Uring-Uringan

PEMBAWAAN Dinda yang uring-uringan buat Gilang menjadi tidak nyaman.

“Mbak, lagi ada apa sih? Bawaannya kok uring-uringan melulu! Kesel-kesel terus gitu? Yang ngeliatnya aj jadi nggak nyaman lo!” ucap Gilang selepas makan sahur.

“Mbak kan nggak uring-uringannya sama adek, kenapa pusing sih? Mbak lagi kesel aja, dek!” sahut Dinda.

“Emang nggak tertuju ke adek, tapi kan kalo bawaan mbak uring-uringan gitu, marahnya nyasar-nyasar gitu kan ngeganggu juga, mbak! Emangnya ada apa sih, mbak?!”

“Mbak kesel aja ma temen seasrama, dek! Kan sebelum pulang waktu itu ada beberapa barang mbak yang nggak dibawa! Nah, dapat kabar kemarin asrama itu dibersihin, barang-barang mbak yang masih di asrama, nggak mereka amanin! Akhirnya kena buang! Kan kelewatan! Masak nggak ada tepo seliro sama sekali! Padahal tau kalo itu barang-barang mbak!” urai Dinda.

“Oh gitu to, mbak? Emang apa aja barang mbak, penting-penting ya?!”

“Banyak dek! Bukan soal penting nggaknya, dek! Tapi itu kan ada yang punya, mereka tau barang-barang itu punya mbak! Mestinya mbok ya mereka amanin! Mbak aja selama ini sering amanin barang mereka kok kalo pas ada pembersihan dan mereka lagi nggak di asrama!”

“Ya emang biasa kayak gitu mah, mbak! Makanya kita harus disiplin! Harus amanin apa aja yang punya kita! Nggak bisa ngandelin orang lain! Kalo sudah kejadian gini, ambil aja hikmahnya, mbak!”

“Ambil hikmahnya gimana, wong jelas-jelas barang mbak ilang gitu kok, dek!” sela Dinda dengan wajah bersungut.

“Sekecewa apapun kita atas suatu kejadian, tetep ada hikmah yang bisa kita ambil kok, mbak! Misalnya, dengan peristiwa ini mbak bisa nilai seberapa besar makna pertemanan mbak selama ini dengan temen-temen di asrama! Mungkin selama ini karena di depan mbak atau mbak ada di deket mereka, temen-temen itu nunjukin sikap saling menjaga, berbaik-baik dan tampil layaknya temen sejati! Tapi pas mbak nggak ada, mbak jauh, mereka ngelupain mbak! Hikmah itu kali yang bisa dipetik dari masalah ini, mbak! Yang penting mbak kendaliin diri, nggak perlu dipelihara sikap uring-uringannya, sebab hal itu nambah mbak kesel aja! Selain ngebuat bawaan mbak itu ngeganggu kenyamanan penghuni rumah!” kata Gilang.

“Uring-uringan atau kesel-kesel itu kan wajar aja sih, dek? Itu kan akibat dari sebuah sebab! Jangan malah disalahin dong!”

“Adek paham, mbak! Adek nggak nyalahin mbak sampe uring-uringan gini, karena tau apa masalahnya! Tapi bagi yang nggak tau persoalan, kan mbak jadi nggak bagus di mata yang lain! Emang sekarang ini lagi banyak orang mudah kesel, mudah uring-uringan, mudah marah tanpa jelas apa masalahnya, sayangnya perilaku seperti itu terekspresi ke siapa aja yang lagi di deketnya!”

“Maksudnya apa, dek?!”

“Iya, gaya uring-uringan, ndadak marah, keliatan kesel-kesel itu lagi jadi trend bawaan beberapa orang belakangan ini, mbak! Berdampak pada enggannya orang lain buat berdeket-deket dengan orang itu! Persoalannya banyak orang yang karena tugas dan keadaan harus berdeket-deket! Jadilah mereka sasaran ekspresi kemarahan, kekeselan dan sikap uring-uringan orang itu! Tragisnya, apa yang ngebuat orang itu kayak kehilangan kendali, hanya dia sendiri yang tau!” urai Gilang.

“Mbak nggak paham yang adek maksud! Omongin aja siapa yang adek liat bawaannya lagoi uring-uringan dan marahan itu?” kata Dinda.

“Nggak semua hal kan harus diungkapin transparan sih, mbak? Adek cuma ingin kasih tau aja, kalo lagi nggak enak perasaan, baikan di kamar aja! Kalo sudah nyaman lagi perasaannya, barulah tampil lagi ke publik! Karena rakyat taunya pengen liat pemimpin yang selalu ceria dan familiar, bukan yang bawaannya uring-uringan, kesel-keselan dan spontan meledak amarahnya!” tutur Gilang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *