0 views

Kue Lapis

DINDA menegur Gilang untuk tidak terlalu banyak makan kue yang disuguhkan di meja saat hadiri acara khitanan temannya di suatu desa pelosok Kalianda, siang kemarin.

“Jangan banyak-banyak makan kuenya, dek! Kayak kelaperan aja!” tegur Dinda.

“Enak kuenya, mbak! Apalagi yang kue lapis ini! Selain asyik ngelepas satu persatunya, juga manis-manis gurih gimana gitu!” sahut Gilang sambil menarik satu persatu lapisan kue lapis dalam beragam warnanya.

“Ya memang enak, dek! Tapi mbok ya jangan keliatan kemaruk gitulah! Banyak tamu lain yang liatin adek makanin kue dari tadi!” bisik Dinda.

“Ya biar aja orang liatin, mbak! Yang adek makan kan emang ada di atas meja depan kita, itu artinya ya buat kita! Kalo tamu yang lain nggak dapet kue lapis di mejanya, berarti ya sudah nasibnya, mbak! Gitu aja kok repot!” ucap Gilang dengan mulutnya yang tetap berisi makanan ringan.

“Agak di-erem dulu nafsu makannya itu, dek! Isin dan saru kalo sepiring kue ini langsung abis!”

“Nyantai aja sih, mbak! Kan masing-masing tamu juga sudah disediain kue di mejanya! Salah mereka kalo nggak mau ngabisin! Lagian, yang punya hajat juga seneng kalo semua yang dihidangkan abis oleh tamu!” sela Gilang.

“Adek tau nggak maknanya kue lapis ini? Kue kayak gini selalu ada dalam setiap hajatan di kampung-kampung!” ujar Dinda.

“Nggak tau, mbak! Yang adek tau, kue lapis ini enak, manis dan gurihnya terasa bener! Mak nyuus pokoknya!” kata Gilang.

“Kue ini sengaja dibuat berlapis dengan aneka warnanya, dek! Itu punya maksud, nggak asal buat enak di makan aja!”

“Ah mbak ini! Apa aja dikupas sisi filosofinya lo! Emang apa sih maksudnya?!”

“Itu menggambarkan betapa kenikmatan itu perlu kebersamaan! Kekuatan itu lahir dari persatuan! Juga menggambarkan bahwa masing-masing punya peran, punya tempat, punya kelenturan untuk menyatu sehingga jadi kekuatan yang besar!” urai Dinda.

“O gitu to, mbak? Jadi nggak asal buat aja yang namanya kue lapis itu?!”

“Nenek moyang kita dulu selalu menanamkan nilai-nilai keluhuran dalam kehidupan dengan beragam caranya, dek! Salah satunya ya dengan membuat makanan dan kue-kue semacam ini! Jadi bukan asal buat aja! Apalagi asal memunculkan kreasi tanpa menimbang makna filosofinya!” kata Dinda.

“Wah, kalo hajatan zaman dulu repot ya, mbak? Harus ada kue jenis tertentu dalam hajatan tertentu, nggak bisa sembarangan!”

“Itu tanda nenek moyang kita sejak dulu sebenernya penuh peradaban dalam kehidupannya, dek! Sampai urusan penganan untuk tamu aja ditata apa saja yang disuguhkan pada acara-acara tertentu! Kapan harus ada penganan jenis dodol, kapan sekubal disuguhkan! Semua ada tatanannya, dek! Dan semua menyimpan nilai! Ada pesan-pesan kehidupan yang dititipkan pada setiap suguhan itu! Hanya kita yang hidup era sekarang, melupakan itu semua!” jelas Dinda.

“Seru ternyata zaman dulu itu ya, mbak! Ini adek kasih mbak lapisan kue yang ditengah-tengah! Maknanya, mbak jadi penyeimbang!” kata Gilang sambil melepas lapisan ketiga dari lima lapis kue ditangannya dan dimasukkan ke mulut Dinda.(ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *