63 views

Bersembunyi Di Balik Awan

“ADEK, tolong kasih tau mama ya? Mbak minta dikirimin baju, utamanya yang tebel-tebel ya?!” kata Dinda saat telepon ke Gilang, sore tadi.

“Lho, emangnya baju-baju mbak kenapa?!”

“Di Bandung ujan terus, dek! Baju-baju mbak nggak ada yang kering-kering abis dicuci dua hari lalu! Lagian mbak kan nggak ada sweater! Ketinggalan di rumah waktu pulang minggu lalu!”

“Masak cuma karena lagi ujan aja mesti minta dikirimi baju sih, mbak? Manja amat! Yang sudah setengah kering ya digosok ajakan bisa sih?!” ucap Gilang.

“Mbak kan lagi repot, dek? Lagi mau ulangan! Nggak sempet!” sela Dinda.

“Bilang aja kalo males ngegosok, mbak! Nggak usah pake alasan macem-macem!”

“Mbak nggak males lo, dek? Cuma memang waktunya nuntut mbak harus konsentrasi belajar! Maka ketimbang pecah konsentrasi gara-gara baju, minta dikirimin aja?!”

“Ah, mbak ini lebay! Gitu aja minta dikirim baju! Jangan biasain bersembunyi di balik awan gitulah, nggak bagus itu, mbak?!”

“Maksudnya apa ngebilangin mbak sembunyi di balik awan itu, dek? Yang ada ya matahari itulah yang sudah dua hari ini sembunyi di balik awan, makanya ujan melulu!” ketus Dinda.

“Maksudnya, mbak itu suka bener berlindung di balik sesuatu yang besar untuk menutupi kelemahan! Gaya kayak gitu jangan dipake, mbak! Sudah nggak jamannya lagi!” kata Gilang.

“Emang ada yang pake gaya sembunyi di balik awan itu, dek?!”

“Ya adalah, mbak! Temen satu tim futsal adek misalnya, karena nggak diturunin waktu pertandingan sampai dua kali, dia minta orang tuanya ngelobi pelatih! Itu namanya gaya sembunyi di balik awan, mbak! Karena kemampuannya dibawah pemain yang lain, memaksa orang tuanya intervensi ke pelatih!”

“Terus akhirnya dimainkan ya sama pelatih?!”

“Ya iyalah, mbak! Karena ngehargai orang tuanya, temen adek itu akhirnya dimainkan di pertandingan berikutnya! Akibatnya, permainan tim menjadi kocar-kacir nggak karuan!”

“Pelatih adek yang salah! Kenapa mau aja diintervensi orang lain! Yang namanya pelatih itu kan independen, punya kebebasan menentukan pemain, punya otoritas penuh terhadap tim!” ujar Dinda.

“Ya gimana mau nolak, mbak! Wong orang tua temen adek itu memang direktur di sekolah?! Salah-salah malah pelatihnya yang kena geser!”

“Wah, repot juga ya kalo gitu, dek? Tapi kejadian mirip juga ada di sekolah mbak lo, dek? Ketua kelas mbak kan sudah mau abis masa baktinya, nah dia sosialisasi ke temen-temen, tapi responnya kurang bagus! Nah, dia minta orang tuanya teleponin orang tua temen-temen buat ngedukung dia lagi! Anehkan?”

“O ada yang gitu juga ya, mbak? Jadi gaya sembunyi di balik awan itu ternyata sudah ngetrend ya? Kalo gaya kayak gini berkembang di urusan lebih besar, bisa bahaya juga, mbak! Karena nantinya, generasi kita, menjadi anak-anak yang bisanya cuma ngandelin orang tua aja! Gimana kayak kita yang rakyat jelata ini ya, mbak?!” tutur Gilang.

“Nggak usah dipikirin soal itu mah, dek! Namanya awan kan selalu bergeser, akhirnya juga sorot matahari nggak bisa ditutupi lama-lama! Toh mau ada awan atau tanpa awan, kita ya tetep berjuang sendiri! Dan itu lebih nikmat!” kata Dinda lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *