Kisah Anak Penjaja Tissue

Catatan Fajrun Najah Ahmad (6)

 

SEPUTARAN Masjidil Haram bak pasar pasca solat lima waktu sudah terjadi sejak dulu. Sehilangnya Pasar Seng, pedagang kecil menggelar dagangannya di jalan-jalan yang dilalui jamaah selepas beribadah.

Suasana riuh-rendah pedagang K-5 itu sampai kini mash menghiasi sekitaran Masjidil Haram. Walaupun ribuan toko ada di hotel-hotel, kios-kios. Hebatnya, pedagang K-5 tetap punya pangsanya sendiri.

Saya tertarik dengan keberadaan anak usia 8 tahunan yang duduk menggelar dagangan berupa tissue. Bukan saja yang dijual anak bernama Soleh itu hanya sekadar kertas pengelap keringat dengan harga 1 riyal per-bungkusnya. Tapi sambil melayani pembeli, si Soleh tetap sambil membaca Alquran yang ada ditangan kanannya.

Sesekali ia angkat wajahnya saat ada pembeli. Sepeninggal pembeli, ia kembali terpaku pada Alquran. Dibacanya ayat-ayat suci itu dengan khusu’ dan fasih.

Gaya berdagangnya yang “tidak lazim” itu menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah yang lewat jalan kecil menuju Al Safwa Towers itu. Banyak jamaah yang membeli tissue dagangan Soleh. Dan uniknya, tidak ada jamaah yang minta pengembalian kelebihan bayarnya. Ada jamaah asal Pakistan yang membawa anaknya, memberi uang 10 riyal tapi hanya mengambil 3 bungkus tissue saja.

Saat Soleh bergegas akan mengembalikan kelebihan bayarnya, jamaah itu menolak, sambil tersenyum. Selama 30 menit saya dan istri “menemani” si Soleh menjajakan tissuenya, puluhan bungkus dagangan anak asli Arab itu telah ludes.

Dia cepat-cepat mengeluarkan stok dagangan dari tas kecilnya setiap kali ada yang membeli barangnya. Begitu terus. Sampai kemudian azan berkumandang. Soleh pun bergegas menutup Alquran ditangannya, setelah memberi pembatas. Dia solat sunat 2 rokaat. Jujur, saya kagum dengan Soleh. Gayanya amat beda dengan anak-anak penjaja barang lainnya. Yang berteriak-teriak untuk menarik perhatian jamaah atas yang dijajakannya. Sementara si Soleh hanya duduk sambil membaca Alquran, dan dagangannya ditaruh di depan tempatnya duduk ngedeprok. Hal ini saya jadikan catatan karena baru ini saya menemukan peristiwa seperti itu, walau -alhamdulilah- saya dan istri telah beberapa kali ke Makkatul Mukarromah. (Bersambung)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *