Teriakan Yang Tak Bergema

DENGAN wajah kesal, Gilang meninggalkan lapangan. Sesekali kakinya menghentak ke tanah. Pertanda rasa kesalnya memuncak.

“Nyantai aja, dek! Namanya pertandingan itu ada saatnya kalah, ada waktunya menang! Bahkan, draw pun sesuatu yang lumrah! Jadi nggak usah dibawa kesel-kesel ginilah! Nambah capek badan aja!” ucap Dinda menyambut Gilang di tepi lapangan sambil memberikan handuk kecil untuk mengelap keringat.

“Ya kesellah, mbak! Adek kan sudah sejak tadi teriak-teriak kasih instruksi ke kawan-kawan! Biar permainannya berganti strategi! Pergerakannya diubah dengan posisi 4:3:3! Jadi serangan lebih tajam! Tapi kawan-kawan cuek aja! Masih terus bertahan di pola 4:5:1! Jadi serangannya ya monoton aja! Cuma bisa bermain dengan tembakan jarak jauh!” sahut Gilang dengan nada kesal.

“Ya udah, nggak usah jadi kesel ya, dek! Namanya ngurus orang banyak kan nggak mudah! Lagian cuma kalah 1 gol aja kok!”

“Mbak, adek ini kapten lo! Sesuai instruksi pelatih, pada saat-saat kritis, instruksi kapten harus diikuti dan dijalankan! Ini nggak direspon sama sekali! Mau kemasukan berapa gol pun, kalah ya tetep aja kalah, mbak!”

“Mbak tau, adek teriak-teriak kasih instruksi ke kawan-kawan itu! Tapi mungkin teriakan adek nggak bergema! Jadi cuek aja kawan-kawan adek!”

“Maksudnya teriakan adek nggak bergema itu apa, mbak? Ini kan lapangan bola, bukan main in door, ya pastilah nggak bergema, mbak!”

“Maksudnya, teriakan adek itu nggak dipahami dengan baik sama pasukan adek, gitu lo! Bukannya mereka nggak denger, tapi karena keasyikan main dan terbawa gaya main lawan, jadi teriakan adek itu nggak bergema di hati kawan-kawan!” kata Dinda.

“Jadi maksudnya didenger tapi nggak nyampe pikiran dan hati kawan-kawan, gitu ya mbak?!” ucap Gilang.

“Iya, semacam itulah, dek! Dan hal kayak gini mah lumrah aja kok, dek! Jangan kan di urusan permainan bola, yang memang menguras tenaga dan konsentrasi, sehingga sering lambat memahami dalam menjalankan instruksi! Di birokrasi yang termasuk dunia setengah serius setengah santai aja kejadian semacam ini bisa dibilang biasa kok, dek!”

“O gitu, mbak?! Emang ada ya kejadian teriakan pimpinan tak bergema di bawahan?!” sela Gilang.

“Ada dek! Salah satu contohnya pembangunan bendungan Way Tatayan di Lampung Tengah! Jelas-jelas pimpinan berteriak kalo pembangunannya harus oke banget! Karena bendungan itu amat diperluin petani! Juga proyek itu menyangkut gengsi sang pimpinan! Tapi kenyataannya malah kacau balau!”

“Emang gimana kejadiannya, mbak?!”

“Proyek bergengsi itu nggak selesai sampai pada waktunya! Malahan ada kasus pembayarannya menyalahi ketentuan yang ada! Indikasi kuat adanya permainan di instansi yang tangani proyek bendungan tersebut! Nah, sekarang kasak-kusuklah mereka agar teriakan pimpinan yang tak bergema itu jangan sampai terdengar oleh pimpinan!” urai Dinda.

“Jadi pimpinan dibohongi bawahan ya, mbak?!”

“Bukan cuma dibohongi, dek! Tapi juga diakal-akali bahkan terkesan nggak dianggep sama sekali itu teriakan pimpinan! Banyak peristiwa semacam ini, dek! Tinggal pimpinan aja yang koreksi, apakah teriakannya masih bergema atau dianggap sekadar angin lalu saja oleh bawahan!” kata Dinda sambil mengajak Gilang meninggalkan stadion dan pulang ke rumah. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *