50 views

Jalan Masih Panjang, Anakku…!

SORE tadi, Dinda dan Gilang menonton sebuah film klasik di XXI Mal Boemi Kedaton. Sambil jalan pulang, Gilang banyak diam.

“Kok diem aja sih, dek? Mbok ya ngobrol to?!” tegur Dinda.

“Adek lagi ngebayangin bagian film tadi, mbak! Ada secuil ceritanya yang buat Adek terkesan bener!” sahut Gilang.

“O gitu, yang adegan apa, dek?!”

“Saat sang anak minta izin dan doa kepada ibunya untuk melaksanakan ibadah umrah! Sang anak bersimpuh di depan ibunya yang duduk di kursi saat menyampaikan permohonannya! Dan sang ibu, dengan tangannya yang keriput dan lemah berkata: bismillah ya, nak! Jalan masih panjang buatmu, anakku..!” tutur Gilang.

“O yang adegan itu to! Terus apa yang buat adek terkesan? Kan biasa juga kita sebagai anak bersimpuh di depan mama, minta doa dan restunya! Utamanya kalo kita mau ulangan, ujian atau mau ikut perlombaan!” sela Dinda.

“Kalo kita kan emang masih anak-anak, mbak! Tapi di film tadi kan sang anak itu sudah jadi pejabat tinggi, sudah punya anak juga! Kaya raya dan dermawan! Kok masih saja mau bersimpuh kayak gitu di depan ibunya! Ini yang buat adek terkesan, mbak! Sungguh suatu kepribadian yang amat langka di era sekarang ini!”

“Betul itu, dek! Secuil adegan di film itu memang layak jadi pelajaran buat kita! Sehebat apapun kita, setinggi apapun kita, di depan orang tua, kita tetaplah seorang anak! Karena itu selayaknya ya tetap berperilaku sebagai anak, yang menjaga unggah-ungguh, yang menjalankan etika dan sopan santun!”

“Kalo mbak, ada nggak adegan film tadi yang berkesan?!” tanya Gilang.

“Ada juga, dek! Yaitu ketika sang anak mau dilantik jadi pejabat tinggi! Malem sebelumnya, sang bapak telepon dan ngucapin selamat! Sambil berpesan; sing selalu ati-ati! Terus dari balik telepon terdengar sang bapak menangis haru, karena tak bisa ikut hadir menyaksikan anaknya dilantik! Adegan itu amat tinggi sisi kemanusiaannya, dek! Mirip dengan yang buat adek terkesan!” ucap Dinda.

“Hebat ya film tadi, mbak! Pelajaran kehidupan yang menyingkap betapa damai hidup dalam kasih sayang penuh keikhlasan itu! Betapa nikmat kehidupan yang menyeimbangkan penempatan diri secara apik! Betapa tapakan demi tapakan kemajuan akan selalu terengkuh manakala kita mampu menjaga keutuhan pengaliran darah di masing-masing kita!” tutur Gilang.

“Dan memang sarat makna pernyataan sang ibu itu, dek! Jalan masih panjang, anakku! Itu suatu penegasan bahwa tak ada kata menyerah dalam mengarungi kehidupan nan penuh onak dan duri! Tak kenal kamus berhenti, apalagi mundur, karena melihat tingginya gunung yang harus didaki!

“Jadi apalah perasaan para orang tua melihat anaknya merasa terpuaskan oleh jabatan mentereng dan harta melimpah ya, mbak?!”

“Tentu mereka akan sedih, dek! Apalagi kalo dengan jabatan dan kemewahan yang dimilikinya, sang anak menjadi lupa diri! Perlahan tapi pasti terjauhkan dari kenikmatan kasih suci mereka! Apalagi ketika sang anak merasa bahwa perjalanannya sudah sampai di ujung! Padahal perasaan itu muncul hanya karena sang anak terkagum-kagum oleh apa yang dirasa sebagai kehebatan dan perjuangannya sendiri!” ucap Dinda. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *