baru senang, riang gembira!” ucap Dinda.

“Memang bener itu, mbak! Tapi bagi adek, bukan soal menang, draw atau kalahnya! Tapi melihat permainan timnya! Namanya main bola itu kan 11 orang yang berlaga di lapangan! Ditambah ada pelatih dan tentu saja termasuk dukungan penonton!”

“Jadi puasnya adek karena apa dong?!” tanya Dinda.

“Melihat kerja tim, mbak! Adek cermati bener aksi masing-masing pemain di lapangan, bagaimana mensupport kepentingan tim! Dan jujur saja, kerja tim itulah kunci kekuatan Lampung Sakti yang baru tiga bulan latihan bisa mengimbangi Sriwijaya FC yang sama-sama kita tau sudah punya nama besar di blantika persepakbolaan nasional!” urai Gilang.

“Jadi kuncinya di kerja sama antar individu bener-bener menguatkan tim ya, dek?!”

“Iya, mbak! Masing-masing pemain tetap dibebaskan improvisasi di lapangan, tapi semua memegang teguh arahan sang pelatih! Jadi pergerakan apapun yang dimainkan individu tim, tetep dalam koridor tatanan strategi yang sudah disampaikan pelatih! Hal itu juga menunjukkan betapa berpengaruhnya sang pelatih pada semua pemain! Dedikasi untuk tim begitu menonjol! Loyalitas pada pelatih juga bisa dibaca oleh penonton yang bener-bener pecandu bola!” kata Gilang.

“Jadi kuncinya tetep di pelatih itulah ya, dek?!” ujar Dinda.

“Iyalah, mbak! Kepiawaian pelatih meracik strategi, keterbukaannya menerima masukan dan dialog, pemahamannya bahwa masing-masing pemain punya karakter sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta kepercayaan full kepada personal pemain, adalah kunci tangguhnya kerja tim!”

“Gimana kalo pelatihnya nggak luwes, nggak mau ada akselerasi permainan individu di lapangan, dek?!”

“Ya sudah pasti kerja tim yang tangguh, nggak bakal ada, mbak! Sehebat apapun kemampuan personal pemain, kalo ketemu pelatih yang selalu menempatkan dirinya sebagai sang penguasa, yang karenanya nggak bisa dikritik, ya nggak bakalan punya tim yang tangguh, mbak! Apalagi kalo ditambah sang pelatih sukanya nerima masukan kanan-kiri yang nggak jelas alurnya, bisa kacau tim yang sudah ada!”

“Kan bisa aja sang pelatih ngambil keputusan sendiri berdasarkan masukan kanan-kiri, dek! Terlepas apakah itu konstruktif atau destruktif! Nah, ketimbang ngajak pemain diskusi nanti malah terjadi perdebatan berkepanjangan, akhirnya sang pelatih lebih banyak diam saja!” kata Dinda.

“Mbak, jangan takut dengan perdebatan! Karena kalo itu terjadi, yang perlu dipotong adalah ego masing-masing! Bukan memotong hubungannya! Dalam kerja tim, sesungguhnya, kunci ada di sang pelatih! Kalo sang pelatih lebih banyak diskusi dengan pihak lain, dan akhirnya diam saja, jangan disalahkan bila para pemain akan berekspresi dengan gayanya masing-masing!” ucap Gilang, menutup perdialogan. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *