0 views

Belajarnya Seniman

SEUSAI menonton film kolosal, Gilang tampak sangat puas. “Hebat kali sutradaranya mengemas cerita!” desahnya.

“Bukan cuma ceritanya aja yang bagus, dek! Tapi trik-trik perfilmannya emang canggih! Jadi buat kita yang nonton puas!” sahut Dinda.

“Kalo soal trik perfilmannya mah sudah lazim, mbak! Sesuai perkembangan zaman, tentu makin canggih beragam gaya bisa dimainkan dengan apik! Tapi semua tetep kembali pada kekuatan sang penulis ceritanya! Adek yakin, penulis cerita di film itu adalah seorang seniman!”

“Sok tau adek mah lo! Dari mana adek tau penulis skenario film itu seorang seniman? Sekarang ini sudah banyak penulis skenario handal berlatar belakang dunia kampus, dek!” ujar Dinda.

“Ada bedanya, mbak! Kalo penulis cerita itu berjiwa seniman, sentuhannya akan mengena, merakyat dan tanpa sadar mengajak kita untuk membenarkan alur yang dituturkan! Kalo penulis jebolan kampus, belum tentu dia punya jiwa seni yang tinggi! Makanya hasil karya mereka terasa lebih kering bagi orang yang penikmat cerita kehidupan!” kata Gilang.

“Emang apa bedanya, dek?!”

“Kalo seniman itu belajarnya dari kehidupan, mbak! Dari segala yang ada dalam kehidupan dengan berbagai sisinya! Gelora humanismenya lebih menonjol! Pengakuan akan pergerakan angin pun bisa digambarkan dengan gaya yang halus penuh kesadaran akan adanya yang mengatur semuanya!”

“Kalo seniman yang lahir dari dunia kampus emang gimana?!”

“Mereka lebih didominasi oleh teoritis ke-humanisme-an yang terkontrol oleh kelengkapan sarana dan prasarana! Karenanya jangan heran jika kaum ini hanya mampu melahirkan karya seni manakala didukung oleh fasilitas yang memadai! Intuisinya, instingnya, greget suasana kebatinannya menjadi mandul kala sarana prasarananya dianggap kurang layak! Amat beda dengan sosok yang lahir berbekal jiwa seni! Tanpa dukungan sarana lahiriyah pun dia akan mampu menjeritkan suasana kehidupan yang jadi tempatnya belajar untuk menyadarkan kita semua!” lanjut Gilang.

“Adek tau kalo seniman sejati itu belajarnya dari kehidupan emang siapa yang bilang?” sela Dinda.

“WS Rendra, mbak! Dia selalu menularkan ilmunya itu kepada para seniman yang sempat belajar padanya! Itu sebabnya, di era seniman sejati, sekeras apapun kehidupan, mampu dibawanya dalam suasana kedamaian, ketenangan batin, dan rakyat pecinta seni pun makin arif dalam meningkahi problema kehidupannya! Amat beda ketika era seniman jebolan kampus yang sesungguhnya kering jiwa seninya, dipaksa manggung! Terasa kering dan bahkan acapkali tanpa membawa pengaruh ketenangan bagi penikmat ekspresi seninya!”

“Tapi kan seniman jebolan kampus juga banyak yang hebat, dek?!”

“Kalo itu nggak bisa dipungkiri, mbak! Mereka memang cukup matang dengan beragam teori meski miskin praktik! Mereka akan mampu mengekspresikan seni secara baik bila difasilitasi dengan sarana yang memadai! Tanpa itu, kreativitasnya menjadi kurang maksimal! Ini yang sebenarnya layak kita sayangkan! Padahal seniman otodidak, yang lahir karena belajar dari kehidupan, sekarang makin sulit ditemui di panggung-panggung seni!”

“Iya juga ya, dek? Padahal seniman sejati itu besar perannya dalam mendinginkan kehidupan yang kian banyak problema! Walo hanya sedikit orang yang menyadari betapa pentingnya dunia seni dikembangkan!” kata Dinda.

“Jadi bisa dimaklumi bila sekarang ini banyak seniman yang terjebak dalam ekspresi bern

uansa¬† perpolitikan ketimbang belajar dari kehidupan yang absolut, mbak! Yang mengoyak teman setikar-seketiduran dalam gerakan kuas pada lukisan bertajuk Malam Sunyi! Halus, nyaris tak terdengar namun mematikan! Praktik semacam inilah yang tengah kita saksikan saat ini!” tutur Gilang. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *