18 views

Balada Cinta Awak Lan Sikil

“LUAR biasa ya ceritanya, mbak! Sutradaranya bagus betul ngemasnya!” ucap Gilang pada Dinda selepas menonton pagelaran drama kolosal di taman budaya, sore tadi.

“Iya, emang bagus tontonan tadi, dek! Banyak makna yang bisa kita petik! Judulnya pun menarik! Pake kalimat awak lan sikil! Kirain mbak apa, nggak taunya singkatan dari wakil!” sahut Dinda yang juga puas dengan apa yang baru saja ditontonnya.

“Yang nurut adek luar biasa itu adalah ekspresi sang wakil panembahan itu, mbak! Begitu cintanya dia dengan kekuasaan yang digenggamnya sampai-sampai bersikap melebihi Tuhan!” kata Gilang.

“Oh ya, yang mana ya dek?”

“Yang tadi lo, mbak! Bagaimana dengan beraninya dia bicara lantang dengan sang panembahan kalo seorang pengawal nggak boleh dikasih apapun selama dia jadi wakil!”

“Oh ada gitu ya, dek? Kali pas mbak ke toilet tadi ya dek? Terus gimana, dek?!” ujar Dinda.

“Iya, pas mbak lagi ke toilet tadi emang! Jadi sang wakil sampe bersitegang dengan sang panembahan soal salah satu orang pengawal itu! Intinya sang wakil minta agar orang itu jangan dikasih hidup di kerajaan selama dia menjabat wakil panembahan! Perilaku itu nurut adek amat sangat berlebihan!” jelas Gilang.

“Kenapa berlebihan, dek? Kan wajar aja sang wakil menyampaikan kemauannya pada panembahan?!”

“Nyampein kemauan sih boleh-boleh aja, mbak! Tapi permintaannya itu yang berlebihan! Bagaimana seorang wakil panembahan bisa berperilaku bagaikan Tuhan! Menutup pintu kehidupan seorang pengawalnya sendiri! Orang yang sejak dulu dekat dengan dia! Orang yang banyak mendukungnya sampai dia jadi wakil panembahan! Ternyata, kekuasaan emang menjadi hal yang bisa menutup mata batin dan pikiran orang ya, mbak?!”

“Oh gitu ya, dek? Kalo begitu ya sudah kelewatan, dek! Bagaimana kalo dia nanti jadi panembahan ya? Baru jadi wakil saja sudah berperilaku melebihi Tuhan! Menutup kehidupan orang itu, apapun alasannya, bukan hak sesama manusia, dek! Hanya Tuhan yang punya hak untuk itu! Tak ada manusia siapapun, dengan pangkat dan jabatan apapun yang berhak menutup kehidupan seseorang di muka bumi ini! Kok bisanya ya sang wakil sampai bersikap begitu, dek?!”

“Ya itulah wujud saking cintanya dia pada kekuasaan yang ada ditangannya, mbak! Sampai-sampai merasa berhak untuk mematikan seseorang dengan menutup pintu kehidupan bagi orang yang selama ini banyak membantu dirinya! Kebayangkan, orang yang banyak berbuat untuk dia aja dipites kehidupannya, gimana dengan rakyat jelata?!” sambung Gilang.

“Wah, ternyata pengaruh kekuasaan itu amat luar biasa ya, dek! Bisa mencerabut seseorang dari jati dirinya sendiri! Bisa membuat seseorang lupa kalo kekuasaannya itu didapatkan karena banyak yang membantunya dan mendapat izin Tuhan!”

“Bener, mbak! Makna itu yang harus kita petik! Betapa kekuasaan itu adalah cobaan! Betapa kekuasaan itu harus digunakan secara adil dan amanah! Yang buat adek ngenes, sang wakil itu kan diistilahkan awak lan sikil! Badan dan kaki bagi sang panembahan kala dia berhalangan atau dalam berbagi penugasan untuk kerakyatan!”

“Maksudnya ngenes dengan posisi awak lan sikil itu gimana, dek?!”

“Ya ibaratnya kan cuma badan dan kaki aja, mbak! Badan untuk mewakili kehadiran sang panembahan! Kaki yang melangkah membawa keterwakilan itu! Kenapa nggak ada tangan, wajah, mulut dan kepala? Karena namanya wakil itu bukan pengambil kebijakan, bukan penyuara keputusan juga bukan pemikir sesuatu yang penting, mbak! Kebayangkan, kalo cuma badan dan kaki aja sudah sedemikian kejam lakunya akibat cintanya yang tak terkendali pada kekuasaan, gimana kalo nanti dia jadi panembahan! Bisa-bisa cintanya pada kekuasaan akan menasbihkan layaknya dia adalah Tuhan!”

“Kalo perilakunya nggak berubah gimana ya, dek?!”

“Tuhan yang akan bersikap, mbak! Karena perbuatannya menutup pintu orang mencari rejeki adalah perbuatan yang menyetarakan kekuasaannya dengan Tuhan! Klimaks pagelaran drama tadi sebenernya menitipkan pesan itu, mbak! Jangan lupa ada Tuhan yang menentukan segalanya! Kita bukanlah apa-apa tanpa izin-Nya!” kata Gilang sambil menggandeng Dinda meninggalkan taman budaya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *