Pesohor Yang Tidak Dikenali

ANTUSIASME yang menggelora pada diri Dinda langsung drop saat memasuki ruang pentas balet tingkat provinsi. Selain mendapat kursi di pojok belakang, tidak satu pun panitia maupun yang akan atraksi mengenali dirinya.

“Kok nggak ada yang ngenali mbak ya, dek?!” ucap Dinda setelah duduk di kursinya.

“Ya kan rame gini sih, mbak? Wajar ajalah kalo nggak ngenalin mbak!” sahut Gilang.

“Tapi event organizernya kan tempat mbak balet dulu, dek! Mbak kan juga berperan ngangkat namanya di pentas balet daerah kita! Mbak kan pernah meraih tropy terbaik tingkat nasional membawa nama tempat balet ini! Piagamnya aja dipajang di kantornya! Masak sih sudah ngelupain gitu!” sambung Dinda dengan rasa penasaran.

“Prestasi mbak itu kapan? Kan sudah beberapa tahun lalu! Wajar aja kalo mereka yang masih aktif di tempat balet sudah nggak ngenalin mbak lagi!”

“Kok bisa ya, cuma dalam beberapa tahun ngelupain orang yang pernah berjasa membesarkan nama kursus balet ini! Apa karena mbak nggak lagi pernah dateng-dateng ke tempat kursus balet itu ya, dek?!”

“Jangan lebay, mbak! Sudah biasa itu pesohor yang nggak dikenali lagi dalam waktu hanya beberapa tahun! Nyantai aja lagi, mbak! Kita kesini kan mau bernostalgia! Mbak mau menikmati aksi-aksi pebalet era sekarang dan mengenang gimana waktu dulu mbak berjaya!”

“E, jangan dibilang nggak sudah nggak berjaya ya, dek? Mbak nggak aktif latihan balet lagi kan karena kesibukan sekolah aja, lagian dideket asrama mbak nggak ada tempat kursus balet! Kalo soal kemampuan, mbak masih berani mentas lo!” kata Dinda.

“Ya, soal kemampuan, adek nggak ragukan, mbak! Tapi semua kan tergantung pada kesempatan, mbak! Walo pun mbak piawai di panggung dengan aksi-aksi baletnya tapi kalo nggak dikasih kesempatan mentas, kan nggak ada gunanya juga!” sela Gilang.

“Iya sih, dek! Lagian emang gitu ya, ada masanya pesohor nggak dikenali lagi?!”

“Sudah pasti kalo itu mah, mbak! Semua ada masanya dan setiap masa ada pesohornya! Itu hukum alam namanya, mbak! Semua orang pasti akan mengalaminya, suka atau tidak suka! Kalo mbak masih mendingan, banyak orang yang merasa masih memegang peran penting, sebenernya hanya kebesaran rasa aja, orang banyak nggak ngenalin perannya!” kata Gilang.

“Maksudnya apa, dek..?!”

“Ya kalo mbak kan emang sudah lama nggak berkecimpung di dunia balet, wajar aja orang nggak ngenalin lagi! Ada orang yang masih megang jabatan penting, pas ketemu warganya di pasar, dia dicuekin aja, e malah marah! Padahal ya wajar aja, sebab warga itu memang nggak ngenalin siapa dia!”

“Emang ada gitu, dek?!” tanya Dinda.

“Ada, mbak! Beberapa hari lalu adek nemeni mama ke pasar tradisional! Pas di tempat jualan ikan, lagi ada rame-rame! Rupanya bapak pejabat itu lagi marah-marah karena dia tanya ke pedagangnya siapa dirinya, si pedagang itu nggak ngenalin!”

“Emangnya siapa orang itu, dek?!”

“Dia itu bupati, mbak! Karena ngerasa dirinya bupati, dikiranya semua orang di kabupaten itu ngenalin dirinya! Nggak taunya pedagang ikan itu nggak tau siapa dia! Bukannya baik-baik ngenalin dirinya, malahan dia marah-marah!”

“Terus apa kata pedagang itu setelah tau kalo yang didepannya bupati, dek?!”

“Dengan cueknya pedagang ikan itu bilang; terus kalo bapak bupati, saya harus kasih diskon 20% ya? Atau bapak mau beli semua dagangan saya dengan uang setoran proyek 20% itu ya? Dikasih omongan gitu, si bupati langsung pergi! Ketawalah semua pedagang dan pengunjung pasar yang denger omongan itu, mbak!”

“Kenapa bisa sampe kayak gitu ya, dek? Kasian juga sama bupatinya ya?!”

“Nggak tau adek kenapa bisa sampe gitu, mbak! Yang adek tangkep, sekarang ini rakyat nggak ngarepin pesohor, tapi ngimpiin orang biasa-biasa aja, orang yang ngerasain detak jantungannya rakyat ngadepin kian sulitnya kehidupan, untuk jadi pimpinan pemerintahan! Dengan begitu, kepemimpinannya di pemerintahan nantinya bener-bener bersama rakyatnya! Bukan bermain pat-gulipat untuk ngelipat impian rakyat demi mengenakkan dirinya sendiri!” ujar Gilang.

“Tapi apa ya bisa orang biasa-biasa aja terpilih, dek? Wong yang ada sekarang ini, orang nggak dikenal aja dikemas sedemikian rupa buat jadi pesohor?” kata Dinda.

Gilang tak menjawab. Hanya mengangkat bahunya saja. Sambil matanya tetap ke arah panggung. Menonton atraksi pebalet-pebalet nan lentur dalam beragam gerak indahnya. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *