Menahan Diri

SEMINGGU ini Dinda sibuk kordinasi dengan teman-teman sekolahnya. Tak hanya yang setingkat, tapi kelas di atasnya.

“Ngapain sih sibuk bener kordinasi dengan temen-temen itu, mbak?!”

“Jalin komunikasi aja, dek! Biar jaringan hubungan sesama temen satu sekolah!”

“Kalo cuma sekadar jalin komunikasi antar sesama temen satu sekolah kok intens bener sih, mbak? Sampe-sampe mbak kayak nggak punya waktu lagi buat ngobrol sama adek saking sibuknya!” ujar Gilang.

“Gini lo, dek! Sebentar lagi kan di sekolah mbak mau ada pemilu siswa-siswi milih ketua OSIS! Nah, mbak mau nyalon! Makanya lagi ektra jalin komunikasi dengan kakak-kakak kelas! Biar dapet dukungan nantinya!” Dinda membuka obsesinya.

“Aduh, jnganlah, mbak! Belum saatnya mbak maju ke pemilu milih ketua OSIS untuk sekarang ini!” sela Gilang.

“Lho, emangnya kenapa, dek? Mbak kan sekarang sudah ketua kelas! Punya pengalaman wakil ketua kelas! Pernah dapet penghargaan Leadership Award! Pernah beberapa kali ketua panitia kegiatan amal dan keagamaan di sekolah! Mbak rasa, cukuplah pengalaman itu sebagai modal maju dalam pemilu milih ketua OSIS nanti!” jelas Dinda.

“Tapi kan mbak masih kelas I! Masih junior! Banyak kakak kelas yang lebih mampu dan sudah senior!”

“Adek, soal jadi pimpinan itu nggak diukur sama posisi masih kelas berapa, junior atau senior tau! Juga nggak diukur sama umur; tua atau muda! Tapi mampu apa nggak! Mau apa nggak!”

“Ya tapi kan belum saatnyalah mbak maju buat bertarung untuk jabatan ketua OSIS untuk sekarang ini! Mbak kan masih dapet amanah sebagai ketua kelas! Tuntasin dulu tugas yang ada sekarang dengan sebaik-baiknya sampai akhir masa bakti! Mbak jangan terprovokasi dengan masukan temen-temen yang terus mendorong untuk maju dong! Mbak harus bisa menahan diri!” ucap Gilang.

“Adek perlu tau ya, mbak ini sudah banyak dukungan! Di setiap kelas, mulai dari kelas I, kelas II sampai kelas III sudah ada tim suksesnya! Mereka rajin ngenalin siapa mbak ke temen-temen sekelasnya! Dan menurut temen-temen tim sukses, responnya bagus! Apalagi kan mbak sekarang masih ketua kelas, jadi lebih mudah temen-temen kelas lain menilai gimana kinerja mbak!” sahut Dinda.

“Mbak jangan telen mentah-mentah omongan tim sukses itu! Karena bisa aja mereka nyampein yang bagus-bagusnya doang! Lagian, emang kenapa dengan ketua OSIS yang sekarang, mbak? Gimana kinerjanya buat kepentingan murid dan nama sekolah?!”

“Evaluasi temen-temen, ketua OSIS yang sekarang kurang trengginas, dek! Programnya itu-itu aja! Copy paste dari periode sebelumnya! Kalo pun ada terobosan, baru di tingkat omongan, wacana! Βelum ada realisasinya! Padahal kan persaingan antar sekolah makin keras, jadi perlu figur ketua OSIS yang cepat dan tepat dalam mewujudkan omongan atau program! Yang sedikit bicara banyak kerja!”

“Aduh, saran adek nggak usah dilanjut deh, mbak! Mbak kemakan evaluasi temen-temen yang cuma ngajuin kelemahan ketua OSIS sekarang doang! Mbak nggak dikasih tau kelebihan-kelebihannya! Karena nggak mungkin yang namanya evaluasi itu cuma nemuin kelemahan, mbak! Antara kelemahan dan kelebihan itu pasti ada! Mbak dijongkrokin temen-temen aja kalo gini caranya! Mbak harus bisa menahan diri! Jangan karena diiming-iming kanan-kiri, dibuatin tim sukses disana-sini, terus mbak ngerasa kalo sudah kuat dan pantes jadi ketua OSIS! Hidup ini berproses, mbak! Yang lahir dari proses ujug-ujug atau prematur itu nggak akan bagus nantinya!” tutur Gilang.

“Kok adek malah nggak dukung mbak sih? Wong orang lain aja mau bersibuk-sibuk buat mbak?!” ketus Dinda.

“Mbak, ngedukung itu nggak harus selalu meng-iya-kan hasrat atau impian mbak! Ngedukung itu bisa berupa nggak setuju dengan langkah mbak! Bisa juga dengan mengkritik atau kasih saran! Anggep aja lelakon sekarang ini sebagai proses mbak ngenalin diri lebih luas di sekolahan! Hentikan obsesi jadi ketua OSIS itu! Karena menahan diri lebih baik ketimbang lupa diri akibat membayangkan manisnya sebuah posisi!” kata Gilang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *