10 views

Menanam Itu: Cucuk Cabut

PETANG kemarin Dinda mengajak Gilang melihat tanaman cabai di sudut halaman rumah. “Lho, kok layu semua gini ya? Bakalan mati lagi deh tanaman mbak!” ucap Dinda.

“Wajar aja layu gitu, mbak! Selama ini kan nggak pernah mbak rawat! Nggak pernah mbak sirami kalo sore hari!” sahut Gilang.

“Sering kok mbak sirami, dek! Mbak rawat juga kok! Lagian ini kan sudah tanaman yang kelima, jadi mbak sudah pengalamanlah nanganinya, dek!”

“Oh, ini taneman cabe mbak yang kelima ya? Terus sebelum-sebelumnya gimana mbak?!”

“Sebelumnya pada mati semua, dek! Tau-tau, pas mbak liat batangnya sudah kering! Wassalam!” kata Dinda sambil nyengir.

“Berarti mbak yang salah kalo gitu?! Ngerawatnya nggak bener!”

“Mbak sudah usaha maksimal sebenernya, dek! Tapi dasar tangan mbak nggak bagus aja kali buat nanem-nanem!”

“Ah, itu alasan aja, mbak! Jangan bilang tangan kita nggak cocok buat bercocok tanam, karena sebenernya nggak ada yang salah sama tangan kita! Yang salah itu cara kita ngerawat setelah menanamnya, mbak! Emangnya apa usaha yang mbak bilang sudah maksimal ngurus taneman cabe-cabe ini?!” tutur Gilang.

“Waktu itu kan ada yang mulai layu, agak nggak seger, terus mbak cabut, dek! Mbak cucukin lagi atau mbak tanem lagi di sebelah tempat sebelumnya! Terus mbak siramin!”

“Hasilnya gimana, mbak?!”

“Alhamdulilah, dek! Jadi seger lagi! Tumbuh lagi tunas-tunas daunnya!”

“Kok sekarang layu lagi, kenapa mbak?!”

“Ya mungkin tanahnya nggak cocok, dek!” ujar Dinda.

“Nah, mbak makin kebablasan aja! Tadi nyalahin tangan yang nggak cocok buat bercocok tanam, sekarang nyalahin tanah! Yang pasti bukan urusan tangan atau tanahnya yang nggak cocok, mbak! Tapi cara ngerawatnya yang nggak disiplin! Mbak kan nggak selalu rutin nyiraminnya! Ngawasinnya siapa tau ada hama!” kata Gilang.

“Tapi kan sebelum mati, mbak sudah cabut tanemannya dan mbak cucukin di tempat lain lagi, dek! Itu kan salah satu cara agar apa yang mbak tanem bisa tumbuh! Kalo soal nyiraminnya atau ngawasinnya, iya sih emang mbak sering lupa!”

“Ya itu sebenernya yang jadi pangkal masalahnya, mbak! Ngerawatnya itu yang nggak disiplin dilakuin! Akibatnya, walo mbak sudah praktikkan cucuk cabut, tetep aja akhirnya taneman mbak layu dan kering yang akhirnya mati!”

“Tapi bener kan langkah mbak dengan cucuk cabut dalem menanem itu, dek?” tanya Dinda.

“Dalem konteks ini ya sudah bener, mbak! Itu salah satu usaha agar taneman yang mulai meranggas bisa diselamatkan! Masalahnya, kalo hal itu nggak diikuti dengan proses perawatan yang baik, ya sama aja boong, mbak! Pada akhirnya ya bakal layu dan mati juga tanemannya!” ucap Gilang.

“Jadi, menanam itu harus disiplin dalam merawatnya ya, dek! Nggak bisa cuma dicabut dari tempat semula kalo mulai layu dan dicucukin ke tempat baru ya?!”

“Ya gitu yang bener, mbak! Dan yang lebih bener lagi, sekali dicucukin ditangani dengan perawatan yang baik! Jadi nggak perlu dicabut untuk dipindah ke tempat lain! Sebab, hakekat menanam itu ya merawat! Nyiramin, nyiangin dan kasih obat penangkal hama! Hal ini yang sering disepelekan!” kata Gilang sambil membantu Dinda mengambilkan air untuk menyirami tanaman cabainya yang mulai layu. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *