17 views

Belajar Doang…!

DENGAN semangatnya Gilang bercerita pada Dinda kalau pekan depan dia dan teman sekelasnya akan study tour ke sekolah setara di luar pulau.

“Kemana itu dek?” tanya Dinda.

“Ke Jawa Timur, mbak! Adek lupa nama kotanya apa! Yang jelas, ke sekolah yang setara dengan sekolah adek ini!”

“Terus disana ngapain?”

“Ya ngeliat gimana sekolahnya, gimana cara mengajar guru-gurunya, fasilitasnya, banyaklah pokoknya mbak! Kayak mbak nggak pernah aja!” ucap Gilang.

“Maksud mbak, setelah study tour itu adek ngapain?”

“Hasilnya kunjungannya nanti disuruh dibuat tulisan, mbak! Yang lebih bagus dari sekolah adek sekarang, akan dijadikan catatan oleh pihak sekolah untuk peningkatan proses belajar mengajar ke depan! Gitu kata pak guru yang dampingi kami, mbak!” jelas Gilang.

“Cuma dijadikan catatan aja ya, dek? Itu mah sudah kuno tau, dek! Kegiatan kayak gitu itu sebenernya nggak ada manfaatnya untuk perbaikan sekolah, dek! Yang ada ya jalan-jalan, refreshing doang!” ujar Dinda.

“Emang gitu, mbak?” sela Gilang.

“Lha iyalah, dek! Kegiatan ini kan setiap tahunnya dilakuin, ada nggak perubahan ke perbaikan di sekolah, nggak adakan? Mbak mah sudah merhatiin dari dulu sebenernya, dek! Ini kegiatan mubazir aja! Ini niru-niru kelakuan para pejabat aja!” kata Dinda.

“Maksudnya niru-niru kelakuan para pejabat gimana, mbak?!”

“Kan setiap dinas pemerintah itu pasti ada aja program kunjungan kerja, study banding dan sebangsanya itu pada setiap tahun anggarannya, dek! Itu cuma cara para pejabatnya buat jalan-jalan doang! Memang resminya ya mendatangi dinas terkait di daerah yang dituju! Sok-soknya belajar ini itu yang nyangkut tupoksinya! Tapi hasilnya nanti, ya nggak ada!” beber Dinda.

“Hasilnya nggak ada gimana, mbak?!”

“Ya mereka itu cuma soknya aja diskusi, pengen tau program-program unggulan dinas di daerah itu! Kayak serius gitulah! Tapi, apa yang didapet, nggak akan diwujudin sepulangnya ke dinas asalnya, dek! Jadi, para pejabat itu cuma belajar doankg! Nggak ada realisasinya!”

“O gitu, mbak! Sudah tau nggak ngasilin perbaikan apa-apa kok ada anggarannya terus, mbak?!” kata Gilang.

“Ya begitulah cara pejabat refreshing, dek! Bisa ngeliat kota-kota lain dengan alasan dinas study banding! Kan dapet biaya transportasi gratis, akomodasi gratis, plus uang saku juga! Kegiatan berbau hura-hura kayak gini sudah puluhan tahun berjalan, dek! Mau siapapun gubernurnya, bupatinya, walikotanya ya sama aja! Nggak pernah ada nilai lebih buat perubahan kebaikan di dinas terkait itu, dek!”

“Gimana kalo anggaran buat kegiatan itu dipangkas aja, mbak?”

“Yang tukang mangkas anggarankan anggota Dewan, dek! Lha kalo sudah kongkalikong mau gimana? Wong anggota Dewan juga ada kegiatan bergaya yang sama kok! Ada bimtek untuk beragam materi! Padahal intinya ya sama aja, belajar doang!”

“Pantes aja nggak ada terobosan-terobosan program spektakuler selama ini ya, mbak?! Karena pejabatnya aja terkungkung dalam situasi; belajar doang! Βelum nyampe ilmunya buat ngerealisasiin bagi kemajuan daerah!” ketus Gilang sambil tertawa ngakak. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *