Suasana Kebatinan

“DEK, kok temen-temen mbak pada beda ya setelah ketemuan sambil makan terus nonton tadi!” kata Dinda.

“Beda kayak mana, mbak?” tanya Gilang.

“Nggak serame atau seakrab waktu kami ngobrol lewat WA! Kayak pada canggung gitu lo maksudnya, dek?!”

“Biasa aja itu mah, mbak! Memang sering adek juga temui kayak gitu kok! Kalo ngobrol di telepon, kayaknya akrab dan enak! Tapi pas ketemu, ngomong malah sekadarnya aja!” ucap Gilang.

“Kok bisa gitu ya, dek? Logikanya kan kalo komunikasi via sarana bantu aja bisa rame, enak dan kerasa deketnya, kan mestinya begitu ketemuan alias kopi darat malah lebih gumek lagi! Tapi kenyataannya kok malah kayak baru kenalan sama orang asing! Aneh ya, dek?!”

“Sebenernya nggak aneh, mbak! Justru dari kejadian kayak gitu kita bisa ambil kesimpulan kalo pertemanan itu lebih kepada sekadar berteman doang! Nggak ada merasa ada kedekatan batin! Istilahnya ya cuma berteman lahiriyah semata! Menjadi berteman karena situasi dan kondisi yang mengharuskan untuk kita menjadi teman! Padahal sesungguhnya, di dalam hati yang terdalam, kita nggak tergugah untuk menjalin pertemanan!”

“Maksudnya, suasana kebatinannya nggak ada, gitu ya dek?” kata Dinda.

“Iya, gitu maksudnya, mbak! Suatu pertemanan dalam konteks apapun, sekarang ini sepi dari bangunan suasana kebatinan, mbak! Yang ada hanyalah pertemanan kamuflase! Pertemanan lahiriyah semata! Dan itu akan banyak menggurita manakala kita memiliki kekuasaan! Suasana pertemanan yang jauh dari ikatan kebatinan itu akan melingkari siapapun yang tengah berkuasa! Itu sudah lazim dan manusiawi!” sahut Gilang.

“Kenapa justru di sumbu-sumbu kekuasaan lebih banyak pertemanan yang tidak bersuasana kebatinan, dek?”

“Ya karena tolok ukurnya bukan itu, mbak! Yang bisa berdekat-dekat dengan sumbu kekuasaan adalah yang mampu menyuguhkan pertemanan kamuflase, pertemanan lahiriyah! Pertemanan yang lahir dengan dominasi geliat menangguk keuntungan! Bukan dengan nawaitu menjaga pemegang sumbu kekuasaan!”

“Jadi memang nggak mudah ya menemukan pertemanan yang seimbang derajat lahiriyah dan batiniyahnya ya, dek?!” ucap Dinda.

“Memang nggak mudah, mbak! Tapi melalui proses pertemanan yang panjang, pasti akan bisa dikenali karakter seseorang! Apakah pertemanannya diliputi suasana kebatinan atau sekadar lahiriyah semata! Dan bila pembawaan sang teman itu nggak cocok dengan kita, lebih baik menjauh saja tanpa harus memutuskan pertemanan!” kata Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *