Ditinggal Ibu

MENYAMBUT pembagian raport Jumat ini, Gilang tampak percaya diri. Dia optimis kali ini bisa meraih posisi terbaik.

“Jangan kelewat pede, dek! Pede tanpa pengendalian diri itu mendekati takabur! Dan takabur itu perilaku yang tidak disukai Tuhan!” ucap Dinda menimpali ke-pede-an Gilang.

“Adek nggak ke-pede-an kok, mbak! Sebatas optimis aja! Lagian, itu beralasan lo, mbak! Nggak asal optimis aja!” sahut Gilang.

“Apa alasannya adek optimis jadi yang terbaik kesatu?!”

“Karena temen adek yang biasanya selalu ranking 1 sekarang ini semangat belajarnya lagi drop, mbak!”

“Kenapa kok bisa gitu?” tanya Dinda.

“Adek denger-denger dari teman sekelas, sejak ditinggal ibunya, temen adek yang selalu juara kelas itu jadi nggak ada semangat belajar lagi! Bawaannya juga beda banget! Kalo dulu grapyak, familiar, sekarang banyak diemnya dan sering mendadak marah-marah gitu!” urai Gilang.

“Ditinggal ibunya gimana, dek? Ibunya wafat, gitu ya?!”

“Bukan ninggal, mbak! Tapi ibunya lagi konsen nemeni kakak teman adek yang lagi kuliah kerja nyata diluar pulau! Kakaknya itu emang ngualem sama ibunya! Jadi ya mau nggak mau si ibu duluin urusin sang kakak!”

“Oh gitu to, dek?! Emang berapa lama ibunya sudah ninggalin teman adek itu?”

“Sudah masuk 3 bulan ini, mbak! Sejak itu, pelajaran di sekolahnya nurun drastis! Ulangan harian aja nilainya jeblok! PR nggak pernah dikerjain! Pokoknya, dia keliatan drop bener gara-gara ditinggal sang ibu!”

“Emang keberadaan dan peran seorang ibu itu luar biasa kok, dek! Banyak orang yang langsung seakan kehilangan citra dirinya begitu ditinggal seorang ibu! Apalagi kalo sang ibu itu selama ini yang banyak mengarahkan langkahnya dalam menapaki kehidupan! Yang tak segan-segan melepaskan kalung di lehernya untuk dijual demi kepentingan si anak! Mbak bisa pahami kalo temen adek itu jadi begitu drop, bahkan bisa-bisa mengalami stres ringan!” kata Dinda.

“Jadi emang banyak ya orang yang jadi tercerabut dari akar kepribadiannya begitu ditinggal seorang ibu ya, mbak?!” sela Gilang.

“Banyak, dek! Banyak orang yang mengalami kayak yang temen adek rasain itu, walo tentunya dalam konteks dan bobot yang berbeda ya?! Karena keberadaan seorang ibu memang amat berarti! Bahkan banyak orang menjadi kehilangan gairah hidupnya hanya karena dijauhi seorang ibu!”

“Itulah yang dialami temen adek sekarang ini ya, mbak! Jadi nggak gairah belajar! Bawaannya nggak pernah tenang! Ada yang kurang pas sedikit aja bisa langsung meledak! Tapi nggak keliatan di wajahnya lo kalo sebenernya hatinya merana, mbak?!” tutur Gilang.

“Bagi seseorang yang ditinggal ibu itu deritanya ada di batin, dek! Mengacaukan pikiran! Emang nggak bisa dibaca dari wajah! Tapi bisa dilihat dari perilakunya! Misalnya, kalo sebelumnya temen adek itu mau ngurus atau aktif di tim futsal, sekarang jadi ogah-ogahan! Kalo sebelumnya suka ringan tangan ngebantu temen, sekarang jadi cuek! Dan yang paling nyata adalah ketidakberaniannya bersikap, dek!”

“Maksudnya ketidakberanian bersikap itu gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Misalnya adek tanya, masih optimis nggak dia bakal jadi ranking 1 lagi! Mbak yakin, dia nggak berani jawab, dek! Karena ketergantungan pada sang ibu yang demikian besar! Dan rasa-rasa semacam itu, sesungguhnya, juga tengah dialami oleh banyak orang!” ujar Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *