`Cabah-Cabeh…!`

“MBAK, mestinya nggak buru-buru gitu dong! Kan sudah lama nggak ketemu, wajar aja kalo ngobrol-ngobrol sebentar!” ujar Gilang.

“Ya gimana dong kalo mbak nggak sreg, dek! Kan nggak bisa dipaksa-paksa! Lagian kan sudah capek, abis tarawih-an masih ngajak ngobrol juga!” sahut Dinda.

“Nggak ada salahnya mbak ladeni sebentar! Mereka itu kan temen-temen mbak! Yang sudah lama nggak ketemu! Jangan kaku gitu dong, mbak! Yang namanya cabah-cabeh itu dalam pergaulan! Walo mungkin hati kita nggak sreg sekalipun, sebab kita ini makhluk sosial!”

“Cabah-cabeh itu apa sih, dek?” tanya Dinda.

“Grapyak gitu lo maksudnya, mbak?!”

“Nah, apa pula grapyak itu, dek?”

“Enteng mulut maksudnya, mbak? Mau menyapa! Mau meladeni sapaan orang! Familiar gitu kalo bahasa Inggrisnya! Nggak kaku, nggak mersigeng sama mau-maunya sendiri!” ucap Gilang.

“Oh gitu to, dek! Bilang aja kalo mestinya mau basa-basi, nggak usah pake kalimat cabah-cabeh atau grapyak segala, mbak kan nggak paham!” sela Dinda.

“Cabah-cabeh itu bahasa Lampung, mbak! Kalo grapyak, bahasa Jawa! Maksudnya ya yang enteng mulut, yang mau nyahuti pembicaraan orang! Yang mau ngomong kalo memang ada sesuatu yang harus diomongin!”

“Emang penting tah dek cabah-cabeh itu?! Gimana kalo lagi nggak sreg diajak ngomong atau mau ngomong?!”

“Pentinglah, mbak! Cabah-cabeh itu upaya kita menyatukan diri dengan orang lain melalui pembicaraan yang bersahut! Cabah-cabeh itu juga wujud kesetaraan kita sebagai manusia, mbak! Cabah-cabeh itu pun sarana bagi kita untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain! Kan nggak mungkin kita diem aja orang lain bisa ngebaca mau kita, mbak? Jadi ya harus diomongin! Kalo kita nggak mau cabah-cabeh dengan alasan nggak sreg, itu artinya kita kehilangan sebagian jiwa sosial kita!” urai Gilang.

“Adek bisa contohin pentingnya cabah-cabeh itu?!”

“Ya bisalah, mbak! Contoh sederhananya aja, sekarang kan mulai banyak tokoh yang menyatakan niatnya maju pilgub! Mereka sosialisasikan dirinya dengan berbagai cara dan gaya! Semua tampil di depan rakyat kan begitu sumringah, menyapa dan nunjukin kesetaraan! Mereka yang sebenernya punya kebiasaan kaku pun jadi lentur untuk bicara dengan rakyat! Mereka yang jarang ngegendong anaknya sendiri pun sekarang ini rajin bener gendongin anak orang! Itu salah satu contoh gimana yang namanya cabah-cabeh itu penting, mbak!”

“Iya juga ya, dek! Artinya emang perlu cabah-cabeh, bersikap grapyak dan enteng mulut itu ya?!”

“Ya iyalah, mbak! Kalo lagi deketi rakyat bawaannya nggak grapyak dan mau cabah-cabeh -walo itu bukan karakter pribadi sekalipun-, ya mana rakyat mau dekat, mbak! Dan juga penting diingat bahwa kita juga harus mau sampaikan apa yang kita mau kepada rakyat! Utamanya ya kepada orang sekeliling dulu!”

“Jadi kalo ada mau, sampein, gitu ya dek?!”

“Ya iya dong, mbak! Kalo nggak disampein, kan kita nggak tau maunya kayak mana? Kita kan nggak bisa ngebaca hati dan pikiran orang, mbak? Misalnya, mau maju pilgub, ya harus disampein! Jangan cuma bentuk tim sukses sana-sini tapi yang mau maju nggak pernah ngomong apa-apa! Sikap mersigeng sudah bukan zamannya lagi, mbak! Sehebat apapun kita, sekuat apapun kita, tetep perlu orang lain! Jangan disuruh orang lain mikir sendiri apa mau kita!”

“Kayak mbak ya dek? Pengen buka puasa diluar, sudah ngomong sejak pagi! Soal tempatnya dimana, sore baru diomongin! Gitu ya, dek?!”

“Ya emang mestinya gitu, mbak! Kalo nyampein mau aja nggak dilakuin, ya gimana adek paham, kan gitu mbak? Jadi emang, cabah-cabeh, grapyak, enteng mulut itu perlu! Dan itu bagian dari dimensi kemanusiaan kita, sebab kita adalah manusia bukan setengah manusia, gitu kata Albert Einsten, mbak!” kata Gilang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *