58 views

Debur Ombak

MEMANFAATKAN hari libur, Dinda mengajak Gilang menikmati indahnya pantai di sebuah kawasan wisata Kabupaten Pesawaran.

Namun, tidak seperti biasanya, kali ini Dinda lebih banyak menikmati debur ombak setiap kali mencapai tepian pantai. Dia tak tertarik untuk berenang, snorkling maupun menikmati permainan seru; bananaboats.

“Mbak lagi kurang semangat ya nikmati liburan ke pantai?!” tanya Gilang.

“Ya semangatlah, dek! Liat aja, mbak terus di tepian pantai!” sahut Dinda.

“Tapi cuma jalan-jalan doang! Nggak main beragam sarana yang ada! Malah kebanyakan duduk mandangi laut! Ini kan bukan kebiasaan mbak kalo wisata ke pantai!”

“Mbak lagi nikmati debur ombak, dek! Ternyata punya keasyikan tersendiri lo, dek?!” ujar Dinda.

“Apa keasyikannya, mbak? Kan cuma gitu-gitu aja!” sela Gilang.

“Justru itu yang alami, dek! Debur ombak ke tepian pantai itu memang sesuatu yang biasa tapi sebenernya membawa pelajaran tersendiri lo, dek!”

“Apa yang mbak dapati dari menikmati debur ombak itu sih?!”

“Ombak laut yang sampai pantai¬† itu membawa beragam barang terapung apapun ke tepian, dek! Jadi pada hakekatnya laut itu membersihkan dirinya sendiri melalui pergerakan ombak yang tiada henti! Ini sesuatu yang nggak mbak sangka selama ini!” urai Dinda.

“O gitu ya, mbak? Adek juga baru tau ini lo?!” kata Gilang.

“Sama, dek! Mbak juga baru tau ini! Liat aja itu, botol bekas minuman yang terapung, nanti akan sampai di tepian setelah dibawa ombak yang datang bersusulan! Itu proses alam dari laut dalam membersihkan dirinya dari beragam kekotoran yang ada di lingkungannya!”

“Terus, pelajaran apa yang bisa ditularkan buat kita sebagai manusia, mbak?!” tanya Gilang.

“Dalam kehidupan ini ada suatu perjalanan terus menerus yang harus kita lakukan untuk membersihkan diri dari beragam penyakit kemanusiaan, dek! Harus ada kesadaran bahwa kita mesti melakukan hal-hal terbaik secara konsisten untuk mencapai tujuan! Gerakan ombak yang membawa suara deburan ke tepian pantai mengajarkan kepada kita bila keindahan dan kekuatan itu akan lahir dalam proses yang diiringi dengan membuang segala hal yang kurang baik pada diri pribadi kita!” beber Dinda.

“Itu kali ya yang melatar belakangi kalo ketemu anak-anak yang nakal dibilang; ntar gue cemplungin lo ke laut ya, mbak?!”

“Bisa juga begitu, dek! Karena pada hakekatnya memang laut membersihkan dirinya sendiri dari segala sampah dan kotoran yang ada pada dirinya! Bahwa ada aksi-aksi membersihkan laut oleh beberapa pihak pada acara-acara tertentu, itu mengajarkan kepada kita betapa sesungguhnya sebagai sesama makhluk Tuhan kita harus saling bekerja sama untuk kebaikan! Hanya memang, cuma orang-orang tertentu saja yang bisa membaca makna dibalik keberadaan ayat-ayat Tuhan di alam sekeliling kita!” tutur Dinda lagi. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *