16 views

Matahari, Bulan Dan Bintang

BEGITU Gilang masuk rumah, Dinda langsung bertanya: “Gimana ulangannya, dek?”

“Alhamdulilah bisa, mbak! Cuma tadi pas pelajaran Bahasa Indonesia disuruh mengarang!” sahut Gilang.

“Jadi adek mengarang apa?”

“Judulnya sudah disiapin sama guru, mbak! Jadi semua sama! Judulnya; matahari, bulan dan bintang!”

“Oh gitu ya…? Terus apa yang adek tulis?!”

“Adek sampaikan bahwa matahari, bulan dan bintang itu masing-masing sudah ada tugasnya! Ada penentuan waktunya dan posisinya! Matahari hadir di bumi sejak pagi sampai petang! Berganti bulan yang bertugas memberi penerangan bagi bumi! Dilengkapi dengan kehadiran bintang yang memperindah alam semesta!” urai Gilang.

“Wah, adek pakai kamus ayat-ayat Tuhan ya dalam membuat karangannya?!”

“Ya iyalah, mbak! Kan memang sudah jelas Tuhan mengatur tata surya yang ada, ngapain lagi kita improvisasi! Hal-hal yang sudah ada dalam ayat-ayat Tuhan ya kita ikuti aja, nggak usah nerjemahin macem-macem! Karena salah-salah malahan kita terjebak dalam penerjemahan yang keluar dari apa yang telah ditentukan Tuhan!”

“Itu kalo dalam konteks sesungguhnya, dek! Dalam kehidupan nyata kan acapkali muncul istilah matahari kembar, gimana nurut adek?!” kata Dinda.

“Kalo itu sih tinggal berpulang kepada sang matahari aja, mbak?” sela Gilang.

“Maksudnya apa, dek?!”

“Ya kalo seseorang itu tau persis dirinya adalah matahari, nggak bakalan dia akan berpikir adanya matahari kembar, mbak! Karena memang hanya dia matahari sesungguhnya! Masalahnya, sang matahari itu sering mengecilkan dirinya sendiri, maka lahirlah pemikiran adanya matahari kembar itu!”

“Jadi sebenernya tergantung pada sang matahari ya, dek?!”

“Ya iyalah, mbak! Kalo dia bener-bener matahari, ya dia tau persis kalo hanya dirinyalah sang matahari itu! Ya hanya dirinyalah yang bisa memberi sinar ke seluruh alam semesta ini! Tak ada yang lain!”

“Gimana dengan bulan dan bintang, dek?!” ucap Dinda.

“Bulan itu pemberi sinar di malam hari! Logikanya kan sinar bulan lebih terang ketimbang matahari, karena hadirnya di waktu malam! Yang diatur Tuhan kan nggak begitu, mbak! Sinar bulan hanya temaram, kalah jauh dari sorot terik matahari! Artinya, ya bulan itu adalah penerang dibawa matahari! Kalo matahari cemburu dengan bulan, itu salah kaprah, mbak!” kata Gilang.

“Lha kalo bintang gimana, dek?!”

“Bintang bertugas memberikan pernak-pernik akan indahnya alam semesta di malam hari, mbak! Teman sang bulan dalam mengayomi alam semesta di waktu malam!”

“Jadi masing-masing memang sudah ada posisi dan perannya ya, dek?! Tapi kenapa dalam kehidupan kita seringkali antara yang berposisi sebagai matahari, sebagai bulan atau sebagai bintang ada kesan bersinggungan ya, dek?!”

“Sederhana aja kok masalah sebenernya, mbak! Yaitu masing-masing acapkali lupa menempatkan posisi dirinya! Nah, mumpung bulan Ramadhan, saatnya bagi kita untuk belajar menata posisi kehidupan sesuai ketentuan Tuhan! Karena hanya dengan itu kita akan tau sebenernya kita ini matahari, bulan ataukah bintang! Sekaligus akan bisa menempatkan diri sebagaimana posisi yang ada pada diri kita! Kalo itu terwujud, kehidupan ini akan indah dalam kebersamaan yang tertata apik selaras dengan tatanan Tuhan!” ujar Gilang sambil tersenyum. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *