77 views

Diskusi Buku Kotak-katik Kota Kita di Metro

HARIANFOKUS. com – Hari libur terakhir setelah cuti panjang lebaran, ditutup dengan diskusi berkualitas. Meski terbatas, acara yang ditaja aktivis Oki Hajiansyah Wahab ini menghadirkan langsung penulis buku “Kotak-katik Kota Kita” terbitan Aura Publishing.

Disebut diskusi berkualitas, menurut Oki karena hal ini akan berwujud pada kertas kerja sejumlah komunitas sekaligus aksi konkrit, menjadi upaya melebarkan majelis Cangkir Kamisan yang awalnya sebatas internal penggiat. Kini mulai melibatkan warga dari luar komunitas.

“Diskusi ini kita harapkan bisa meluas dan berpindah dari rumah ke rumah untuk menggagas perbaikan bagi Kota Metro,” kata dia, Minggu, 2 Juli 2017.

Buku setebal 148 halaman yang jadi tema bahasan ini ditulis tiga bersaudara yang juga intelektual di Lampung. Fritz Akhmad Nuzir misalnya, pasca lulus Master of Lanscape Architecture di Jerman langsung melanjutkan program doktoral di University of Kitakyushu, Jepang. Fritz menjelaskan, karya yang dihimpun dalam bukunya merupakan upaya untuk membumikan gagasan terkait pembangunan kota. Buku itu sendiri fokus di dua kota yang ada di Lampung yakni Kota Metro dan Bandarlampung.

Sementara Yerri Noer Kartiko, alumnus pasca sarjana ITB pada 2010 itu menjelaskan. Buku ini adalah bagian dari khidmat mereka bertiga untuk setidaknya urun rembuk tentang gagasan membangun kota.

“Misalnya sebagai Kota Pendidikan yang sudah jadi tagline Metro ini, bakal diarahkan seperti apa. Buku ini berusaha mencari formula untuk memantapkan sekaligus melempangkan pembangunan agar lebih sistematis dan berkelanjutan.”

Hadir dalam diskusi, sejumlah aktivis dari berbagai latar belakang. Mantan Ketua Umum PP IPM, M Khoirul Huda juga menyorot pentingnya keterlibatan warga dalam pembangunan kota. “Mestinya pemerintah yang mengundang komunitas yang telah berkontribusi dalam pembangunan. Bukan komunitas yang mengundang pejabat. Sebab, fungsi komunitas sebenarnya membantu pemerintah,” katanya.

Namun demikian, diskusi yang menjadikan buku “Kotak-katik Kota Kita” sebagai landasan sekaligus terma, lebih fokus tentang bagaimana warga kota memberi kontribusi pada setiap lini pembangunan. Bukan sekadar terhenti pada caci maki dan ganya mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

“Beberapa kerja komunitas yang kreatif dan saling bersinergi untuk membuat perbaikan bagi kehidupan kota, harus terus disuarakan,” kata Oki.

Metro, menurut Heri, bukan kota yang menghargai kerja-kerja kreatif. “Kota ini bisa menjadi kumpulan orang stres,” kata programer dan pembuat berbagai aplikasi komputer ini.

Akan tetapi, lanjut pembuat aplikasi translit bahasa Indonesia ke bahasa Lampung ini, Kota Metro masih menjadi kota yang tenang untuk jadi tempat tinggal atau permukiman.

Di sisi lain, tentang kemacetan, potensi perkembangan rumah dan lonjakan penduduk jika tidak diantisipasi secara simultan berkelanjutan bakal menjadi persoalan serius. “Gagasan mau membangun kesatuan kawasan bisnis, wisata dan literasi di Taman Kota misalnya, menyisakan pertanyaan. Parkirnya dimana?” ujar Amri.(ist)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *