89 views

Burung Mati

TADI pagi, Gilang spontan teriak-teriak manggil Dinda saat melihat dua ekor burung di kandang, mati. Terhempas di tanah.

“Mbak, ada dua ekor burung kita mati! Satu jalak kebo, satunya perkutut!” teriak Gilang.

“Oh gitu, dek! Ya emang sudah sampai ajalnya ya, dek! Ambil aja bangkainya terus dibuang ke kotak sampah!” sahut Dinda.

“Kalo namanya sudah mati itu ya pasti karena nyampe ajalnya, mbak! Nggak ada sisa nafasnya lagi! Cuma anehnya kok sekali mati langsung dua ekor, dengan jenis yang berbeda pula!”

“Kebetulan aja itu mati bareng, dek! Kan semua makhluk emang sudah dituliskan sejak masih benih atau telur, gimana kehidupannya nanti! Sampai kapan waktunya nyawa yang diberikan Tuhan masih disatukan dengan raganya! Jadi ya nggak usah heran gitulah, dek! Segera aja diambil terus dibuang!”

“Adek masih penasaran aja sama kasus matinya dua ekor burung bersamaan ini, mbak! Kan dulu-dulu juga sering piaraan kita mati ngedadak kayak gini! Ikan sekolam tau-tau mati semua dengan kondisi mata terbelalak! Ayam jago ndadak ambruk dan mati abis berkokok!” kata Gilang.

“Adek, ada hal-hal yang bisa kita diskusikan dengan akal pikiran, tapi banyak hal pula yang nggak bisa kita cari solusinya dengan memeras otak sekalipun! Urusan mati misalnya, nggak bisa kita pikirin kenapa sore kemarin burung-burung kampung itu masih berkicau dengan kekhasan masing-masing, kok paginya sudah tergeletak, mati! Mau kita kancah kayak mana juga nggak ketemu! Karena kematian itu satu rahasia yang hanya Tuhan saja bisa membuka tabirnya! Malaikat pun taunya hanya mendapat perintah! Nggak bisa dia mengeksekusi tanpa perintah Tuhan! Jadi, kisah matinya burung-burung ini nggak perlu dipikirin amat!” tutur Dinda.

“Iya sih, mbak! Kalo sudah dilariin kesana, ya semua tergantung Tuhan aja! Tapi kita kan tetep boleh untuk memikirkannya! Barangkali emang lagi ada penyakit flu burung! Jadi kita bisa antisipasi dengan ikhtiar membeli penangkalnya! Meningkatkan kebersihan kandang, yang selama ini dua hari sekali disemprot dengan air, bisa diubah jadi sehari sekali! Makanannya juga, barangkali tempat belinya di kios yang nggak biasa tempat beli! Kan nggak salah juga kalo kita memikirkan hal-hal begituan, mbak!”

“Pinter emang adek mbak ini! Apa yang adek bilang nggak salah! Kita emang harus tau mana yang masih jadi urusan manusia dan mana yang kepunyaan Tuhan saja! Memahami dan menjalani keterbatasan-keterbatasan itu yang nggak mudah, dek! Diperlukan pengetahuan yang sepadan, keluasan pikiran dan jiwa, juga kesadaran bahwa kita semua hanyalah makhluk-Nya!”

“Jadi ngeliat burung mati ngedadak ini harusnya kita juga sadar diri ya mbak, kalo bisa kapan aja kita senasib dengan hewan itu?!” ucap Gilang.

“Iya, batin kita harus dibawa ke arah sana, dek! Bahwa segala sesuatu yang bernyawa pasti akan mati! Itu penegasan Tuhan dan nggak bisa diingkari! Lahiriyah kita adalah berikhtiar agar ketika hal tersebut datang, kita bisa khusnul khotimah! Mendapati akhir kehidupan yang baik! Caranya ya kita harus berupaya untuk selalu berbuat baik dan benar! Walo nggak bakal sempurna kebaikan dan kebenaran yang kita lakukan itu! Kita juga mesti jalani kehidupan yang penuh proses ini dengan keteguhan hati!” kata Dinda.

“Kok urusan burung mati aja mbak bawa ke soal-soal yang berat sih? Adek jadi nggak mudeng kalo mbak sudah ngomong bergaya filsafat gitu!” sela Gilang.

“Adek, apapun yang terjadi itu harus kita ambil hikmahnya! Karena tak ada apapun peristiwa di bumi dan di langit yang kebetulan aja! Jadi kita harus menilainya dari sisi positifnya, bukan negatifnya! Dengan begitu, hari-hari yang kita jalani akan selalu diwarnai hikmah untuk terus menuju kebaikan! Walo nggak bakalan ada manusia yang sempurna! Justru dalam kesadaran akan ketidaksempurnaan itulah kita perlu orang-orang lain! Karena saat mati pun, kita tetep memerlukan orang lain, setidaknya untuk membawa ke pemakaman dan menguburkannya! Wong burung yang mati tergolek di kandang aja masih butuh kita buat ambil dan buang bangkainya kok! Gituka, dek? Ya sudah sana berangkat sekolah!” kata Dinda sambil mengantar Gilang ke mobil untuk berangkat sekolah. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *