Yang Tersembunyikan

“DEK, kenapa sih kalo mau ngasih orang minta-minta kok uangnya adek lipet ampe kecil terus digenggem keras gitu? Ya kasih-kasih ajalah apa adanya!” ucap Dinda saat melihat Gilang memberi selembar uang ke wanita tua di sebuah traffighlight.

“Ya kan ada ajarannya, mbak! Kalo kita memberi itu jangan sampai menjadi riya! Tangan kiri nggak perlu tau saat tangan kanan memberikan sedekah atau semacamnya!” kata Gilang.

“Tapi ya nggak sampai harus dilipet kecil gitulah, dek! Intinya itu kan kalo berbuat kebaikan untuk sesama nggak perlu dicerita-ceritakan, dek! Karena nawaitunya itu keikhlasan, berbagi buat sesama! Bukan ngarep dielu-elukan orang!”

“Ya sudah benerkan adek, mbak? Soal dilipet kecil atau kasih biasa aja, itu kan cuma cara aja! Masing-masing kita kan punya gaya dalam ekspresikan sesuatu! Jadi nggak usah dipersoalin urusan cara atau gaya, yang penting kan maknanya!”

“Iya, adek sudah bener! Cuma ada hal-hal yang harus disembunyikan dan ada hal-hal yang harus ditampakkan, dek! Kalo kita berbuat kebaikan, nggak usah diomong-omongkan! Tapi kalo kita melakukan ketidakbaikan harus ditampakkan! Dalam artian penampakan perubahan sikap, perubahan perilaku!”

“Maksudnya, mbak…?!” tanya Gilang.

“Ada pesan Sidi (kakek) yang harus kita ingat, dek! Lupakan segala kebaikan kita pada orang lain! Tapi jangan sekali-kali melupakan kebaikan orang lain pada kita! Makna pesan itu sangat dalam, dek! Mengajarkan pada kita bahwa suatu kebenaran itu tak harus ditampakkan! Sebaliknya, sesuatu yang tersembunyikan itu belum tentu tidak benar! Itu sebabnya, kita jangan terlalu mudah memvonis orang! Jangan gampang-gampang amat menilai orang! Karena dalam setiap helaan nafas, dalam setiap lintasan alam pikir, dalam setiap jejak langkah, ada dimensi ke-Ilahian yang merasuk pada sisi kemanusiaan kita yang penuh dengan kenisbian!” urai Dinda.

“Bahasanya dalem amat sih, mbak? Adek nggak nyambung lo!” sela Gilang sambil nyengir.

“Tadi kan adek kasih selembar uang buat ibu peminta-minta itu dengan penuh kesadaran untuk tidak riya! Karena itu uangnya sampai dilipet kecil bener! Itu namanya ikhtiar lahiriyahnya, dek! Ikhtiar itu mesti diikuti dengan gerakan hati yang sama, yaitu ikhlas!”

“Ya adek kan ikhlas, mbak?”

“Adek sendiri yang tau soal ikhlas nggaknya, bukan mbak! Akan beda halnya kalo adek berada dalam posisi yang mewajibkan adek menyantuni kaum dhuafa! Ada dua nilai disana, kewajiban dan keikhlasan!”

“Maksudnya kalo adek jadi pejabat, gitu ya mbak?!”

“Iya, kalo adek jadi bupati misalnya, maka adek punya kewajiban untuk menyejahterakan rakyatnya! Itu wajib, dek! Nggak bisa diubah jadi sunah! Nah, yang tersembunyikan itu adalah kewajiban yang diekspresikan dengan suasana batin penuh keikhlasan! Kalo adek nggak ikhlas mewujudkan kewajiban itu berarti adek tidak mendapatkan nilai dari sisi ke-Ilahian! Adek hanya meraih makna dari dimensi kemanusiaan semata! Dan akan merugilah orang-orang berjabatan yang hanya bergerak demi meraih nilai kemanusiaan saja akibat tidak melampirinya dengan keikhlasan!” kata Dinda.

“Memangnya ada ya mbak yang seperti itu?!”

“Ya pasti adalah, dek! Nggak usah mbak sebut namanya ya, nanti malah jadi fitnah! Apalagi hal kayak gini bisa terjadi dalam posisi apa saja, nggak cuma bupati, walikota atau gubernur!”

“Contoh konkritnya kayak apa sih, mbak?!”

“Sebentar lagi kan bulan Ramadhan, dek! Liat aja, pasti begitu banyak program safari ramadhan! Kegiatannya baik, nawaitunya baik, manfaatnya juga baik! Tapi itu semua akan terasa kering makna apabila hanya sekadar prosesi rutin semata! Saatnya meletupkan yang tersembunyikan di hati terdalam kita semua, yaitu keikhlasan! Lampirkan, gelorakan rasa ikhlas itu sebagai pemantapan kegiatan tersebut! Karena hanya dengan keikhlasan itulah kita akan mampu menyatu dengan dimensi ke-Ilahian!”

“Jadi yang selama ini tersembunyikan itu adalah keikhlasan ya, mbak?!”

“Iya dek! Padahal dengan keikhlasan itulah kita akan tetep nerimo apapun situasi yang ada dengan tenang dan istiqomah! Karena Sang Maha Kuasa hanya akan menjaga harkat dan martabat orang-orang yang ikhlas dalam posisi dan kondisi apapun! Walo memang, cuma orang-orang yang tercerahkan yang bisa meramunya dalam keseharian!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *