11 views

Senandung Ninabobo

SAAT Dinda sedang menyiapkan berbagai barang yang diperlukannya setelah kembali ke asrama untuk memasuki masa sekolah, Gilang menyela: “Yang mbak paling kangenin di rumah kalo sudah di asrama apa ya!”

“Yang paling mbak kangenin itu senandung ninabobo, dek! Nyanyian yang disenandungin lirih ditambah tepukan pelan di badan mbak yang sejak dulu dilakuin mama!” jawab Dinda sambil nyengir.

“Walah, sudah gadis kok yang dikangenin kayak gituan to, mbak! Makanya mbak tetep aja kayak anak kecil! Kolokan, ngalem terus dan nggak mandiri-mandiri juga!” sela Gilang.

“Adek, yang namanya sesuatu yang berkesan di masa kecil itu nggak mudah dilupain gitu aja! Bahkan sering tanpa sadar kita melakukan bukan cuma kangen!”

“Jadi mbak diem-diem sering dong nyanyiin ninabobo itu kalo mau tidur?”

“Iya, dek! Apalagi kalo susah tidur! Mbak pejemin mata trus nyanyi sendiri dengan suara pelan! Ngebayangin suara dan cara mama kalo ninaboboin mbak! Nggak lama pasti langsung bisa tidur!” ujar Dinda.

“Gimana kalo sampai besar kebiasaan mendengar senandung ninabobo itu terus melekat dan mbak nggak bisa tidur nyenyak kalo nggak ngerasain suasana kayak gitu?!”

“Dek, sesuatu yang berkesan di masa kecil itu akan selalu terekam di otak dan perasaan kita! Bahkan banyak yang diekspresikan nantinya ke anak cucu! Itulah seninya kehidupan! Ada suatu proses panjang yang berjalan alamiah, mengalahkan segala kepintaran ilmiah dan kekukuhan mentalitas!” kata Dinda.

“Jadi banyak juga ya ibu-ibu yang menyenandungkan ninabobo ke anak-anaknya karena perlakuan yang sama diterimanya saat masih kecil, mbak?!” tanya Gilang.

“Oh pastinya itu, dek! Banyak ibu-ibu yang memperlakukan anaknya seperti saat dia masih kecil diperlakukan oleh orangtuanya, dek! Semua mengalir dengan alamiah dan naluriah aja! Tak peduli ibu itu berpangkat tinggi, cendekiawan atau pakar sekalipun, saat dia di rumah, maka dia akan mempraktikkan apa-apa yang diterimanya dari orangtuanya dulu! Walo tentu ada modifikasi-modifikasi sesuai perkembangan zaman, dek!”

“Kali karena kuatnya gezah senandung ninabobo itu ya maka banyak orang yang ringkih dalam pendirian, mbak?!” ucap Gilang.

“Maksudnya apa, dek?!”

“Ya kan banyak kita yang sejak kecil dilarutkan dalam senandung ninabobo untuk bisa tidur nyenyak! Karena kuatnya pengaruh senandung itu, membuat kita-kita jadi mudah terbuai, tidak kukuh dalam sikap, dan selalu berhitung untung rugi bila melakukan sesuatu!”

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Senandung ninabobo itu kan diekspresikan menjelang waktu tidur! Bukan setiap saat, setiap waktu! Kalo soal perilaku, mental dan alur pikir atau sikap seseorang, itu banyak faktor lain yang memengaruhi! Nggak bisa kita langsung simpulkan begitu saja! Karena lingkungan, pemahaman penerimaan sesuatu dan juga pengalaman, sangat berpengaruh!” urai Dinda.

“Nah, gimana kalo ada orang yang tanpa sadar terus terkungkung dalam gezah senandung ninabobo, mbak?!” kata Gilang.

“Wah, kalo soal itu mbak nggak tau, dek! Yang mbak tau, senandung itu cuma buat kita saat mau tidur, agar nyenyak dan nyaman! Kalo pas waktunya melek, saatnya beraktivitas masih terus terngiang di alam bawah sadar kita senandung ninabobo itu, ya aneh aja, dek! Tapi kan hidup emang penuh keanehan, jadi ya nggak usah dipikirin, dek!” tutur Dinda sambil kembali meneruskan kesibukannya untuk kembali ke asrama, besok. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *