1 views

Panjat Pinang

SORAK sorai ratusan warga yang penuh histeria keceriaan saat menonton aksi panjat pinang di lapangan bola, kemarin sore, sama sekali tidak membuat Dinda merasa terhibur. Ia bahkan berdiam seribu bahasa dengan wajah muram.

“Mbak, kok diem aja sih? Suasananya lagi seru kayak gini kok malah murung?!” tegur Gilang.

“Mbak sedih aja, dek! Kok ya bisa-bisanya kita semua ketawain orang-orang yang berebutan manjat pinang licin beroli untuk sekadar dapet hadiah kaos, seperangkat alat sekolah dan kipas angin kecil gitu! Kok tega-teganya semua kita bersukacita ngeliat kayak ginian!” ucap Dinda.

“Ya kan panjat pinang ini emang hiburan rakyat setiap kali memeriahkan HUT RI, mbak! Wajar aja kalo semua bersukacita! Malah aneh kalo mbak murung sendirian gini!”

“Mbak tau kalo kegiatan panjat pinang kayak gini emang sudah tradisi kita saat peringati hari kemerdekaan, dek! Acaranya ya untuk rame-rame aja! Pesta rakyatlah istilahnya! Tapi mbak prihatin aja, karena ternyata adanya panjat pinang ini sengaja dibuat Belanda waktu ngejajah kita dulu untuk mereka ngetawain pribumi! Kita nggak sadari itu, dek!”

“Maksudnya gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Nurut sejarahnya, panjat pinang itu asal muasalnya emang permainan untuk hiburan dalam moment-moment tertentu di Belanda sana, dek! Namanya deklimmast yang artinya panjat tiang! Nah, waktu mereka ngejajah kita, dikenalkanlah permainan itu! Mereka terhibur dengan adanya orang-orang pribumi berebutan hadiah dan rela saling injak tersebut! Jadi, permainan ini cara mereka melecehkan kita kaum pribumi waktu itu, dek! Soal ini ada di Museum Tropen Belanda! Maka mbak nggak bisa ikutan sukacita nonton panjat pinang ini, sebab mbak tau sejarah dan alurnya!” jelas Dinda.

“Oh gitu ya, mbak?! Tapi kan acara panjat pinang ini sudah mentradisi selama ini, dan ngebuat rakyat bisa bersuka ria saat peringati HUT RI! Jadi gimana dong?!” sela Gilang.

“Ya nggak apa-apa, dek! Toh dengan acara begini rakyat bisa senang dan sesaat melupakan kesusahannya! Cuma, karena mbak tau asal-usul permainan ini jadi mbak nggak bisa ikut sukacita! Mbak malahan nelongso!”

“Lagian kan praktik berpola panjat pinang yang saling injak, saling dorong, saling sikut itu sudah biasa terjadi di berbagai sisi kehidupan masyarakat kita sekarang ini, mbak?!” ucap Gilang.

“Maksudnya yang kayak mana, dek?” tanya Dinda.

“Ya kan sudah lumrah aja selama ini orang melakukan pola menginjak, mendorong bahkan menyikut untuk dia bisa naik dan dapat posisi! Itu nunjukin kalo gaya panjat pinang sudah terpolarisasi ke kebanyakan orang, mbak?!”

“Ya itulah, dek! Mestinya sekarang ini, di usia republik yang sudah 72 tahun, kita sebagai anak-anak bangsa bisa merelokasi diri dan berprilaku yang benar-benar sesuai adat budaya bangsa sendiri! Bukan malahan menumbuhsuburkan gaya berkehidupan yang tidak sesuai dengan citra diri bangsa kita yang penuh tepo seliro, santun, dan keramahan! Kita layak prihatin dengan makin meruyaknya gaya permainan panjat pinang yang merasuk ke semua sendi kehidupan anak bangsa! Dan dalam keprihatinan untuk perbaikan ke depan yang lebih baik itulah hendaknya kita semua menatap masa depan!” tutur Dinda seraya mengajak Gilang meninggalkan lapangan yang masih riuh dengan sorak sorai warga menyaksikan atraksi panjat pinang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *