4 views

Belajar Dari Ivanka Trump

DINDA menggeleng-gelengkan kepalanya saat membaca sebuah berita. “Ada yang menarik, mbak?” tanya Gilang.

“Iya, dek! Mbak lagi baca berita menarik!”

“Soal apa, mbak?”

“Putri Presiden AS Donald Trump langsung duduk di kursi bapaknya saat sang bapak beranjak dari ruang pertemuan G20 di Hamburg, Jerman!” ujar Dinda.

“Menariknya apa berita itu, mbak?”

“Ya karena sang putri, Ivanka Trump, begitu sigap mengisi kursi sang bapak yang keluar ruangan itu, dek!”

“Ah, itu mah biasa aja, mbak! Lagian kan sang putri memang diatributi dengan jabatan resmi sebagai penasihat bapaknya selaku Presiden AS, mbak?! Jadi ya dia tetep berkapasitas untuk melakukan itu!” kata Gilang.

“Adek ini gimana sih? Dari tatanan birokrasi, nggak sepantasnya itu dilakukan Ivanka Trump! Yang layak itu ya pejabat setingkat menteri yang ngisi kursi Presiden saat dia keluar ruangan! Itu etikanya!” terang Dinda.

“Nyatanya kan nggak gitu, mbak? Ivanka duduk anteng dan anggak ada yang berani negor!”

“Ya itulah yang mbak bilang menarik itu, dek? Di negara adi kuasa yang usia kemerdekaannya sudah hampir 250 tahun aja, tata aturan birokrasi dan etika pemerintahannya bisa tak berjalan hanya oleh kehadiran seorang anggota keluarga seorang penguasa! Apalagi di negeri kita yang baru puluhan tahun merdeka, dek! Jadi wajar aja kalo sering kali kita temui, perilaku-perilaku yang belum sesuai dengan tata atur pelaksanaan pemerintahan!”

“Contohnya kayak apa, mbak?”

“Wah, kalo mau kasih contoh, ya banyak benerlah, dek! Intinya kan pada perilaku saja! Banyak kalangan yang berlatar belakang bukan profesi ASN, kan yang direkrut jadi tenaga ahli di pemerintahan! Yang rata-rata bukan karena keahlian spesifikasinya, dek! Tapi lebih kepada kemampuannya menina-bobokan sang penguasa! Manggut-manggut sampai kram lehernya kalo sang penguasa bicara! Hingga membuat sang penguasa percaya dan senang dengan aktion orang tersebut!” ujar Dinda.

“Terus mbak…?!”

“Nah, orang-orang semacam ini, begitu diatributi dengan jabatan di lingkungan pemerintahan, bukan cepat-cepat menyesuaikan diri dengan karakteristik dunia birokrasi tapi lebih kepada sosialisasi diri menonjolkan posisi strategisnya! Kalangan semacam inilah, yang secara langsung atau tidak, akan melakukan hal-hal yang dapat merusak etika birokrasi!”

“Emang ada yang kayak gitu, mbak?” tanya Gilang.

“Ya adalah, dek! Bahkan banyak kok! Coba kalo diadakan seminar tentang kontribusi tenaga ahli bagi percepatan program pembangunan, misalnya, akan terungkap apa sebenernya yang sudah dilakukan oleh orang-orang ahli itu bagi maksimalisasi penguatan kinerja birokrasi!”

“Jadi maksud mbak, pakar-pakar yang direkrut di pemerintahan itu sebenernya nggak bermanfaat, gitu ya?!”

“Nggak gitu juga, dek! Tetep aja ada manfaatnya dong! Walo nggak jelas juga siapa yang memetik manfaatnya! Apakah pejabat yang mengangkatnya atau birokrasi secara utuh! Yang pasti, ya belum maksimal perannya sesuai tupoksinya! Nah, belajar dari kasus Ivanka Trump itu, selayaknya kita mengaca; betapa etika amat penting dijalankan bagi siapapun yang diatributi masuk pada jajaran birokrasi! Ini yang selayaknya jadi introspeksi kita semua!” ucap Dinda lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *