Beda Ekspresi

SEJAK sampai rumah siang tadi hingga waktu makan malam, Dinda mengurung diri di kamar saja.

“Mbak, diajak makan malam! Buka pintunya dong!” kata Gilang sambil mengetuk-ketuk pintu kamar Dinda.

Tak lama Dinda membuka pintu kamarnya. “Mbak males makan, dek!” ucapnya.

“Waktunya makan ya makan dong, mbak! Jangan lewat gitu aja, ntar malah kena magh lo!”

“Lagi nggak pengen makan, dek! Gimana dong?”

“Memangnya ada apa, mbak?” tanya Gilang.

“Mbakagi kesel aja, dek! Tadi di kelas, ada kawan yang ngekpresiin keselnya sampai ngebanting kursi! Mbak jadi trauma! Kan nggak pernah mbak liat aksi kekerasan kayak gitu!” kata Dinda.

“Oh gitu, mbak! Emang kenapa sampai segitunya ya ngekpresiin keselnya?!”

“Karena dia nggak terpilih jadi tim kesenian yang mau tampil di ajang nasional bulan depan, dek! Dia ngerasa sudah latihan maksimal, kemampuannya juga oke, cuma sama tim penilai sekolah, nggak dipilih!”

“Ya wajar kalo kecewa, mbak! Emang kalo kita merasa sudah berusaha maksimal terus apa yang kita mauin nggak kesampean ya pasti kecewa! Cuma cara ngekspresiinnya itu yang beda-beda, mbak!”

“Ya itulah, dek! Dia kan langsung ngamuk-ngamuk di kelas! Kursi dibantingin! Sambil marah-marah! Temen-temen sekelas pada ketakutan, termasuk mbak! Nah, itu jadi kepikiran terus sama mbak! Kayaknya jadi trauma deh!”

“Mbak bawa tenang dong! Emang dalam ekspresiin sesuatu, setiap orang beda-beda, mbak! Karena kita makhluk sosial, yang punya pergaulan, tentu akan temukan beragam gaya orang! Itulah seninya kehidupan, jangan malah ngebuat kita nggak nyaman, mbak!”

“Ya mbak takut aja dengan kejadian tadi, dek! Jadi masih sering kebayang aja!” ucap Dinda.

“Mbak yang tenang ya?! Hal-hal kayak gitu akan banyak mbak temui dalam perjalanan kehidupan! Tapi teteplah kita dengan karakter diri sendiri ya, mbak?! Jangan meniru ekspresi orang, apalagi yang membawa suasana kekerasan!” kata Gilang.

“Gitu ya, dek! Jadi kita harus tetep teguh dengan kepribadian kita ya dalam ekspresiin perasaan hati!”

“Iya, harus gitu, mbak! Karena itu juga bisa dinilai orang sekuat, setegar dan sedewasa apa kita dalam menyikapi kejadian-kejadian yang tak mengenakkan!”

“Misalnya kayak mana, dek?!”

“Misalnya, Neymar si pemain bola hebat itu, waktu dikasari temennya saat latihan, langsung ngamuk, mbak! Bahkan karena amarahnya nggak tuntas, dia ninggalin lapangan gitu aja! Beda dengan Messi! Dia kan juga pemain bola yang hebat! Waktu di-tackling temennya saat latihan, kekeselannya diekspresiin dengan nunjukin kemampuannya melewati beberapa pemain dan nendang keras-keras bolanya ke gawang! Keduanya sama-sama pemain bola yang hebat, mbak! Ngekspresiin kekeselannya berbeda! Orang bisa langsung menilai bagaimana karakter keduanya!” jelas Gilang.

“Iya juga ya, dek?! Dari cara ekspresiin kekeselan aja bisa dinilai karakter seseorang ya?! Nah, gimana kalo temen deket kita sendiri yang malah ‘ngopok-in’ kita di belakang, dek?! Ngebeberin semua kejelekan kita, sampai-sampai kayak kita ini nggak ada bagusnya lagi!” kata Dinda.

“Ketawain aja, mbak! Nggak usah ditanggepin! Temen yang sukanya ‘ngopok-in’ kita di belakang itu pada hakekatnya karena dia iri dan dengki sama kita! Dibalik itu, orang yang jadi tempat dia ‘ngopok-in’ juga bisa menilai karakter dia! Kan yang nggak bagus di mata orang malah yang “ngopok-in’, mbak?!” sela Gilang.

“Tapi kan kadang kesel juga dengernya, dek! Apalagi kalo itu temen deket!” kata Dinda.

“Ekspresiin kekeselan itu dengan senyum atau ketawa aja, mbak! Kan ngebuat hati yang nyesek jadi cair lagi! Sekarang ini, pandai-pandai kita menata hati sendiri adalah hal yang prioritas, mbak! Karena diluaran sana banyak orang yang berkeliaran tanpa menggunakan hati dan perasaan!” lanjut Gilang sambil mengajak Dinda ke meja makan untuk makan malam. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *