Urusan Jalan

OPTIMISME Gilang bila dirinya bisa meraih ranking 1 dalam perolehan nilai di kelasnya, benar-benar terwujud. “Alhamdulilah, terima kasih ya Allah! Engkau berikan apa yang jadi keinginanku,” ucapnya setelah melihat nilai raportnya, siang tadi.

“Wah, akhirnya bisa juga jadi yang terbaik pertama di kelas ya, dek! Selamat ya?!” kata Dinda sambil memeluk dan mencium Gilang.

“Terima kasih, mbak! Prestasi ini jadi tantangan buat kedepannya! Adek sadar, nggak bakal bisa raih ranking 1 kalo temen adek nggak lagi drop akibat ditinggal ibunya!”

“Ya, semua ada jalannya, dek! Kita bisa meraih sukses atau lagi drop itu terkait dengan urusan jalan aja!”

“Maksudnya urusan jalan gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya kayak adek ini! Bisa meraih ranking 1 kan karena temen adek yang selama ini terbaik pertama di kelas sedang ada masalah! Mungkin kalo dia nggak ada kendala, adek ya tetep aja jadi ranking 2 kayak selama ini! Nah, urusan jalan meraih predikat ini kan misteri, dek! Rahasia Tuhan! Jadi adek harus pahami bener bila ada aja jalan Tuhan untuk mengangkat atau menurunkan seseorang itu!” jelas Dinda.

“Oh gitu ya, mbak! Jadi urusan jalan itu ada aja ya? Itu sebabnya orang pasti rame kalo sudah ngebahas soal jalan!” sela Gilang.

“Soal jalan apa ini maksud, adek?!”

“Ya kan sekarang lagi rame orang-orang pada ngomongin soal pembangunan jalan, mbak! Mulai soal fly over, underpass sampai kondisi jalan yang sudah banyak menuai protes masyarakat di kabupaten-kabupaten karena pada rusak dalam waktu singkat!” kata Gilang.

“Kalo itu mah jalan beneran, dek! Jalan yang dilalui kita dan masyarakat sehari-hari! Yang mbak bilang tadi kan menyangkut jalan kehidupan! Itu beda adek!!”

“Intinya kan sama aja sih, mbak! Sama-sama urusan jalan! Lagian kalo soal jalan kehidupan, masing-masing orang kan punya lajurnya sendiri! Nggak bakal sama lajur yang mesti mbak lalui dengan lajurnya adek! Jadi kalo soal jalan kehidupan nggak usah diperdebatin, sebab sudah ikut serta cawe-cawenya tangan Tuhan! Kalo jalan beneran, wajar aja kalo banyak jadi omongan!” ujar Gilang.

“Jadi kalo soal pembangunan jalan layang, jalan bawah tanah maupun jalan-jalan lain menuai pro kontra, wajar aja ya dek?!”

“Ya wajar ajalah, mbak! Kan emang semua kita melewatinya! Merasakannya! Lagian itu semua dibangun juga pake uang rakyat lewat pembayaran pajak! Jadi kalo masyarakat mengontrol, kan waja aja! Masak nggak boleh?”

“Iya sih, dek! Cuma kan perlu dipahami juga kalo pembuatan jalan-jalan baru itu bagus untuk atasi kemacetan! Harusnya ya didukung!”

“Kalo soal ngedukung, itu nggak masalah, mbak! Tapi semua kan ada prosesnya! Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui! Ada ketentuan-ketentuan yang mesti diikuti! Jangan karena nawaitunya baik terus proses atau tata aturannya dilewatin aja!”

“Kasih contoh yang konkret, dek?!”

“Misalnya kita mau wudhu, mbak! Nawaitunya kan baik, mensucikan diri untuk melaksanakan solat! Tapi wudhu itu sendiri kan ada prosesnya! Dimulai niat, dilanjut cuci tangan, membasuh muka dan seterusnya! Tata aturannya kan ada! Yang dahulu didahulukan, yang kemudian dikemudiankan! Baru sah wudhunya dan kita berniat solatnya!” kata Gilang.

“Soal bangun jalan layang atau underpass kan juga sudah ikuti tata aturan, dek? Jadi ngapain lagi dikomentari?!” sela Dinda.

“Mbak, kalo sesuatu itu sudah sesuai alurnya, nggak bakal muncul protes atau sebangsanya! Kalo masih pro kontra, itu artinya masih ada yang belum beres, mbak! Jadi ya beresin aja apa-apa yang dirasa belum clear! Dengan begitu, semua kerjaan bakal berjalan baik! Lain lagi kalo soal jalan di kabupaten-kabupaten yang sudah banyak kayak kubangan kerbau! Itu karena pelaksananya yang terlalu rakus meraup untung dan main mata dengan pengawasnya! Yang kayak begini wajar aja ditindak!”

“Ternyata ribet juga ya dek urusan jalan itu?!”

“Ya pasti ribetlah, mbak! Apalagi kalo pelaksanaan puluhan ruas jalan strategis hanya dibagikan buat segelintir orang aja! Bisa dipastikan, 3 bulan setelah pekerjaan, akan rusak semua lagi! Jadi kalo hasil pekerjaan kayak begini yang dibangga-banggakan, malah akan diketawain orang, mbak! Enakan diprotes ketimbang diketawain!” ucap Gilang sambil cengengesan. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *