5 views

Nonton Drama Petani Jagung

TIDAK biasanya Gilang bisa terpaku saat menonton pagelaran drama, seperti kali ini. “Asyik ni ye?!” Dinda menggodanya. Gilang cuek saja.

Selepas menonton drama kolosal bertajuk Petani Jagung itu, sambil pulang ke rumah, Dinda bertanya: “Nggak biasanya begitu khusu’ nonton dramanya, dek?!”

“Ceritanya bagus, mbak! Bener-bener menyentuh langsung ke urat nadi kehidupan rakyat kebanyakan! Adek suka!” kata Gilang.

“Melankolis dan sentimentil bener adek sekali ini! Apanya yang adek suka sih?!”

“Ya runtutan ceritanya, alurnya mengalir dengan alamiah! Ending-nya pun mengesankan!”

“Wah, sudah kayak orang yang bener-bener penikmat lakon drama aja, adek ini! Ending-nya yang nurut mbak kurang pas, dek?!” ujar Dinda.

“Lho, kenapa, mbak? Kan wajar aja kalo bos pemilik perusahaan penyuplai jagung meraup untung! Bahkan nggak haram kalo pun mau dapet untung sebanyak-banyaknya!” sahut Gilang.

“Ya emang wajar aja sih, dek? Namanya juga orang bisnis! Tapi mbok ya ada tepo seliro! Mbok ya ngertiin orang-orang yang secara langsung dan nggak langsung ikut ngebesarin usahanya itu! Nggak usahlah dikasih cipratan keuntungannya, minimal dibantu-bantu bensin aja kan nggak ada ruginya!” kata Dinda.

“Mbak, semua kan sudah ada garis tangannya! Di cerita drama tadi kan sudah gamblang siapa yang punya hak kucurin bantuan benih jagungnya! Siapa yang nerima kucurannya, pada siapa aja dikucurin! Jadi semua sudah ada peran masing-masing! Ya kalo pengusahanya yang dapetin keuntungan finansial, wajar-wajar aja! Wong emang dia bisnis! Bukan kerja sosial!”

“Mbak paham, dek! Yang namanya pebisnis ya keuntungan itulah targetnya! Tapi mbok ya ada jugalah pikiran untuk bertenggangrasa, untuk bersosial juga! Usahanya itu kan nyangkut kehidupan rakyat kebanyakan, yang harus dibantu untuk juga bisa berkehidupan layak! Mbok ya sih ada pengertianlah!” ucap Dinda.

“Mbak, soal pengertian itu terserah pada personalnya! Nggak ada aturan yang mengatur soal itu! Sudah bagus si pengusaha itu mau terjun ke bidang benih jagung yang emang dibutuhin rakyat kebanyakan! Itu juga sudah nunjukin kepedulian dan keberpihakannya pada rakyat kebanyakan! Soal pengusahanya mau bantu-bantu lagi atau nggak, ya itu urusan dia-lah! Nggak bisa kita ngarepinnya, apalagi memaksanya, mbak!” kata Gilang.

“Jadi maksud adek, yang penting usahanya bisa ngebantu rakyat, selesai! Gitu ya?!”

“Ya iyalah, mbak! Kita mesti liat apa manfaat dari usahanya itu buat kebanyakan petani! Cukup disitu aja kita melihatnya! Nggak usah dikembang-kembangin perlunya sang produsen benih jagungnya untuk juga ngebantu-bantu! Itu sudah urusan lain!”

“Jadi yang penting rakyat sudah terbantu, gitu ya?!”

“Ya iyalah, mbak! Ngapain kita ngopeni sang pengusahanya! Semua kita kan sudah ada lelakonnya! Dan itu nggak bakal tertukar! Yang juga mbak perlu pahami, walo kita masing-masing punya peran, tapi tetep ada saling terkaitnya! Nah, dalam konteks inilah kita mesti harus bijak dalam menilainya! Nggak bisa serampangan! Karena apapun yang kita lakuin sesuai lelakon kita, nggak ada yang sia-sia!” kata Gilang lagi.

“Ya moga-moga aja petani jagung yang terbantukan oleh produk sang pengusaha itu nantinya bisa panen melimpah ya, dek?!” tutur Dinda.

“Nah, perkataan mbak itu terasa lebih nyejukin! Terasa ada optimisme buat perbaikan kehidupan rakyat kebanyakan ke depannya! Kita kan nggak tau mbak, kalo suatu saat dari petani jagung yang sekarang dibantu itu akan lahir pengusaha jagung yang hebat dan tetep merakyat! Mencari pengusaha besar yang tetep merasakan denyut nadi rakyat kebanyakan itu yang sulit sekarang ini, mbak! Apalagi kalo nggak ada kedalaman batin dalam merasakan kehidupan rakyat kebanyakan di daerah ini!” ujar Gilang sambil tersenyum kecut. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *