8 views

Dunia Terbalik

DINDA tampak terheran-heran memandangi satu kaleng berisi coklat yang dikirimkan sahabat karibnya.

“Ada yang aneh, mbak?” tanya Gilang.

“Iya dek! Nggak biasanya sahabat karib mbak ngirim sekaleng gini! Biasanya kan satu kotak yang didalamnya berisi 5 kaleng coklat!” kata Dinda.

“Kali emang sekali ini yang buat mbak ya hanya sekaleng aja?! Disyukuri ajalah mbak!”

“Mbak yakin ada yang nggak bener ini, dek! Salah kirim kali sahabat mbak itu! Nggak biasanya kayak gini kok!” ucap Dinda dengan penasaran.

“Kalo begitu, telepon aja sahabat mbak itu, biar nggak penasaran!” saran Gilang.

Dinda pun menelepon sahabatnya. Sekitar 10 menit kemudian, dia mendatangi Gilang.

“Bener, dek! Kata sahabat mbak, yang ngirim salah kasih! Yang sekotak besar berisi 5 kaleng coklat malah dikasih ke anak pemulung! Mestinya yang itu buat mbak!” kata Dinda.

“Itu yang bener, mbak! Bukan salah ngirim!” sela Gilang.

“Apa maksud adek?!” kata Dinda.

“Ya itu yang bener, mbak! Kita ngasih kepada kaum dhuafa itu mestinya ya yang banyak! Buat kita-kita yang syukur alhamdulilah dikasih Tuhan kehidupan lebih baik, ya sekedarnya aja! Selama ini kan dunia terbalik, mbak!”

“Dunia terbalik gimana, dek?”

“Kebiasaan di kita, kalo mau lebaran, kirim beragam makanan atau minuman yang bagus-bagus dan banyak ke orang-orang yang secara materi berlebihan! Secara keangkatan dan jabatan di atas kita! Sementara buat kaum dhuafa, sedekah kita ala kadarnya aja, asal jangan nggak aja! Itu namanya dunia terbalik, mbak! Ajaran agama nggak ngajarin kita seperti itu, mbak!” kata Gilang.

“Tapi kan wajar aja mengirim parcel atau makanan ke atasan kita yang bagus-bagus itu, dek?! Itu tanda hormat kita! Tanda penghargaan kita buat atasan kita!” ucap Dinda.

“Itu nggak salah, mbak! Sepanjang hal yang sama kita lakukan juga pada kaum dhuafa! Sebab mereka-mereka itu lebih membutuhkan dibandingkan para atasan kita, mbak! Rasa syukur mereka lebih dalam dibanding kita berikan ke atasan kita!”

“Ini kan sudah tradisi, dek! Nggak bisa kita ubah begitu aja?!”

“Iya, bukannya terus nggak boleh mengirim makanan atau minuman yang berkelas kepada atasan kita, mbak! Boleh-boleh aja! Cuma secara nurani, kita kan tau bahwa sesungguhnya yang lebih membutuhkan itu adalah saudara-saudara kita yang kurang beruntung secara materi dalam kehidupannya! Kenapa tidak kita buat sama apa yang kita kirim ke atasan dengan ke kaum dhuafa! Kenapa kita tidak kita balik saja perilaku kita yang membuat dunia terbalik ini menjadi ke dunia yang sewajarnya, mbak!” tutur Gilang.

“Tapi masak kita aja yang memulainya, dek?”

“Kenapa nggak, mbak? Semua kan dimulai dari diri kita sendiri, mbak! Mbak kan nggak pengen-pengen amat sama sekaleng coklat yang tadi dikirim sahabat mbak itu! Kasihkan lagi aja ke kaum dhuafa, tentu mereka lebih membutuhkannya! Dan rasa syukur mereka atas apa yang kita berikan pasti akan lebih menggema sampai ke langit ketimbang hal serupa yang diterima para pejabat atau atasan-atasan kita!”

“Bener juga ya dek! Nanti sore sambil kita ngabuburit, kita kasihkan cokelat sekaleng ini ke kaum dhuafa! Tapi mbak mau tambah sedekahnya dengan membeli beberapa kaleng makanan lainnya ya?! Itung-itung ini sebagai upaya mengembalikan dunia terbalik ke poros yang sesungguhnya!” kata Dinda dengan wajah ceria.

“Itu baru namanya memberi dan berbagi, mbak! Bukan taunya cuma diberi tapi lupa untuk berbagi!” kata Gilang sambil tersenyum. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *