2 views

Menonton Aksi Adek Kelas

SELEPAS solat maghrib, handphone Gilang terus-terusan berdering. “Siapa sih, siwek amat!” ketus dia.

“Hallo, mbak! Kangen adek ya?!” kata Gilang sambil mengaktifkan handphonenya.

“Sok amat sih, dek? Kayak adek ini figur yang dikangenin aja!” sahut Dinda dari seberang.

“Jadi kenapa dong telepon-telepon adek?!”

“Mau cerita aja?”

“Lucu nggak ceritanya, mbak?!”

“Emang mbak pelawak! Mbak mau cerita soal kelakuan adek-adek kelas! Aneh-aneh lo, dek! Buat mbak ketawa sendiri jadinya!” ucap Dinda.

“Nah, berarti ada lucunya kan? Ya udah, ceritain dong, adek mau denger!”

“Kan adek-adek kelas lagi ikuti masa orientasi sekolah! Nah, banyak yang ke-pede-an itu, dek! Ada yang disuruh nyanyiin lagu favoritnya, e nyanyi lagu Korea! Sudah gitu, salah-salah pula ngucapin kalimatnya!” Dinda mulai bercerita.

“Ya wajar aja, mbak! Wong bahasa Indonesia aja kali masih blekak-blekuk kok! Ya jangan diketawain dong!” ujar Gilang.

“Tapi pedenya itu lo yang ngebuat mbak sama kawan-kawan panitia ketawa, dek! Kayak sudah artis Korea itulah pokoknya!” lanjut Dinda.

“Yang penting kan pede, mbak! Kalo sudah kuat mental, nggak peduli tampilan gimana, yang penting sudah ngerasa kayak penyanyi benerannya!”

“Ya tapi kan jadi ketawaan, dek? Ngapain sok bisa lakuin sesuatu yang sebenernya kita nggak mampu kok maksain?!”

“Soal mampu nggak mampu itu urusan belakang sekarang ini, mbak! Yang penting tampil aja dulu! Mentas aja dulu! Kan diliat banyak orang! Dapet perhatian orang! Soal nyanyinya bener atau salah-salah, urusan nanti! Yang penting pede dan mentas!” kata Gilang.

“Okelah kalo nyanyi, dek! Itu si adek kelas waktu ditanya hobi olahraganya apa, dia bilang main volly! Anehnya, dia ngaku bisa main di apa aja! Tukang smes ya dia, tukang umpan ya dia! Bahkan dia bilang paling jago kalo nahan smesan lawan! Ini kan nggak mungkin, dek! Tapi dia bilang bisa disuruh main jadi apa aja!” tutur Dinda lagi.

“Wah, kalo sudah urusan main volly yang jelas-jelas enam orang pemain bisa dia lakuin sendiri berarti adek kelas mbak itu bener-bener kayak Superman! Orang kayak gini yang harus terus dibina dan dikembangkan potensi dirinya, mbak! Kasih banyak-banyak tugas dan kegiatan aja, pasti beres semua sama dia sendiri!”

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Semua orang kan ada batas kemampuannya! Nurut mbak, adek kelas itu kelewatan pedenya! Kelewatan ngukur kemampuan dirinya! Over nempatin posisinya!”

“Lho, kalo dia bilang bisa semua, bisa main di semua lini, ya kenapa nggak sekalian aja diserahin urusan tim volly sekolah ke dia aja, mbak! Kan bisa masuk rekor Muri!” kata Gilang sambil tertawa.

“Ya nggak bisa gitu dong, dek! Ketika main volly, itu kan tim, ya tetep harus ada pemain lain! Sehebat apapun adek kelas itu, ya dia harus mau menyatu dengan tim!” sela Dinda.

“Itu kan lazimnya, mbak! Sewajarnya begitu! Tapi kan banyak ketidak-laziman atau ketidak-wajaran dalam kehidupan ini! Kasih aja kesempatan dan peluang seluas-luasnya! Nanti juga kan dia ngomong sendiri kalo sudah sampai batas kemampuannya!”

“Oh gitu ya, dek?! Jadi mbak tonton aja ya aksi-aksi unik para adek kelas?!” kata Dinda.

“Iyalah, tonton aja, mbak! Nanti juga seiring peningkatan pengetahuan dan pengalaman, dia akan tau gimana seharusnya ambil peran dan layak untuk mentas! Semua butuh proses, dan sebaik-baik kakak kelas, adalah yang memberi ruang untuk adek kelas semakin terbuka matanya!” ucap Gilang sambil menutup handphonenya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *