10 views

Berhitung Berkali-Kali

DINDA memprotes  Gilang yang dinilainya terlalu lama mengambil keputusan.

“Ya adek kan harus mikirin dulu dong, mbak! Nggak bisa mau-mau aja! Atau oke-oke-in aja!” sela Gilang.

“Tapi kan adek emang sudah pernah jadi pemain inti di tim sekolah! Kalo klub minta adek masuk tim inti, ya mestinya diterima aja! Itu kan permintaan pelatih, tentu dia sudah menilai adek dari berbagai sisi! Sekaligus itu buktiin kalo adek lolos dalam persaingan sesama anggota klub!” ujar Dinda menyemangati Gilang.

“Yang mbak omongin emang nggak ada yang salah! Adek setuju dengan itu!”

“Kalo adek emang sudah setuju, ngapain pake mikir lama gini?!”

“Mbak, dalam berbagai hal, kita itu harus berhitung dengan cermat! Bahkan mesti berhitung berkali-kali sebelum memutuskan!” kata Gilang.

“Apa coba yang ngebuat adek mesti berhitung berkali-kali itu! Orang lain aja berebut untuk bisa masuk tim inti klub bola ini?!”

“Begini lo, mbak! Kepercayaan yang diberikan pelatih itu kan harus dipertanggungjawabkan! Nah, sebelum memutuskan mau gabung ke tim inti atau nggak, adek kan harus introspeksi diri dulu! Evaluasi kemampuan dan kelemahan adek sendiri dulu! Kira-kira seberapa besar kehadiran adek bisa memberi kontribusi bagi tim ke depannya! Kira-kira dengan masuknya adek ke tim inti, apakah adek bisa segera menyatu dengan temen-temen yang sudah di tim inti sebelumnya! Hal-hal kayak gitu kan mesti dihitung, mbak!”

“Alah dek, yang penting itu masuk aja dulu ke tim inti! Soal yang lain-lain ya sambil jalan aja kan bisa!” sela Dinda.

“Itu yang adek nggak mau, mbak! Sebab adek belajar dari temen-temen yang dulu ada di tim inti, sekarang tergusur! Ternyata ya karena besar ego aja ketimbang kemampuan! Karena pinter carmuk aja sama pelatih padahal kemampuannya pas-pasan!”

“Adek sok idealis deh! Sudah nggak musim tau! Yang ada sekarang ini pragmatis aja! Begitu ada peluang, masuk aja dulu!” kata Dinda.

“Bukan sok idealis, mbak! Tapi kita emang wajib menjaga jati diri kita! Buat apa masuk tim inti kalo cuma dimainkan 15 menit aja! Jadi ngukur kemampuan diri sendiri ditambah belajar dari pengalaman temen-temen, makanya adek berhitung berkali-kali sebelum mutusin nerima apa nggak tawaran pelatih itu!”

“Emang begitu pentingkah berhitung berkali-kali itu, dek?” tanya Dinda.

“Oh iya, mbak! Bagi orang-orang yang tetep punya idealisme, yang mau belajar dari pengalaman, tentu nggak akan mudah meng-iya-kan suatu tawaran atau ajakan walo itu bersuasanakan keenakan-keenakan bahkan kekuasaan sekalipun!” jelas Gilang.

“Apa berhitung berkali-kali itu juga jadi gaya partai-partai nyambut pilgub ya, dek?!”

“Kalo itu sudah pasti, mbak! Jangan kan partai-partai yang bisa mengusung atau mendukung calon! Rakyat jelata di pelosok-pelosok aja sekarang ini sudah terbiasa dengan gaya itu kok! Karena mereka punya harapan, hidup ke depan akan lebih baik dari sekarang! Dan itu sesuatu yang manusiawi aja, mbak! Jadi jangan disalah-artikan kalo orang nggak mudah-mudah meng-iya-kan atas suatu ajakan! Boleh jadi, orang itu lagi berhitung berkali-kali atas kemanfaatan dirinya plus manfaat dari tawaran itu!” kata Gilang yang keukeuh dengan gayanya. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *