146 views

Damailah Dalam Kebersamaan

ALHAMDULILLAH…! Semua prosesi wajib melepas ibunda berakhir Kamis (18-5) siang. Setelah diawali pembacaan tahlil dan doa, jenazah dimakamkan. Kini, ibunda nyaman dan damai dalam kebersamaan.

Kebersamaan yang saya maksudkan, ibunda dimakamkan dalam satu “cungkup” yang berisikan bapaknya, K.H. Mudatsir Naim, ibunya, Hj Siti Kholidiyah, ayundanya dan adek bungsunya: Machsusah Ujiati.

Suasana pemakaman penuh keharuan. Bukan karena tangisan tapi senandung tahlil yang dilantunkan ratusan orang dengan suara perlahan dan penuh ke-khusu’-an.

Saking mencekamnya suasana terbawa dalam alunan puja-puji kepada Sang Khaliq, bapak saya: K.H. Nuril Huda, meneteskan air matanya. Hal yang selama ini bisa ia redam untuk dilihat banyak orang.

Perlahan tapi pasti, jenazah ibunda akhirnya tertutupi dengan tanah. Selamat jalan, ibunda. Damailah dalam kebersamaan dengan kedua orang tua dan dua saudara. Kami selalu mendoakanmu.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghormatan kepada para sahabat, para sejawat, teman dan sanak kadang, yang telah dengan tulus menyatakan turut berduka cita atas wafatnya ibunda saya; Hj Qodrotut Dhurroti. Juga perhatian dari banyak kalangan sejak beliau sakit, wafat dan dimakamkan. Tak saya sangka, lebih dari 1.000 ucapan bela sungkawa yang saya dan istri terima. Itu semua sungguh satu bukti nyata, betapa saya dan istri memiliki begitu banyak keluarga, sebaliknya saya dan istri juga bagian dari keluarga para sahabat, teman dan kolega.

Memang, ada yang secara khusus “setengah memaksakan” untuk bisa takziyah langsung. Misalnya, Kamis (18-5) dinihari, jam 02.00 WIB, datang ke rumah duka di Kemang Pratama Regency Bekasi, empat sahabat saya; Muhammad Marlofian Khadafi, Mursalin, Toni Mahasan dan Alpian. Meski tidak sempat bertemu lagi dengan jenazah ibunda yang sudah dibawa ke Soekarno Hatta, namun kehadiran mereka tetap diisi dengan doa.

Pun Kamis (18-5), datang ke rumah duka kami di Gotak, Klorogan, Uteran, Madiun, sahabat saya; Marzuki dan Muhammad Junaidi. Kakak beradik yang beken disapa: Daing Juki dan Bung Adi itu sengaja menyempatkan hadir dalam takziyah bersama keluarga saya di kampung. Sungguh suatu penghormatan yang membuat saya demikian terharu.

Dan yang juga berkesan, saat saya sampai di rumah duka di Madiun, di depan Masjid Darus Solihin yang ada di kompleks Ponpes Sabilit Thohirin yang didirikan kakek saya dan tempat ibu saya bersemayam sekarang, telah ada bunga papan duka cita dari Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo dan Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi Lampung Drs Intizam. Jauh dari bayangan saya sebelumnya, kalau ada bunga papan ucapan duka cita sampai ke kampung saya yang ada di pelosok dari orang-orang penting di Lampung. Tapi itulah realitanya, pertanda kuat betapa “kebersamaan” itu tak mengenal jarak.

Sungguh, hanya ucapan terima kasih yang dapat saya sampaikan mewakili keluarga atas semua perhatian, doa dan dukungan moril maupun materiil dari banyak sahabat terkait dengan wafatnya ibu saya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan para sahabat terbaik saya dan istri. Wassalam. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *