1 views

Kualitas Permainan

MENIKMATI hari libur, seharian Gilang tidak keluar rumah. Diisinya waktu istirahat sekolah dengan bermain games dengan PS-nya.

“Adek kok nggak capek-capek ya sejak pagi main PS!” tegur Dinda, sore tadi.

“Adek kan nggak terus-terusan main, mbak! Tapi juga mencatat dan menganalisis games-games yang abis adek mainin!” ujar Gilang.

“Jadi nggak terus-terusan nongkrong depan tv ya, dek? Kirain nggak ada brentinya dari pagi tadi!”

“Ya nggaklah, mbak! Sejam main aja mata adek sudah pedih kok, masak mau diterusin melototin tv! Makanya adek isi dengan menganalisis permainan yang adek sudah mainin!”

“Buat apa adek nganalisis permainan games itu?!” tanya Dinda.

“Ya biar adek tau aja sudah seberapa kemampuan adek dalam memainkan games-games itu, mbak! Adek kan nggak selalu menang, mbak! Sering juga kalah main! Nah, biar bisa lebih maksimal menangnya, adek analisis setiap games yang adek mainin!” kata Gilang.

“Yang mau adek dapatkan apa dengan nganalisis games-games itu?!”

“Kualitas permainan adek harus meningkat, mbak! Itu aja targetnya! Sebab permainan di dunia games kan sebenernya banyak mengajarkan kepada kita beragam trik! Itu bisa jadi bekal pengalaman yang baik dalam kehidupan!”

“Konkretnya yang mau adek capai itu apa sih?!”

“Adek pengen punya kualitas permainan yang bagus, mbak! Yang bisa masuk kategori berkelas: tau kapan memulai dan tau kapan mengakhiri permainan!” tegas Gilang.

“Ngapain adek pengen bisa jadi pemain yang bisa memulai sekaligus paham kapan bisa mengakhiri?!”

“Sebab selama ini banyak orang yang merasa dan mengaku dirinya pemain games handal tapi sebenernya tak lebih dari sekadar penonton, mbak! Atau bahkan hanya berkelas penggembira saja! Cuma gayanya itu yang membuat adek sering risih, sebab ke-aku-annya lebih ditonjolkan ketimbang kualitas permainannya!” tutur Gilang.

“Jadi maksudnya, adek menyiapkan diri untuk menghadapi munculnya games-games lebih berat dan sulit diatasinya ya..?!” ucap Dinda.

“Bener, mbak! Sudah saatnya kualitas permainan ditunjukkan! Sudah waktunya pemain-pemain yang sesungguhnya tampil ke permukaan! Sebaliknya, yang mengaku-aku sebagai pemain tapi berkelas penggembira, hendaknya sadar diri! Walo memang tidak mudah untuk mengakui sebenernya kualitas kita sebagai apa!” kata Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *