27 views

Nonton Wayang

SORE tadi Dinda telepon Gilang. Dia bercerita kalau kemarin malam diajak pimpinan asrama beserta teman-temannya menonton wayang orang.

“Emang mbak ngerti ya?” tanya Gilang.

“Ya ngerti-ngerti sedikitlah, dek! Itu kan bagian dari budaya bangsa, sebagai anak bangsa, ya sewajarnya kalo kita juga harus tau! Jangan malah orang luar negeri yang mendalami seni budaya bangsa kita, e malah kita nggak ngerti!” ujar Dinda.

“Bagusnya ya ceritanya, mbak?”

“Ya baguslah, dek! Lelakonnya kan spesial! Mencari raja yang memang raja!”

“Ah, masak sih judul lakonnya gitu, mbak? Ngada-ngada aja kali mbak?!” sela Gilang.

“Bener kok, dek! Judulnya ya itu, mencari raja yang memang raja! Emang kenapa, dek?!”

“Aneh aja sih, mbak? Masak sudah ada raja kok masih mencari yang sebenernya raja!”

“Ya nggak anehlah, dek! Kan disana diceritakan, ada raja tapi banyak punggawa yang berperilaku bak raja! Nah, hal itu yang membuat para pembantu raja jadi bingung! Apalagi para punggawa kan sukanya kasih perintah yang aneh-aneh dan mengatasnamakan raja yang sebenernya! Kebayangkan, kalo para pembantu raja yang dikasih jabatan sama raja aja bingung, bagaimana coba dengan rakyatnya? Makin bingungkan?!” urai Dinda.

“Iya juga ya, mbak? Tapi kok bisa-bisanya para punggawa berperilaku bak raja, memangnya si raja benerannya nggak tau, nggak ngontrol, atau gimana, mbak?!”

“Sebenernya, si raja benerannya ya tau perilaku para punggawanya itu, dek! Dia juga ngontrol dan dapet laporan! Tapi karena para punggawanya pinter nyeneng-nyenengin si raja, pinter ngambil ati si raja, dan carmuknya luar biasa, si raja jadi nggak mersoalin lagi semua itu, dek! Bagi dia yang penting jabatan raja tetep ada di dirinya! Nggak dipikirin gimana para pembantunya sering dibuat bingung sama punggawa-punggawa yang selalu setor muka kepada raja! Apalagi mau mikirin rakyatnya, sudah nggak kepikiran lagi, dek! Yang penting, kemana dia jalan, dielu-elukan! Mau makan apa aja sudah ada yang bayarin!”

“Kok ada ya raja yang kayak gitu, mbak?!”

“Ya adalah, dek! Namanya di dunia wayang! Kan terserah sama dalangnya aja! Termasuk kapan raja beneran mau dilengserin atau nggak, ya tergantung mood sang dalang!”

“Terus di lelakon itu sang dalang sudah nyiapin orang buat jadi raja baru nggak, mbak?” tanya Gilang.

“Iya, dek! Sang dalang sudah ngelus-ngelus buat nampilin raja baru! Tapi gimana kelanjutannya mbak nggak tau!” kata Dinda.

“Lho, kok mbak nggak tau? Memangnya kenapa?!”

“Karena mbak keluar tempat tontonan, dek! Mbak ngerasa alur ceritanya nanti mau gimana, sudah kebayang!”

“Kok bisa kebayang? Mbak kan bukan sang dalang?! Harusnya ya sampai selesai dong nontonnya, jadi bisa dipetik hikmah dari ceritanya?!” ucap Gilang.

“Nggak penting nonton sampai selesai, dek! Karena pesan dalam lelakon itu nggak baik! Kalo raja yang dihormati aja bisa diatur-atur dan diem aja kekuasaannya digunakan para punggawa untuk meraup keenakan pribadinya, pada siapa lagi kita sebagai rakyat jelata berharap kehormatan dan kebaikan kehidupan!”

“Jadi maksudnya sang dalang itulah yang disebut sang raja diraja ya, mbak? Hingga cerita apapun bisa dia buat semaunya?!”

“Mbak nggak mau nyimpulin, dek! Sebab, kalo nggak ada sang dalang, nggak bakalan mbak bisa nonton atraksi orang-orang yang lagi jadi wayang!” tutur Dinda sambil menutup teleponnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *