4 views

Dan, Tuhan pun Ikut Tersenyum

SETELAH hadiri acara silaturahmi antara seluruh siswa dan orangtua di sekolahnya, siang kemarin, Dinda pulang dengan wajah cerah ceria.

“Sukses acaranya ya, mbak?!” sapa Gilang saat Dinda masuk ke rumah.

“Alhamdulilah, berkat doa adek! Sukses dan suasananya guyup! Penuh kekeluargaan! Enak bener!” sahut Dinda sambil melepas senyum.

“Alhamdulilah! Mbak kayaknya juga seneng banget ya?!”

“Ya iyalah, dek! Sebagai ketua panitia acara itu, tugas mbak kan nggak ringan! Berkat kerja sama yang baik dengan seluruh panitia, alhamdulilah, semuanya berjalan lancar dan sukses! Semua yang hadir semringah! Bahkan kata kepala sekolah, melihat meriah dan suksesnya acara penuh kekeluargaan itu, Tuhan pun ikut tersenyum!” urai Dinda.

“Sampai segitunya ya mbak apresiasi kepala sekolah! Syukurlah, mbak!” sahut Gilang sambil acungkan jempol buat Dinda.

“Mbak sendiri juga plong, dek! Bukan saja sebagai ketua panitia tapi sebagai pribadi yang kebetulan sekarang jadi ketua kelas, mbak sempet ketemu dan ngobrol terbuka dengan kakak kelas yang dulu pernah jadi ketua kelas!” kata Dinda.

“Emang sebelumnya kenapa, mbak?!” tanya Dinda.

“Sebelumnya kan kakak kelas yang mantan ketua kelas itu sering salah tanggep atas apa-apa program yang mbak buat! Bahkan sering nyampein kritik secara terbuka dengan asumsi-asumsi yang mbak tau berdasarkan informasi yang tidak akurat!”

“Maksud informasi yang nggak akurat itu kayak mana, mbak?!”

“Misalnya, mbak kan nggak ngelanjutin salah satu program kakak kelas itu! Nah, informasi soal alasannya nggak pernah sesuai dengan apa yang jadi dasar mbak nggak prioritasin program tersebut! Begitu juga hal-hal lain! Akibatnya, kakak kelas itu nganggep kalo mbak nggak bisa jadi pelanjut perjuangan yang bagus! Sudah gitu, banyak temen-temen yang kerjaannya manas-manasin terus!” jelas Dinda.

“Terus gimana, mbak?!” sela Gilang.

“Ya akhirnya ngebuat hubungan psikologis antara mbak sama mantan ketua kelas itu kesannya jadi nggak harmonis! Tapi pas ketemuan di acara tadi, kami bicara empat mata! Blak-blakan aja, dek!”

“Terus, setelah mbak ceritain semuanya, gimana respon dia?!”

“Alhamdulilah, dek! Kakak kelas itu akhirnya memahami dan ngerti betul kenapa mbak ambil langkah-langkah, termasuk nggak prioritasin program unggulannya dulu itu! Bahkan dia merespon baik apa yang mbak lakuin! Dan nyadari kalo selama ini informasi yang sampai ke dia hanya sepotong-sepotong!” kata Dinda.

“Kalo nurut mbak, kenapa selama ini cuma sepotong aja informasi yang sampai ke kakak kelas itu?!”

“Ya nggak tau, dek! Kan siapa aja bisa kasih informasi!”

“Kejadian kayak gini harus mbak jadiin evaluasi juga lo! Kan nggak mungkin mbak sendiri yang selalu harus jelasin hal-hal strategis pada setiap orang dikala ada yang mempertanyakan! Disini mbak perlu jubir yang handal! Yang bukan saja tau gimana alur pikir dan program-program mbak, tapi juga paham bener dengan karakter mbak!” Gilang beri saran.

“Bener, dek! Mbak juga sadar akan perlunya evaluasi untuk perbaikan ke depannya itu! Yang pasti, sekarang mbak juga sudah plong! Karena semua kesalahpahaman akibat informasi sepotong sudah bisa terurai! Benar kata kepala sekolah tadi, melihat sudah nyatunya apa yang mbak ambil dan pahamnya mantan ketua kelas; Tuhan pun ikut tersenyum!” ucap Dinda dengan wajah sumringah.

“Iya bener itu, mbak! Tapi yang mbak jangan lupain, mbak juga harus makin tau kapan mbak perlu tangani langsung dan mana yang bisa diwakili! Agar senyum bahagia Tuhan itu tidak berubah menjadi senyum yang kecut!” kata Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *