1 views

Komentator

MELIHAT Gilang sejak tadi ngebolak-balik channel tv, Dinda langsung bereaksi: “Ngapain sih, dek? Kalo mau nonton jangan gonta-ganti gitu dong!”

“Adek emang mau nonton, mbak! Tapi masih ngomong terus orangnya! Βelum main-main juga!” sahut Gilang.

“Emang yang mau adek tonton itu apa?!”

“Mau nonton pertandingan bola, mbak! MU lawan Chelsea! Tapi dari tadi masih belum main-main! Masih orang ngomong aja!”

“Itu namanya komentator, dek! Orang yang ngomong terus saat mau ada pertandingan atau selama pertandingan itu disebut komentator! Masak gitu aja nggak tau!” ujar Dinda.

“Oh gitu ya sebutannya, mbak! Tapi tadi di-tv ditulis pengamat bola, bukan komentator!”

“Yang terkenal itu disebutnya komentator, dek! Kalo pengamat itu sudah sebutan kekinian!”

“Kerjaannya cuma ngomong doang ya, mbak! Ngulas-ngulas aja ya?!”

“Ya emang cuma ngomong, dek! Kasih komentar dengan segala prediksi versi dia aja!” kata Dinda.

“Emang komentator itu jago main bola juga ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Nggak selalu, dek! Bahkan jangan-jangan banyak yang nendang bola aja nggak bisa! Tapi dia punya keahlian dalam analisis permainan sepakbola!”

“Kok bisa ya, mbak? Orang nggak tau main bola tapi komentarin bola?!”

“Kan nggak ada persyaratan jadi komentator bola harus pernah jadi pemain bola, dek! Yang penting dia paham dunia bola! Khususnya lagi tim-tim yang mau bertanding! Modal itu aja cukup, dek! Ditambah analisis-analisis yang semuanya serba kemungkinan!” urai Dinda.

“Unik juga ya dunia komentator itu, mbak? Adek baru tau!” aku Gilang, terus terang.

“Aduh, kemana aja adek selama ini, kok baru tau dunia komentator?! Itu aktivitas orang-orang berinovasi tinggi, berkemampuan membangun keyakinan orang dan punya keberanian melontarkan pikiran-pikirannya sendiri tanpa punya resiko apapun, dek! Belakangan ini banyak yang menjadi komentator atau pengamat sebagai profesi karena tak mengandung resiko apapun atas apa yang diomongkannya, dek!”

“Maksudnya, kalo misalnya komentator itu memprediksi MU menang tapi nggak taunya Chelsea yang menang, dia nyantai-nyantai aja ya, mbak?!”

“Ya iyalah, dia nyantai-nyantai aja, dek! Paling juga dia bilang: inilah sepakbola, tidak bisa diprediksi, karena bolanya bundar, apa saja bisa terjadi! Itu kebiasaan komentator bola kalo omongannya nggak sesuai dengan akhir pertandingan, dek!” ucap Dinda.

“Iya juga ya, mbak! Adek pernah denger omongan kayak gitu! Makanya adek bolak-balik channel tv ini karena males ngedenger omongan si komentator itu! Nanti aja kalo sudah main, baru adek mantepin channel tv-nya!”

“Selama pertandingan, komentatornya akan ngomong terus, dek! Kalo pemain salah nendang, dia akan kasih tau mestinya tadi dioper dan lain-lain! Yang adek perlu tau, komentator itu sekarang merambah ke dunia apa aja! Jadi nggak usah heran kalo lebih banyak orang pinter ngomong, mengkritik, menyalah-nyalahkan, nunjukin kalo dia yang paling paham, paling bisa berbuat dan sebagainya!”

“Oh gitu ya, mbak?! Kacau juga ya kalo komentator merambah semua sisi kehidupan?! Apalagi kalo omongannya selalu dilandasi dengan pikiran-pikiran dan pandangan negatif aja! Orang sudah berbuat baik dan bener aja pasti dibilang salah dan kurang baik terus ya, mbak?!” kata Gilang.

“Itulah kehidupan kita saat ini, dek! Sesuai perkembangan zaman, disadari atau tidak, anak-anak bangsa sudah membentuk dirinya sebagai komentator! Bukan pelaku dan pembuat strategi kemajuan!”

“Jadi gimana biar kita tidak terjebak dalam dunia komentator itu, mbak?!”

“Kembali pada wujud fisikal kita aja, dek! Kita dikasih Tuhan kan dua telinga dan satu mulut! Itu artinya, kita disuruh lebih banyak mendengar ketimbang bicara! Mendengar yang baik-baik! Menghindari suara-suara yang tidak baik! Bicara yang baik-baik! Tidak bicara mengenai yang tidak baik! Dengan begitu, dunia komentator akan menjadi lahan kehidupan yang bergengsi dan penuh tanggungjawab! Bukan tempat orang menyalah-nyalahkan, meremehkan atau menyudutkan! Karena sesungguhnya, apapun profesi kita, mengandung nilai kebaikan buat sesama!” tutur Dinda. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *