11 views

Bersyukur Itu Indah

TEPAT jam 24.00, Gilang beranjak dari tempat tidurnya. Ke kamar mandi. Wudhu. Dilanjut solat dua rokaat dan membaca Alqur’an. Ditutup dengan prosesi doa; ucapan penghibaan, harapan dan angan.

“Alhamdulilah, terimakasih atas semua yang Engkau berikan selama ini ya Rab! Maafkan dan ampuni atas segala rangkaian kekhilafan dan dosaku selama ini ya Yang Maha Pengampun! Bimbing aku selalu dalam jalan-Mu ya Aziz! Beri kekuatan lahir batin buatku ya Jabbar!” ucap Gilang dengan penuh kekhusu’an.

Begitu keluar dari musolla, Dinda sudah menyambut: “Selamat ulang tahun ya, dek! Panjang dan berkah usianya! Selalu sehat dan berkah lahir batinnya! Semakin pinter dan berkah ilmunya! Banyak dan berkah rejekinya dan tercapai semua cita dan harapannya!”

“Terima kasih, mbak! Selalu sayangi adek ya, mbak!” sahut Gilang. Dinda pun mencium dan memeluk adik semata wayangnya.

“Mbak lama lo tadi nungguin adek solat, ngaji dan berdoa! Apa sih yang adek sampein kok doanya lama bener!” kata Dinda.

“O gitu ya, mbak? Adek nggak tau kalo mbak nungguin di luar musolla! Tadi itu adek menyampaikan rasa syukur atas semua apa yang diberikan Tuhan selama ini, mbak!” ucap Gilang.

“Bersyukur atas semua yang ada selama ini ya, dek?”

“Iya, mbak! Bersyukur itu indah lo, mbak! Membuat hati terasa nyaman, plong dan enteng gitu lo! Jadi sering-sering bersyukur, mbak!”

“Mbak juga selalu menyampaikan rasa syukur kok, dek!”

“Bagus kalo gitu, mbak! Bersyukur itu perwujudan kesadaran akan kenisbian kita sebagai makhluk kepada sang khalik! Ungkapan rasa syukur itu sebagai bentuk pengakuan akan ketidakmampuan kita tanpa kehendak Tuhan, mbak! Orang yang banyak bersyukur, dipastikan akan terjauhkan dari kesusahan hati dan kehidupan!” kata Gilang.

“Wah, adek kayak Kakung aja, sudah bisa menceramahi!” sela Dinda sambil tertawa.

“Adek nggak bermaksud menceramahi lo, mbak! Adek nggak berniat menggurui! Adek cuma menyampaikan aja biar mbak makin menyadari akan hakekat kehidupan ini!” jelas Gilang.

“Bersyukur yang indah itu gimana ya, dek?”

“Perbanyak perdialogan batin kita dengan Tuhan, mbak! Mengurung diri, jiwa dan pikiran sesaat di musolla, satukan semuanya untuk bercengkrama dengan ke-esa-an Tuhan! Heningkan seluruh lahir batin dan elemen kemakhlukan kita sesaat, senandungkan betapa ringkihnya kita tanpa kekuatan Tuhan! Rendahkan jiwa dan pikiran kita secara total keharibaan-Nya! Sadari diri betapa semua kekuatan dan kekuasaan yang sekarang ada di kita sepenuhnya adalah pemberian Tuhan, bukan karena kedigdayaan kita, bukan karena kepiawaian kita, bukan karena kehebatan kita, bukan karena diberi oleh sesama!”

“Adek kan sudah sering lakuin prosesi penyadaran ke-makhluk-an itu, apa yang adek dapatkan?” tanya Dinda.

“Ketenangan, mbak! Kenyamanan batin! Keikhlasan menjalani takdir kehidupan! Sungguh, bersyukur itu indah! Semakin kita banyak bersyukur, makin nikmat keindahan itu kita terima!” kata Gilang.

“Terus, dengan banyak bersyukur itu sifat apa yang terkikis, dek?!”

“Sifat iri dengki, mbak! Kalo kita terbiasa mensyukuri yang diberikan Tuhan, sifat iri dengki itu akan terkikis secara perlahan! Sifat sombong dan besar kepala akan berganti dengan kerendahan hati! Sifat arogan akan berubah dengan pengayoman! Tapi semua itu berproses, mbak! Nggak bisa ujug-ujug! Dan yang pasti, ekspresi pensyukuran yang indah itu hanya bisa dirasakan secara pribadi! Tak bisa digaungkan dalam suatu kelompok! Karena pada hakekatnya, diri kita sendirilah yang menentukan kehidupan ini mau dikemas seperti apa!” kata Gilang sambil masuk ke kamarnya, melanjutkan tidurnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *