2 views

Padi Merunduk

DIAJAK Gilang ke daerah pedesaan, Dinda menggerutu. “Ngapain sih ke kampung gini, dek! Cuma ngeliat sawah doang!” ucap Dinda.

“Jalan-jalan aja sih, mbak?! Kan sudah biasa kita liat perkotaan dengan segala pernak-perniknya! Sesekali ke kampung ginikan malah bisa liat sesuatu yang beda! Yang alamiah! Yang natural!” kata Gilang.

“Emang apanya yang menarik, dek? Jalannya aja jelek gini! Banyak kubangannya!”

“Justru itu kita perlu cermati, mbak! Yang namanya di kampung itu banyak keindahan alamiah yang masih terjaga! Kalo soal jalan berlubangan, ya dimana-mana juga gitu!”

“Terus adek ini mau ajak mbak liat apa emangnya?” tanya Dinda.

“Kita liat sawah, mbak!”

“Liat sawah? Ngapain, dek?!”

“Liat sawah yang sudah mau panen padinya, mbak?”

“Terus apa bagusnya? Mbak bete kalo lama-lama diajak keliling perkampungan gini, dek?!” ketus Dinda.

“Nyantai aja sih, mbak? Mbak kan belum tau gimana asyiknya menikmati padi yang merunduk!” ucap Gilang.

“Maksudnya apa itu, dek?!”

“Adek mau ajak mbak liat tanaman padi yang merunduk! Itu tandanya sudah siap untuk dipanen, mbak!”

“Terus menariknya dimana ngeliat padi merunduk itu?!” sela Dinda.

“Batang padi yang sebelumnya tegak lurus, seakan menantang langit, mulai merunduk, mbak! Itu mengajarkan pada kita bila menemukan seseorang yang pembawaannya slow, lebih banyak mendengar ketimbang mendominasi pembicaraan, yang penuh pertimbangan dalam pembicaraannya, itu menandakan seseorang tersebut telah matang! Telah banyak proses kehidupan yang ia tapaki! Telah tak terhitung deraan kehidupan yang ia terima! Namun dengan ketegarannya, dengan naluri kehidupannya, ia tetap mampu untuk hidup dan memberikan sesuatu yang bermakna bagi orang lain!” kata Gilang panjang lebar.

“Oh, jadi adek ngajak mbak ngeliat padi merunduk di sawah ini untuk mbak dapatkan pelajaran kehidupan ya?”

“Iya, maksud adek gitu sih, mbak! Biar kita sama-sama makin dewasa dalam menjalani kehidupan ini! Sebab di perkotaan itu, gaya instan, gaya menarik kawan untuk jadi pijakan buat kita naik, sudah jadi perilaku keseharian! Banyak yang lupa bahwa kita semua berasal dari kampung, yang alam sekitar sesungguhnya sudah memberi pelajaran kehidupan buat kita!” lanjut Gilang.

“Jadi maksudnya, yang namanya pelajaran kehidupan itu sebenernya sudah kita dapet sejak kita di kampung ya, dek! Makanya walo sudah jadi orang kota, jangan nyepelein asal muasal kita, gitu ya? Terus gimana kalo emang sejak lahir sudah di kota kayak kita ini, dek?!” kata Dinda.

“Makanya adek ajak mbak ke kampung gini! Biar kita tau, walopun kita anak kota tapi orang tua dan nenek moyang kita asalnya ya dari kampung! Di kehidupan perkampungan itulah hakekat pelajaran kehidupan itu sesungguhnya dimulai! Tinggal kita bisa nggak memaknainya! Termasuk adanya padi nan merunduk itu!” ucap Gilang lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *