Malas Mikir

SELEPAS mengikuti upacara perayaan HUT ke-72 Kemerdekaan RI di sekolahnya, Gilang tak ada cerita. Padahal biasanya, seusai ikuti acara apapun, dia akan berceloteh dengan sendirinya walau tak ditanya.

Karena penasaran, Dinda pun bertanya: “Kok nggak ada cerita apa-apa abis ikut upacara kemerdekaan, dek?”

“Ya nggak ada yang pantes diceritain, mbak! Jadi ya mau cerita apa?!” sahut Gilang.

“Yah, cerita apa gitu kek, dek! Yang nurut adek nggak ada yang pantes diceritain itu kan sebenernya juga cerita?! Lagian, upacaranya kan memperingati ulang tahun kemerdekaan, ya pantes-pantes ajalah diceritain!”

“Mbak kan sudah tau, dari tahun ke tahun, upacaranya ya gitu-gitu aja! Nggak ada kreasi barunya! Ritual monoton yang melelahkan aja!”

“Tapi kan pasti ada aja yang menarik buat diceritain sih, dek?! Misalnya ada pentas seninya?!”

“Ya kan setiap tahun juga pasti ada pentas seninya, mbak! Cuma beda tema sama yang main doang!”

“Kok adek kesannya jadi apatis gitu sih? Emang kenapa?!” ucap Dinda.

“Jujur ya, mbak! Adek ini sering bingung lo, kok ngadepin HUT RI itu kalangan pemerintahan jarang yang punya kreasi ya? Nggak ada beragam acara yang nunjukin kemeriahan kemerdekaan kayak di kampung-kampung ya? Padahal kan dananya ada, sumber daya manusianya ada, yang ngejalanin pemerintahan sebagai wujud dari kemerdekaan kita kan para pejabat yang pinter-pinter, yang pastinya punya kreativitas tinggi untuk melahirkan ide-ide cemerlang! Tapi kok dari tahun ke tahun, makin sepi aja kegiatan-kegiatan di kantor-kantor pemerintahan! Bahkan kata guru adek tadi, pejabat yang ikut upacara juga cuma sedikit, itu juga banyak yang ngobrol antar sesama aja! Anehkan, mbak? Kenapa bisa kayak gitu ya?!” urai Gilang.

“Yang adek omongin itu sebenernya juga sudah jadi omongan banyak orang, dek! Bahkan ada warga yang menilainya sampai kebangetan kritisnya! Warga itu bilang sekarang ini para pejabat malas mikir untuk kemajuan dan kemeriahan kantornya! Kebayangkan, kalo buat ngeramein kantornya nyambut ulang tahun kemerdekaan aja sudah malas, gimana mau mikirin kemajuan rakyat yang jadi tanggungjawabnya!” sela Dinda.

“Kok bisa ya jadi malas mikir gitu, mbak?!”

“Ya bisalah, dek! Banyak faktor yang mempengaruhinya! Salah satunya, mungkin, selama ini sudah banyak ide yang disampein ke atasannya, ditolak tanpa arahan! Buat acara yang tanpa disetujui atasan, malah dimarah! Lama-lama kan orang juga jadi mikir; buat apa berkreasi kalo akhirnya malah disalah-salahin! Nah, lambat laun, terbangunlah suasana malas mikir itu, dek! Dan kondisi kayak gini sudah jadi penyakit di kalangan pejabat sekarang!”

“Jadi sudah kronis dong mental para pejabat sekarang ini, mbak?!” kata Gilang.

“Dari kacamata kreativitas dan memaksimalisasi pemikiran, bisa dibilang begitu, dek! Yang penting mereka masuk kerja, jalanin rutinitas aja! Sudah malas berpikir buat pengembangan program-program kerakyatan dan sebagainya! Ini lebih aman ketimbang melontarkan ide, melakukan kreativitas tapi malah disalah-salahkan!”

“Wah, bahaya kondisi ini, mbak! Gimana rakyat bisa berharap banyak ke kinerja pemerintahan kalo pejabatnya aja sudah malas mikir?!”

“Bagi orang-orang yang paham perlunya kreativitas dalam pengembangan kerja-kerja pemerintahan yang berdampak langsung untuk kepentingan rakyat, situasi semacam ini memang sudah masuk kategori bahaya, dek! Tapi bagi pejabat yang lebih ngutamain keenakan pribadinya, ya malah bersyukur! Dia nggak perlu capek-capek mikir, yang penting ikut aja apa maunya atasan! Walo sebenernya, banyak maunya atasan yang tidak produktif bagi kinerja pemerintahan! Semangat asal bapak senang alias ABS itulah yang makin menggila saat ini! Dan suasana semacam ini, sesungguhnya, diketahui dan ditonton oleh rakyat! Ironisnya, yang jadi tontonan nggak juga sadar akan posisinya! Karena dia juga sudah terkena penyakit; malas mikir!” tutur Dinda lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *