0 views

I’tikaf Bersama Warga Metro

¤Catatan Fajrun Najah Ahmad

SUNGGUH hanya karena kuasa Allah SWT sematalah siapapun bisa ke Tanah Suci. Pun tak dinyangka apa yang akan kita alami selama di Tanah Haram.

Bila hampir satu tahun silam saya berangkat bersama istri dan belasan sahabat, kali ini tetap ditemani istri beserta dua saudara: Irvan dan Vero. Tahun 2016 lalu, suasana ibadah terasa lebih “seru”, karena bersama rombongan besar. Kali ini saya lebih banyak I’tikaf sendiri di Masjid Nabawi. Terkenang saat tahun silam ibadah di Masjid Nabawi beserta Kak Puncak Stiawan, Muhammad Junaidi, Y Wibowo, Marlofian Khadafi, Khairul Darmawan, Toni Mahasan, Ahmad Julivan, beserta istri masing-masing. Hanya Bowo dan Toni yang tidak didampingi istri.

Kali ini, saya lebih banyak sendiri di Masjid Nabawi. Dan tak dinyangka, dalam “kesendirian” itu Allah SWT mengirim teman. Dia adalah Sukri Jalili. Saat itu, menjelang Solat Dhuhur, Rabu (27/4), saya sedang baca Alqur’an di salah satu sudut masjid. Tiba-tiba datang seorang pria dan langsung solat tepat di sebelah saya. Nempel betul. Padahal, masih banyak tempat kosong lainnya.

Setelah selesai membaca Alqur’an, pria itu mengenalkan diri. Ternyata berasal dari Kota Metro. Pensiunan pegawai BPN Metro itu menjelaskan keberangkatannya ke Tanah Suci kali ini bersama 30-an warga Metro lainnya. Juga ada 20-an warga asal Bandarlampung. Alhamdulilah, perasaan “sendiri” yang saya rasakan karena terkenang perjalanan umrah tahub 2016 silam, akhirnya terobati dengan kehadiran Pak Sukri Jalili.

Kami pun melanjutkan I’tikaf. Bermunajat kepada Allah SWT, di Masjid Nabawi yang begitu nyaman untuk beribadah. Dan setelah dhuhur-an, kami pun berpisah. Insyaallah bertemu lagi di Lampung. (Bersambung)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *